RADARSOLO.COM - Penetapan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan Chromebook membuat publik penasaran dengan perangkat teknologi ini.
Kejaksaan Agung menyebut proyek tersebut merugikan negara hingga Rp1,9 triliun dari total anggaran hampir Rp10 triliun.
Nama Chromebook mendadak ramai dibicarakan karena disebut-sebut sejak awal menjadi pilihan utama program digitalisasi sekolah di era Mendikbudristek Nadiem.
Bahkan, penyidik mengungkap bahwa sebelum resmi menjabat pada 2019, Nadiem sudah merancang skema penggunaan Chromebook sebagai sistem operasi tunggal untuk perangkat pendidikan.
Nadiem memimpin rapat daring melalui Zoom Meeting yang memerintahkan penggunaan Chrome OS untuk seluruh pengadaan laptop 2020–2022, meski kajian resmi tentang keunggulan Chromebook baru diterbitkan pada Juni 2020.
Uji coba sebelumnya pada 2018–2019 menunjukkan kendala efektivitas Chromebook, terutama terkait jaringan internet yang belum merata di Indonesia.
Meskipun demikian, arahan penggunaan Chrome OS tetap diberikan.
Apa Itu Chromebook?
Chromebook pada dasarnya adalah laptop seperti biasa, hanya perbedaannya adalah sistem operasi yang menggunakan ChromeOS, sistem operasi berbasis Linux buatan Google.
Dari laman Vizor, perangkat ini dirancang untuk bekerja optimal dengan koneksi internet, meski sejumlah aplikasi, seperti Gmail atau Google Docs, bisa tetap diakses secara offline.
Sejak 2017, semua Chromebook juga kompatibel dengan aplikasi Android, dan sebagian model bahkan bisa menjalankan aplikasi Linux.
Data pengguna otomatis tersimpan di Google Drive sehingga sangat mendukung konsep cloud computing.
Keunggulan Chromebook di Dunia Pendidikan
Chromebook dikenal dengan beberapa keunggulan yang membuatnya populer di sektor pendidikan:
- Harga lebih terjangkau dibanding laptop berbasis Windows atau MacOS.
- Bobot ringan sehingga mudah dibawa pelajar.
- Baterai tahan lama, bisa digunakan seharian tanpa perlu sering mengisi daya.
- Sistem operasi gratis dan terintegrasi dengan layanan Google.
Tak heran, sejak 2018 Chromebook mendominasi pasar perangkat pendidikan, khususnya di Amerika Serikat.
Pada 2018 saja, lebih dari 60% sekolah di AS menggunakan Chromebook untuk kegiatan belajar mengajar.
Meski sempat diuji coba pada 2018–2019, laporan menunjukkan ada kendala dalam penerapan Chromebook di Indonesia, terutama soal infrastruktur internet yang belum merata.
Namun, kebijakan tetap diarahkan agar perangkat berbasis ChromeOS itu digunakan dalam program pengadaan laptop untuk sekolah.
Popularitas di Pasar Global dan Kontroversi
Perjalanan Chromebook di pasar global dimulai pada 15 Juni 2011, saat Acer Inc. dan Samsung mulai memasarkan produk perdana mereka.
Setahun kemudian, tepatnya Mei 2012, hadir varian desktop bernama Chromebox.
Inovasi terus berlanjut, hingga Januari 2014 LG Electronics merilis perangkat all-in-one yang diberi nama Chromebase.
Popularitas Chromebook mendapat pengakuan internasional.
Pada Oktober 2012, kolumnis teknologi Simon Phipps menulis di InfoWorld bahwa Chromebook bisa jadi merupakan laptop berbasis Linux paling sukses yang pernah ada.
Antusiasme pasar pun terlihat jelas, di mana sepanjang Januari hingga November 2013 tercatat 1,76 juta unit Chromebook terjual melalui saluran bisnis di Amerika Serikat.
Dominasi perangkat ini makin terasa di sektor pendidikan.
Hingga Maret 2018, Chromebook tercatat menguasai 60% pangsa pasar komputer di sekolah-sekolah AS.
Namun, tidak lepas dari kontroversi. Pada April 2017, Electronic Frontier Foundation (EFF) menuduh Google memanfaatkan Chromebook untuk mengumpulkan data pribadi siswa, termasuk aktivitas pencarian internet, tanpa izin resmi dari orang tua mereka. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria