Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Indramayu Terapkan Transformasi Sistem Pertanian: Kurangi Biaya Produksi, Tingkatkan Hasil Panen

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 30 September 2025 | 00:14 WIB
Bupati Indramayu Lucky Hakim, perwakilan tim percepatan pembangunan Joni E.S, Kadis Pertanian Sugeng H, Ketua Gapoktan Taryono, Dirut PT BWI Robani H.P di Wanasari, Bangodua, Indramayu, Sabtu (27/9).
Bupati Indramayu Lucky Hakim, perwakilan tim percepatan pembangunan Joni E.S, Kadis Pertanian Sugeng H, Ketua Gapoktan Taryono, Dirut PT BWI Robani H.P di Wanasari, Bangodua, Indramayu, Sabtu (27/9).

RADARSOLO.COM-Peran Indramayu dalam mendukung swasembada nasional pangan cukup besar.

Pada 2024, realisasi produksi padi di Kota Mangga mencapai 1,7 juta ton gabah kering panen (GKP) atau sekitar 1,49 juta ton gabah kering giling (GKG).

Hal itu menempatkan daerah tersebut sebagai kabupaten penghasil padi terbesar se-Indonesia.

Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan, status lumbung pangan masih belum sepenuhnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Pendapatan mereka rendah karena tingginya biaya produksi dan ketergantungannya terhadap pupuk kimia seperti Urea.

Dengan membentuk ’super tim’ dari kalangan pemerintah, praktisi pertanian, gapoktan, dan petani, Lucky menggagas transformasi sistem pertanian yang lebih modern dan berpihak pada petani.

Salah satu lahan uji coba sistem pertanian dilakukan di Desa Wanasari, Kecamatan Bangodua.

Lahan seluas lima hektare yang dikelola PT Bumi Wiralodra Indramayu atau PT BWI (Perseroda) itu hadir sebagai episentrum baru pembaruan sektor agraris.

Lucky meninjau langsung lokasi itu dan menyebutnya sebagai ruang belajar dan laboratorium hidup.

"Pemda akan berupaya melatih petani-petani muda untuk mengetahui tata cara menanam dengan efektif dan efisien. Kami ingin mereka terlibat secara aktif di pengembangan pertanian,” katanya.

Program itu secara khusus menyasar generasi muda agar mereka tidak hanya memahami teori dari kelas.

Namun juga wadah untuk mengasah kemampuan praktik secara langsung.

Baca Juga: Dukung Pengembangan Petani Milenial di Kalikebo Trucuk, Bupati Klaten Disambati Sarpas hingga Infrastruktur Jalan Pertanian

Salah satu tujuan strategis dari pengembangan demplot (demonstration plot) pertanian itu yakni menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban petani.

Di lahan tersebut, penggunaan pupuk bisa lebih hemat 50 persen dengan produktivitas padi naik sekitar 10 persen hingga 20 persen.

Menurut Lucky, transformasi sistem pertanian tidak saja untuk mengurangi biaya produksi meningkatkan hasil panen.

Namun itu wujud program regenerasi petani. Upaya transformasi melibatkan sistem pertanian modern dengan memanfaatkan aplikasi yang hasil panennya lebih melimpah.

"Sebagian anak muda dari keluarga petani tak ingin mereka seperti orang tuanya. Pemikiran itu ingin kami ubah dengan mengajak mereka terjun ke pertanian yang lebih modern,” tutur Lucky.

Menurut Lucky, pertanian bukan sekadar upaya meningkatkan hasil.

Namun juga harus memikirkan masalah pemasaran.

Melalui transformasi, pemda akan mendorong BUMD lebih aktif dengan melakukan penyerapan terhadap gabah para petani.

Dalam transformasi sistem pertanian, peran PT BWI selaku BUMD bakal semakin vital.

Tidak hanya mendukung percontohan dengan menyiapkan tenaga ahli, BUMD akan menyerap gabah dari petani dan mengolah seluruh hasil pascapanen, seperti sekam dan jerami.

Dirut PT BWI Robani Hendra Permana menjelaskan, uji coba pertanian diawali dengan mengecek 100 titik lahan. Setelah itu ada demplot di masing-masing kecamatan.

Targetnya ada peningkatan produksi padi. Dari rata-rata 6 ton per hektare diharapkan produksi bisa naik menjadi 9 ton per hektare.

’’Tidak hanya gabah. Seluruh hasil pertanian akan diolah BUMD supaya nilainya tambah,” ungkap Robani.

Baca Juga: Tak Kenal Lelah, Petani Milenial Di Sukoharjo Olah Lahan Pertanian Hingga Larut Malam

Perwakilan tim percepatan pembangunan Jony Eko Saputro menyebut, apa yang dilakukan dalam demplot cukup simpel.

Yakni, mengembalikan tingkat kesuburan tanah dengan memanfaatkan pupuk organik.

Meski begitu, proses percobaan dilakukan secara matang dengan pemantauan secara intens.
Semisal demplot di Desa Wanasari. Hasil uji coba mulai menunjukkan keberhasilannya.

’’Anakan batang padinya lebih banyak. Kalau biasanya hanya 20-25, sekarang bisa sampai 40 anakan,” kata Jony. (hen/xav)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#bupati indramayu #sistem pertanian #Transformasi #biaya produksi #lucky hakim #hasil panen