RADARSOLO.COM – Produk-produk Wings Group sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia.
Mungkin pembaca radarsolo.com juga menjadi salah satu konsumennya.
Namun, tak banyak yang tahu, bahwa perjalanan raksasa bisnis ini dimulai dari usaha yang sangat sederhana.
Pada tahun 1948, Wings Group didirikan oleh dua sahabat, Harjo Sutanto dan Johannes Ferdinand Katuari, dengan nama awal Fa Thong Fat (Fa Wings).
Sabun Colek Dipasarkan dari Pintu ke Pintu
Awalnya, mereka hanya memproduksi dan menjual sabun colek.
Harjo dan Johannes bekerja sangat keras, memasarkan produk mereka dari pintu ke pintu di seluruh area Jawa Timur.
Berkat kegigihan mereka, sabun colek ini perlahan mulai dikenal dan dijual di berbagai warung serta agen di Jawa Timur.
Memasuki tahun 1971, Wings Group berhasil meluncurkan produk andalan baru, sabun deterjen krim Ekonomi, yang mendapat respons sangat positif di pasaran.
Momen ini dimanfaatkan untuk memperluas jaringan distribusi dan melakukan promosi intensif melalui iklan, pameran, dan berbagai acara penjualan.
Tiga tahun kemudian, pada 1974, Wings Group membuka kantor pemasaran pertamanya di Jakarta.
Terapkan Strategi "Me Too" untuk Hadapi Kompetitor
Seiring waktu, Wings Group berhasil meraih kesuksesan besar di pasar Indonesia, bahkan menjadi pesaing tangguh bagi perusahaan multinasional besar seperti Unilever dan Indofood.
Wings Group dikenal cerdik dengan menerapkan strategi "me too", yaitu menciptakan produk sejenis dari para pesaing, namun dengan harga yang lebih terjangkau.
Contohnya, ketika Unilever mempromosikan deterjen Rinso, pasta gigi Pepsodent, dan sabun Lifebuoy, Wings Group hadir dengan produk tandingan seperti deterjen So Klin, pasta gigi Ciptadent, serta sabun mandi Giv dan Nuvo. Strategi ini terbukti berhasil.
Pada tahun 2003, Wings Group juga merambah industri makanan dan minuman dengan meluncurkan mi instan merek Mie Sedaap, yang langsung menjadi pesaing berat Indomie dari Indofood.
Sebagai pendiri dan pemilik, Harjo Sutanto berhasil mengumpulkan kekayaan fantastis. Forbes mencatat, pada tahun 2020, kekayaan bersihnya mencapai US$530 miliar, atau sekitar Rp8,64 triliun, menempatkannya sebagai salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia.
Dikenal sebagai Pribadi Sederhana yang Utamakan Keluarga
Di balik kesuksesan bisnisnya yang monumental, Harjo Sutanto dikenal sebagai pribadi yang sederhana.
Ia selalu menempatkan keluarga sebagai pusat kehidupannya, menjadi seorang suami, ayah, kakek, dan buyut yang penuh perhatian.
Ia berhasil membawa Wings melewati berbagai tantangan, seperti krisis ekonomi dan persaingan global.
Fondasi kuat yang ia bangun membuat Wings tetap relevan dan menjadi salah satu ikon industri nasional.
Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya sebuah perusahaan besar, melainkan nilai-nilai ketekunan, kejujuran, dan kerja keras yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.
Upacara persemayaman Harjo Sutanto digelar di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, pada 12–17 September 2025.
Kebaktian pelepasan akan diadakan pada 18 September 2025 sebelum ia dimakamkan. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono