Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sulap Sampah Jadi Tabungan Emas Pegadaian: Dari Kampus hingga Kampung, Rawat Lingkungan Langsung Ditebus Investasi Penuh Untung

Silvester Kurniawan • Senin, 29 September 2025 | 06:27 WIB
Galeri 24 Pegadaian Solo melayani nasabah tabungan emas.
Galeri 24 Pegadaian Solo melayani nasabah tabungan emas.

RADARSOLO.COM – Investasi emas jadi pilihan utama masyarakat dalam melindungi nilai aset dari ketidakpastian ekonomi jangka panjang.

Beruntung, PT Pegadaian punya gerakan Pilah Sampah Jadi Emas, yang kini jadi tren dan solusi paling jitu untuk masyarakat.

Siapa pun kini bisa menjaga lingkungan bersih sekaligus mengenal literasi keuangan yang aman untuk masa depan. Sejalan dengan tujuan Pegadaian mengemaskan Indonesia.

Gerakan Pilah Sampah Jadi Emas di UNS

Meski cuaca terik pada Kamis (25/9), civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) tetap aktif mengelola sampah secara ramah lingkungan.

Didampingi mahasiswa, petugas operasional Bank Sampah UNS, Didik, memisahkan sampah organik dan anorganik yang masuk ke bank sampah di area kampus.

"Selama ini, banyak masyarakat masih berpikir bahwa sampah hanya untuk dibuang," ujar Didik.

Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah bisa bernilai ekonomis.

"Tapi kalau tanpa pancingan, memang tidak semua orang mau untuk memilah sampah. Makanya ide pilah sampah jadi emas dari Pegadaian ini sangat bagus karena bisa memotivasi masyarakat mau mengelola sampah yang mereka hasilkan,” ujar Didik.

Dia kemudian menunjukkan kegiatan rutin yang ada di Bank Sampah UNS.

Sampah-sampah dari berbagai fakultas dan masyarakat sekitar dipilah dan ditimbang dengan seksama.

Selanjutnya sampah diolah dengan cara dicacah atau dipadatkan untuk menjadi barang yang memiliki nilai kegunaan baru.

Hasil cacahan plastik disalurkan ke pengolah biji plastik.

Sementara sisanya dipadatkan menjadi ecobrick atau produk kreatif lain, seperti tatakan meja atau kursi kreasi sendiri.

“Potensi sampah di sini 1,5-2 ton per hari, yang anorganik sekitar 350-400 kg per hari. Jadi saat ada nasabah datang akan dicatat di buku tabungan emas mereka," terang Didik.

Ya, cara ini telah menarik antusiasme masyarakat untuk ikut mengolah sampah agar bisa dijadikan tabungan jangka panjang.

"Dan dampaknya kepedulian terhadap lingkungan ikut meningkat,” jelas Didik, yang juga telah terdaftar sebagai nasabah tabungan emas itu.

Dari Kampus ke Masyarakat

Para pemuda di Solo antusias memilah sampah di bank sampah, untuk disulap menjadi tabungan emas Pegadaian.
Para pemuda di Solo antusias memilah sampah di bank sampah, untuk disulap menjadi tabungan emas Pegadaian.

Dari lingkungan kampus, Bank Sampah UNS melebarkan sayap dengan terus mengedukasi masyarakat sekitar.

Diawali dari tantangan menggelar seminar literasi finansial tentang investasi emas, Bank Sampah UNS jadi pilot project binaan PT Pegadaian sejak 2021 dan tergabung dalam Forum Sahabat Emas Peduli Indonesia (Forsepsi).

Kini, UNS membina beberapa bank sampah milik warga, seperti Bank Sampah Karangturi Berseri (Karanganyar) dan Bank Sampah Gama Bareta (Solo).

Sekretaris Bank Sampah UNS, Eksa Rusdiyana, menyebut peran akademisi penting sebagai penghubung ide kampus dengan program pemerintah.

