RADARSOLO.COM–Popularitas Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa langsung melesat.
Diketahui, Purbaya hobi mengoleksi keris ini dilantik menggantikan Sri Mulyani Indrawati pada 8 September 2025.
Nah dalam sebulan terakhir, Purbaya cukup banyak membuat gebrakan.
Hal ini melambungkan namanya dan disebut-sebut memperbesar karirnya di pemerintah semakin bersinar.
Manuver Moneter dan Strategi Fiskal Purbaya
- Relokasi Dana Pemerintah ke Bank Himbara
Manuver utama yang diambil Purbaya adalah memindahkan dana pemerintah senilai Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kebijakan ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan likuiditas perbankan.
- Menurunkan cost of fund.
- Mendongkrak pertumbuhan kredit, konsumsi, dan investasi.
Setelah Himbara, Purbaya juga berencana menempatkan dana pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) APBN pada bank pembangunan daerah (BPD).
- Pembatalan Kenaikan Cukai Rokok
Purbaya memberikan kepastian nasib rencana kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok, dengan memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut.
Ia mengaku telah menyiapkan strategi lain untuk menjaga penerimaan negara tanpa memberatkan keberlangsungan industri rokok.
Secara bersamaan, ia juga gencar menindak rokok ilegal, mulai dari jalur distribusi, e-commerce, hingga toko kelontong.
- Kejar Tunggakan Pajak Inkracht
Untuk mengimbangi penerimaan pajak yang melambat, Purbaya mengejar 200 wajib pajak besar guna menagih tunggakan pajak yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht).
Potensi serapan dari upaya ini mencapai Rp60 triliun. Purbaya menyebut, cicilan dari penunggak pajak inkrah hingga hari ini sudah mencapai Rp7 triliun.
- Perombakan Anggaran Transfer ke Daerah (TKD)
Purbaya juga merombak anggaran Transfer ke Daerah (TKD) pada APBN 2026 yang sebelumnya didesain oleh Menkeu terdahulu.
Alokasi TKD ditingkatkan sebesar Rp43 triliun, dari rancangan awal Rp649,9 triliun menjadi Rp692,99 triliun.
Dari sisi belanja, ia memantau ketat penyerapan anggaran kementerian/lembaga (K/L) dan berencana merealokasi dana yang tidak terserap optimal ke program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dioperasikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Sementara itu, kinerja Purbaya Yudhi Sadewa yang agresif dan cepat dalam sebulan pertamanya menjabat, membuatnya santer disebut layak dicalonkan sebagai Wakil Presiden di masa depan.
Namun, Purbaya menanggapi isu politik tersebut dengan sangat lugas, bahkan cenderung blak-blakan.
Purbaya menepis rumor tersebut dengan mengatakan bahwa ia sama sekali belum memikirkan jabatan Wakil Presiden, mengingat ia baru menjabat sebagai bendahara negara selama satu bulan.
“Enggak, enggak mikir sama sekali. Kerja juga belum. Ini kan baru cuma di permukaan saja, yang di bawahnya belum kita sisir betulan. Jadi enggak kepikiran sama sekali. Gue enggak peduli juga,” jelas Purbaya kepada wartawan di Jakarta.
Menkeu Purbaya mengingatkan bahwa kondisi ekonomi selalu dinamis. Oleh karena itu, ia meminta publik untuk tidak terburu-buru menilai kinerjanya.
“Baru juga sebulan kerja, gila lo. Itu kan bisa berubah. Kalau ekonomi bagus, begitu turun, turun lagi. Ekonomi kan naik-turun, naik-turun. Jadi jangan cepat-cepat. Dan gue enggak mikirin juga,” imbuhnya, menegaskan fokusnya saat ini hanya pada pekerjaan di Kementerian Keuangan. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono