Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sejarah Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: Tragedi Ambruk Bangunan, 17 Santri Meninggal dan 47 Masih di Bawah Reruntuhan

Syahaamah Fikria • Minggu, 5 Oktober 2025 | 02:34 WIB
Foto udara bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny yang ambruk di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (30/9/2025).
Foto udara bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny yang ambruk di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (30/9/2025).

RADARSOLO.COM – Tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, kini telah menjadi perhatian publik.

Hingga Sabtu (4/10/2025), Tim SAR gabungan mencatat 17 santri meninggal dunia, termasuk satu potongan tubuh yang baru ditemukan.

Sementara 47 santri lainnya masih belum ditemukan di bawah reruntuhan.

Total korban yang berhasil dievakuasi sejauh ini berjumlah 121 orang, terdiri dari 104 selamat dan 17 meninggal dunia.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit menegaskan bahwa proses evakuasi sangat sulit karena korban tertimbun material berat.

Tim menggunakan alat berat, namun beberapa kali harus dihentikan demi memungkinkan pemotongan manual rangka besi agar pencarian lebih aman.

Sementara, Kasubdit RPDO Basarnas Emi Freezer menyebut, petugas menemukan potongan kaki kanan hingga telapak kaki pada Sabtu (4/10/2025) petang.

"Potongan tubuh dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk diidentifikasi oleh tim DVI Polda Jatim," ujar dia.

Kronologi Ambruknya Bangunan

Informasi dari pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH R. Abdus Salam Mujib menyebut, bangunan asrama putra sebenarnya masih dalam tahap renovasi yang sudah berjalan sembilan bulan.

Pada hari kejadian, Senin (29/9/2025), atap lantai tiga baru saja dicor hingga siang hari.

Namun, sekitar pukul 15.00 WIB, cor semen tersebut tiba-tiba runtuh dan menimpa santri yang sedang shalat Ashar berjamaah di lantai dua.

"Pengecoran terakhir dilakukan pagi sampai siang hari. Sekitar jam tiga sore langsung ambruk," jelas Abdus Salam Mujib.

Sejarah dan Perjuangan Pesantren Al Khoziny

Pondok Pesantren Al Khoziny memiliki sejarah panjang.

Pesantren ini didirikan pada tahun 1920-an oleh KH Raden Khozin Khoiruddin.

Setelah wafat, tongkat kepemimpinan diteruskan putranya, KH Moh Abbas, lalu diwariskan kepada KH Abdul Mujib.

KH Abdul Mujib sendiri adalah sosok ulama yang tekun dan berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi menimba ilmu agama.

Ibunya, Nyai Khodijah, merupakan sepupu KH Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

KH Abdul Mujib kemudian menikah dengan Nyai Mudawwamah, seorang hafidzah dari Pasuruan.

Dari pernikahan itu, lahirlah 12 anak, di antaranya KH R. Abdus Salam Mujib yang kini melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren sekaligus menjabat Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo.

Meski pernah sakit diabetes, KH Abdul Mujib tetap aktif mengembangkan pesantren hingga akhir hayatnya pada 5 Oktober 2010.

Wafatnya beliau meninggalkan warisan besar dalam dunia pendidikan Islam di Jawa Timur.

Polisi Selidiki Penyebab Ambruknya Ponpes

Kini, pondok pesantren tersebut tengah dirundung duka akibat tragedi robohnya bangunan.

Ratusan santri selamat, namun puluhan lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Tim SAR gabungan masih terus berupaya melakukan pencarian korban dengan penuh kehati-hatian.

Polisi juga mulai melakukan penyelidikan atas tragedi yang memakan banyak korban dari kalangan santri itu.

Diketahui, polisi telah memanggil saksi, yang merupakan santri ponpes tersebut. (ria)

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#Bangunan ponpes al khoziny ambruk #santri #ponpes #sidoarjo #santri meninggal #Pondok Pesantren Al Khoziny