RADARSOLO.COM – Nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali mencuri perhatian dunia internasional, usai didapuk menjadi salah satu anggota Dewan Penasihat (Advisory Board) Bloomberg New Economy.
Dengan jabatannya itu, Jokowi akan duduk bersama sejumlah tokoh dunia untuk mencari solusi dalam menghadapi tantangan ketidakpastian ekonomi global.
Lantas, apa sebenarnya Bloomberg New Economy dan perannya bagi masyarakat dunia?
Apa Itu Bloomberg New Economy?
Bloomberg New Economy merupakan komunitas global yang dibentuk pada 2018.
Forum ini mempertemukan para CEO perusahaan multinasional, pejabat publik, investor, inovator teknologi, hingga pemimpin lembaga internasional.
Tujuannya sederhana namun strategis, menjembatani kolaborasi lintas negara dan memobilisasi modal demi kepentingan publik.
Sejak berdiri, Bloomberg New Economy telah menggelar pertemuan besar di berbagai kota dunia, mulai dari Singapura, Beijing, Panama City, Dublin, Marrakesh, hingga Sao Paulo.
Forum ini menjadi wadah penting untuk membahas perubahan arah ekonomi global, terutama saat poros kekuatan ekonomi bergeser dari Barat ke Timur dan dari Utara ke Selatan.
Bloomberg menekankan bahwa faktor demografi, globalisasi, dan digitalisasi kini menjadi penggerak utama dinamika ekonomi dunia.
Negara-negara berkembang memegang peran lebih besar dalam pertumbuhan global. Sementara kesenjangan pembangunan perlahan berkurang berkat perdagangan, investasi, pendidikan, dan teknologi.
"Misi kami adalah menghadapi tantangan terbesar bagi kemakmuran global dan mendorong dialog menuju solusi," tulis Bloomberg New Economy dalam situs resminya.
Bentuk Dewan Penasihat
Pada April 2025, Bloomberg New Economy resmi membentuk Dewan Penasihat Global.
Bloomberg menyebut, Dewan Penasihat Global ini akan bersama-sama bekerja membantu menghadapi tantangan kompleks yang dihadapi dunia saat ini.
"Dewan Penasihat ini menghadirkan pengalaman di tingkat tertinggi dalam bidang bisnis, pemerintahan, dan organisasi multilateral, masukan mereka akan menjadi kunci dalam mengarahkan upaya kami," tulis Bloomberg.
Isu-isu utama yang menjadi perhatian antara lain, perubahan arah perdagangan internasional, dinamika investasi lintas negara, disrupsi teknologi dan transformasi digital hingga krisis iklim yang mengancam dunia.
Gina Raimondo, mantan Menteri Perdagangan AS yang juga duduk di dewan ini, menegaskan pentingnya kolaborasi.
“Di tengah ketidakpastian geopolitik, kemajuan teknologi, dan krisis iklim, kerja sama lintas negara menjadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.
Mike Bloomberg, pendiri Bloomberg LP, menambahkan bahwa kehadiran Dewan Penasihat akan membuat misi platform ini semakin relevan.
“Dengan begitu banyak kekuatan yang mengubah ekonomi global, peran Bloomberg New Economy menjadi lebih penting dari sebelumnya,” tegasnya.
Alasan Jokowi Ditunjuk Jadi Dewan Penasihat
Di antara deretan nama besar yang terpilih, Jokowi menjadi salah satu figur yang cukup disorot.
Bloomberg menilai Jokowi memiliki profil unik karena bukan berasal dari kalangan militer maupun elite politik tradisional.
Sebaliknya, Jokowi dipandang sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, dekat dengan realitas sosial-ekonomi, serta memiliki rekam jejak pembangunan yang diakui di level internasional.
Dengan penunjukan ini, Jokowi akan duduk sejajar bersama tokoh dunia.
Berikut anggota Dewan Penasihat Bloomberg New Economy:
- Joko Widodo, Presiden ke-7 Indonesia
- Marc Rowan, Co-Founder & CEO Apollo Global Management
- Gita Gopinath, Wakil Direktur Pelaksana Pertama Dana Moneter Internasional
- Ravi Menon, Duta Besar Singapura untuk Aksi Iklim
- Suresh Prabhu, mantan Menteri Perdagangan dan Industri India
- Noubar Afeyan, Co-Founder Moderna dan CEO Flagship Pioneering
- Charles Phillips, Co-Founder & Managing Partner Recognize
- Kai-Fu Lee, CEO 01.AI dan Chairman Sinovation Ventures
- Jorge Paulo Lemann, Chairman Lemann Foundation
- Dawn Fitzpatrick, CEO & CIO Soros Fund Management
- Strive Masiyiwa, Chairman & Founder Econet
- David Vélez, Co-Founder & CEO Nubank
- Josephine Wapakabulo, Founder & Managing Director TIG Africa
- Steven Rattner, Chairman & CEO, Willett Advisors LLC
- Jing Qian, Co-Founder Pusat Analisis China, Institut Kebijakan Masyarakat Asia
Agenda ke Depan
Bloomberg New Economy akan menggelar pertemuan puncak berikutnya di Singapura pada 19–21 November 2025.
Forum tersebut mengusung tema “Thriving in an Age of Extremes” atau Bertahan di Era Penuh Gejolak.
Jokowi bersama para tokoh dunia lain dijadwalkan hadir untuk membahas solusi menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria