Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Apa Itu Blood Moon? Ini yang Terjadi di Balik Fenomena Bulan Darah pada 7-8 September 2025

Syahaamah Fikria • Jumat, 5 September 2025 | 20:39 WIB
Fenomena langit Blood Moon atau Bulan Darah.
Fenomena langit Blood Moon atau Bulan Darah.

RADARSOLO.COM - Fenomena langit langka kembali akan menghiasi jagat raya. Pada 7–8 September 2025, masyarakat Indonesia bisa menyaksikan gerhana bulan total yang populer dengan sebutan Blood Moon atau Bulan Darah.

Peristiwa ini akan membuat bulan yang biasanya berwarna putih abu-abu menjadi warna merah gelap hingga oranye kemerahan.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Blood Moon kali ini dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia, meski waktu puncaknya berbeda sesuai zona waktu.

Fenomena ini dipastikan akan menjadi momen astronomi yang paling ditunggu pecinta langit.

Lantas, apa arti Blood Moon atau Bulan Darah dan bagaimana bisa terjadi?

Apa Itu Blood Moon?

Blood Moon adalah sebutan untuk gerhana bulan total ketika bulan berada sepenuhnya dalam bayangan inti (umbra) bumi.

Gerhana bulan sendiri hanya terjadi ketika matahari-bumi-bulan benar-benar sejajar di bidang orbitnya.

Saat bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan gelap (umbra) bumi, ia tidak akan hilang dari pandangan, melainkan terlihat berwarna merah.

Warna merah ini muncul karena cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi.

Cahaya dengan frekuensi tinggi seperti biru dan ungu mudah terhambur oleh molekul udara, sementara cahaya dengan frekuensi rendah seperti merah dan oranye lebih mudah menembus atmosfer.

Cahaya merah yang dibelokkan atmosfer inilah yang jatuh ke permukaan bulan, membuatnya tampak kemerahan saat gerhana bulan total.

Mengapa Warnanya Bisa Berbeda?

Merujuk laman infoastronomy, tingkat kecerahan atau merahnya Blood Moon sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer.

Jika atmosfer bersih, bulan bisa tampak merah terang.

Namun, bila terdapat banyak debu, asap kebakaran hutan, atau abu vulkanik dari letusan gunung berapi, bulan justru terlihat lebih gelap atau cokelat kemerahan.

Itulah sebabnya setiap fenomena Blood Moon bisa tampak berbeda dari tahun ke tahun, tergantung kondisi atmosfer global saat itu.

Jadwal Blood Moon di Indonesia

BMKG mencatat gerhana bulan total 7–8 September 2025 akan berlangsung beberapa jam dengan puncak gerhana terjadi pada dini hari.

Berikut jadwalnya:

Mulai gerhana penumbra (P1): 7 September, pukul 21.00 WIB / 22.00 WITA / 23.00 WIT

Gerhana sebagian (U1): 22.00 WIB / 23.00 WITA / 00.00 WIT

Puncak gerhana total: 8 September, pukul 01.30 WIB / 02.30 WITA / 03.30 WIT

Akhir gerhana: sekitar pukul 05.00 WIB / 06.00 WITA / 07.00 WIT

Artinya, masyarakat di seluruh Indonesia dapat menyaksikan fenomena langit ini sepanjang malam hingga dini hari. (ria)

GROPYOKAN TIKUS: Petani berhasil menangkap tikus setelah menggali pematang sawah.
GROPYOKAN TIKUS: Petani berhasil menangkap tikus setelah menggali pematang sawah.
Editor : Syahaamah Fikria
#bulan darah #BMKG #gerhana bulan total #gerhana bulan #fenomena langit #blood moon