RADARSOLO.COM - Nama Abdus Salam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah peristiwa ambruknya bangunan pesantren pada Senin (29/9).
Tragedi ini menelan 171 korban, dengan rincian 104 orang selamat dan 67 orang meninggal dunia, termasuk 7 korban yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh (body parts).
Proses evakuasi korban kini resmi dihentikan setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seluruh korban dari reruntuhan bangunan.
Profil Abdus Salam Mujib, Penerus Generasi Keempat Ponpes Al Khoziny
R. Abdus Salam Mujib merupakan tokoh penting di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur dan penerus kepemimpinan Ponpes Al Khoziny, pesantren tua yang berdiri sejak awal abad ke-20.
Ia adalah putra dari KH. Abdul Mujib, pengasuh generasi ketiga Ponpes Al Khoziny, dan Nyai Hj. Mudawwamah, seorang hafidhah (penghafal Al-Qur’an) asal Pasuruan yang dikenal berperan besar dalam pembinaan santri.
Kakeknya, KH. Moh Abbas, merupakan generasi penerus dari pendiri pesantren, KH. Raden Khozin Khoiruddin, yang mendirikan Ponpes Al Khoziny sekitar tahun 1920-an di Sidoarjo.
Dari garis keturunan ibu, keluarga besar Abdus Salam Mujib juga memiliki hubungan darah dengan pendiri NU, KH. Wahab Hasbullah, karena ibunda KH. Abdul Mujib, Nyai Khodijah, adalah sepupu KH. Wahab.
Setelah wafatnya KH. Abdul Mujib pada 5 Oktober 2010 di RS Graha Amerta Surabaya, tongkat estafet kepemimpinan pesantren pun berpindah ke tangan putranya, Abdus Salam Mujib.
Peran Abdus Salam Mujib di NU dan Dunia Politik
Selain mengasuh pesantren, Abdus Salam Mujib juga dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, posisi tertinggi dalam struktur keagamaan NU di tingkat cabang.
Ia memegang peran penting dalam penentuan arah kebijakan dan keputusan keagamaan organisasi di wilayah tersebut.
Tak hanya itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, menunjukkan kiprahnya yang luas di dunia sosial-keagamaan dan politik.
Respons Abdus Salam Mujib Usai Ponpes Al Khoziny Ambruk
Menanggapi musibah ambruknya bangunan pesantren, Abdus Salam Mujib menyebut peristiwa itu sebagai takdir Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada.
“Saya kira memang ini takdir dari Allah. Jadi semuanya harus bisa bersabar, mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik,” ujarnya dalam sebuah video yang beredar di media sosial.
Ia menjelaskan, bangunan yang runtuh itu sebenarnya dirancang sebagai gedung tiga lantai dan pada hari kejadian tengah dilakukan pengecoran atap lantai tiga.
Lantai pertama direncanakan untuk musala, sementara lantai dua dan tiga akan difungsikan sebagai balai pertemuan.
Menurutnya, renovasi telah berjalan beberapa bulan, dan gedung yang ambruk merupakan bagian akhir dari keseluruhan proyek pembangunan di lingkungan Ponpes Al Khoziny.(np)
Editor : Nur Pramudito