“Konsep ekonomi sirkular dengan menabung emas dari hasil pilah sampah adalah kolaborasi baik untuk melahirkan aktor lokal yang peduli lingkungan sekaligus belajar investasi,” tegas Eksa, yang juga Dosen Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UNS itu.

Antusias Pemuda dan Binaan Baru

Salah satu unit terbaru adalah Bank Sampah Gama Bareta di RW 14 Nusukan, Banjarsari, Solo.

Dikelola karang taruna, bank sampah ini memanfaatkan program tabungan emas Pegadaian sebagai sarana literasi keuangan.

“Dulu program tabungan emas sempat berhenti, tapi kini dijalankan lagi berkat pendampingan UNS dan Pegadaian. Masyarakat antusias karena kapan lagi bisa pilah sampah lalu dapat emas,” ujar Muhammad Abian, koordinator Bank Sampah Gama Bareta.

Bahkan, program itu juga disambut antusias muda-mudi di wilayah RW 14 Nusukan. Mereka tertarik untuk belajar investasi lewat tabungan emas.

"Ini jadi pengalaman yang baik bagi kami yang muda-muda untuk mulai belajar investasi jangka panjang karena nilai emas itu lebih stabil kalau dibandingkan aset lainnya," ucap Abian.

Pegadaian Punya 14 Bank Sampah Binaan di Solo

Deputi Bisnis Pegadaian Area Surakarta, Nur Wahid, mengungkapkan bahwa ada 14 bank sampah binaan Pegadaian di Solo, termasuk UNS.

Program Pilah Sampah Jadi Emas bertujuan mengurangi sampah sekaligus mengedukasi masyarakat agar berinvestasi jangka panjang lewat tabungan maupun cicilan emas.

Dengan cara ini, lingkungan bukan hanya selalu bersih dan sehat, namuan tujuan Pegadaian mengemaskan Indonesia pun terwujud. Sehingga masyarakat kian melek investasi untuk jangka panjang.

“Tujuannya agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan, melakukan daur ulang, dan mendapat penghasilan tambahan yang difasilitasi tabungan emas,” ujarnya.

Minat Investasi Emas Meningkat

Pegadaian juga meluncurkan Layanan Bank Emas berupa deposito emas, pinjaman modal kerja berbasis emas, perdagangan, hingga jasa titipan emas korporasi.

Hingga 5 Agustus 2025, nasabah tabungan emas di Solo mencapai 78.100 orang dengan total simpanan 288 kilogram emas.

Angka ini naik 13 persen dibanding akhir 2024, seiring harga emas yang melonjak dari Rp939.000/gram (2021) menjadi Rp2.094.000/gram (September 2025).

Panji Pamungkas, nasabah Pegadaian Cokronegaran, Solo, mengaku merasakan keuntungan investasi emas.

“Tahun 2024 saya ambil cicilan emas 25 gram seharga Rp39–40 juta. Sekarang nilainya Rp46 juta. Likuiditas emas tinggi, jadi kapan pun dijual tetap laku,” jelasnya saat ditemui di Galeri 24 Pegadaian Solo.

Emas Dinilai Paling Stabil

Pengamat Ekonomi UNS, Ariyanto Adhi Nugroho, menilai tren investasi masyarakat bergeser dari properti ke emas pascapandemi.

Emas memiliki kelebihan likuiditas tinggi sehingga mudah dicairkan. Namun, investasi ini lebih cocok untuk jangka panjang.

“Pertumbuhan harga emas tinggi, meski tidak semua masyarakat mampu menjangkaunya. Skema cicilan jadi solusi agar investasi tetap terjangkau. Jika kenaikan emas lebih tinggi dari bunga kredit, tentu sangat menguntungkan,” terangnya. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Emas #bank sampah #Galeri 24 #MengEMASkan Indonesia #uns #Pegadaian #tabungan emas #pilah sampah jadi emas