RADARSOLO.COM - Dwi Hartono, yang diduga sebagai otak intelektual di balik penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu (Kacab) bank BUMN di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Mohamad Ilham Pradipta, ternyata benar-benar lihai memoles dirinya.
Sosok yang selama ini dikenal sebagai motivator yang dermawan dan pemilik bimbel online itu ternyata menyimpan rekam jejak kelam sejak belasan tahun lalu.
Jejak Hitam Sejak 2012
Pada 2012, pria yang juga dikenal dengan nama Feri itu pernah ditangkap Polrestabes Semarang karena kasus pemalsuan ijazah dan praktik joki masuk universitas.
Saat itu, ia kedapatan memanipulasi ijazah dan nilai calon mahasiswa agar bisa lolos masuk Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
“Melalui bimbingan belajar Smart Solution, dia bisa mengubah ijazah IPS menjadi IPA. Bahkan ada paket masuk universitas dengan biaya ratusan juta rupiah,” ungkap Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan dalam jumpa pers pada 2012 silam.
Berdasarkan penelusuran pemberitaan pada tahun 2012, kasus itu terbongkar setelah polisi menerima surat kaleng berisi daftar nama dan modus operandi Feri.
Surat tanpa identitas pengirim tersebut turut mengungkap cara pelaku menawarkan jasa pemalsuan ijazah.
Bagi calon mahasiswa yang ingin masuk lewat jalur belakang, mereka diminta membayar biaya paket yang berkisar antara Rp100 juta hingga Rp500 juta.
Dari hasil penyelidikan, terungkap Dwi alias Feri ternyata tak hanya memalsukan dokumen, tapi juga menyediakan jasa joki tes masuk universitas.
Para joki itu bahkan menggunakan jam tangan pintar untuk mengirim jawaban soal ujian kepada calon mahasiswa.
Meski sempat ada upaya dari pihak kampus mencabut laporan, polisi menegaskan kasus tersebut merupakan pidana murni sehingga tetap diproses hukum.
Dari Motivator Dermawan ke Otak Pembunuhan
Bertahun-tahun setelah kasus itu mereda, Dwi Hartono tampil dengan citra baru.
Ia dikenal sebagai pengusaha sukses, dermawan, sekaligus motivator yang kerap berbagi inspirasi.
Namun topeng kebaikan itu runtuh setelah polisi menetapkannya sebagai otak di balik pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta, Kacab bank BUMN di Jakarta.
Tim Jatanras Polda Metro Jaya menangkap Dwi di Solo pada Sabtu (23/8/2025).
Ia diduga menyewa kelompok debt collector untuk menculik dan menghabisi nyawa Ilham. Para eksekutor lapangan juga sudah berhasil diamankan.
“DH merupakan salah satu aktor intelektual penculikan,” tegas Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary, Selasa (26/8/2025).
Motif Balas Dendam karena Pinjaman Ditolak?
Sejauh ini, polisi masih mendalami dugaan motif penculikan dan pembunuhan tersebut.
Dari informasi yang beredar, kasus itu diduga bermula dari masalah pinjaman fiktif senilai Rp13 miliar.
Dwi Hartono disebut-sebut mengajukan kredit melalui bank BUMN, namun ditolak langsung oleh Ilham yang kala itu menjabat sebagai Kacab.
Penolakan tersebut membuat Dwi diduga sakit hati hingga nekat merancang aksi balas dendam yang berujung pada penculikan dan pembunuhan keji.
Namun demikian, polisi menegaskan masih menelusuri lebih jauh motif dan aktor lain yang terlibat. “Motif sedang didalami,” jelas Ade Ary. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria