RADARSOLO.COM - Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah disebut dalam tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 yang dinilai menghina dan merendahkan martabat para kiai serta santri.
Tayangan yang disiarkan pada Senin, 13 Oktober 2025 itu memantik kemarahan besar hingga memunculkan tagar #BoikotTrans7 yang viral di media sosial.
Namun, di balik kontroversi tersebut, publik kembali menoleh pada sejarah panjang Ponpes Lirboyo, sebuah lembaga pendidikan Islam legendaris yang telah berusia 115 tahun dan menjadi salah satu pilar keilmuan Islam tradisional di Indonesia.
Berdiri Sejak 1910
Pondok Pesantren Lirboyo berdiri pada tahun 1910 Masehi atas prakarsa KH Abdul Karim, seorang ulama kelahiran Magelang yang merupakan murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan dan sahabat KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Setelah menikah dengan Nyai Khodijah, putri dari KH Sholeh Banjarmlati, Kediri, KH Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo (kini Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri).
Dorongan dari sang mertua agar dakwah Islam semakin luas menjadi awal mula lahirnya pesantren yang kelak dikenal sebagai pusat keilmuan Islam klasik di Nusantara.
Santri pertama yang datang kala itu hanyalah lima orang, Umar dari Madiun, Yusuf, Sahil, Somad dari Magelang, dan Syamsudin dari Gurah, Kediri.
Namun, seiring waktu, jumlah santri terus bertambah dan nama Lirboyo mulai dikenal luas.
Tiga tahun kemudian, pada 1913, KH Abdul Karim membangun Masjid Lawang Songo, yang hingga kini tetap berdiri sebagai ikon pesantren.
Masjid itu dinamai demikian karena memiliki sembilan pintu (lawang).
Dari Sistem Sorogan ke Madrasah Modern
Pada awalnya, sistem pendidikan di Lirboyo masih menggunakan metode tradisional seperti sorogan dan bandongann, dua cara klasik dalam pembelajaran kitab kuning.
Namun, pada tahun 1925, pesantren ini mulai beradaptasi dengan sistem pendidikan berkelas melalui berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien, yang hingga kini masih aktif.
Pesantren ini dikenal kuat mempertahankan tradisi salafiyah, yaitu pengajaran berbasis kitab klasik (kitab kuning), sembari tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Kini, di bawah kepemimpinan KH M. Anwar Manshur, salah satu cucu pendiri, Lirboyo menaungi lebih dari 15 lembaga pendidikan dengan berbagai konsentrasi, mulai dari tahfiz Al-Qur’an hingga pendidikan formal berbasis pesantren.
Peran Penting dalam Sejarah Kemerdekaan
Lirboyo bukan sekadar tempat menimba ilmu agama. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, pesantren ini turut ambil bagian.
Para santri Lirboyo ikut berjuang di berbagai medan perang, termasuk dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Dari masa ke masa, pesantren ini terus mencetak kader ulama dan tokoh bangsa.
Banyak alumninya menjadi pengasuh pesantren besar, pemimpin ormas Islam, hingga pejabat publik yang tetap berpegang pada nilai keislaman dan kebangsaan.
Dihina Tayangan Xpose Uncensored
Maka tak heran, ketika tayangan Xpose Uncensored milik Trans7 menyinggung kehidupan pesantren dengan narasi yang dianggap melecehkan hubungan antara santri dan kiai, reaksi keras pun bermunculan.
Dalam segmen tersebut, narasi suara menyinggung soal santri yang disebut “rela ngesot” demi memberi amplop kepada kiai.
Kalimat itu dianggap tidak pantas dan merendahkan nilai ta’dzim, yakni penghormatan seorang santri kepada gurunya.
Bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama dan ribuan alumni Lirboyo, narasi semacam itu bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk ketidaktahuan terhadap tradisi pesantren yang sudah dijaga lebih dari satu abad.
Seruan #BoikotTrans7 pun menggema di media sosial. Ribuan pengguna X menuntut permintaan maaf terbuka dari pihak Trans7 dan penghentian tayangan yang dianggap tidak sensitif terhadap nilai keislaman.
Trans7 Akui Permintaan Maaf
Menanggapi gelombang protes yang meluas, Production Director Trans7, Andi Chairil, muncul dalam video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram resmi @trans7, Selasa (14/10/2025).
“Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai H. Anwar Manshur beserta keluarga besar, para pengasuh, santri, dan alumni. Kami sadar keteledoran kami menimbulkan ketersinggungan,” ujar Andi dalam video berdurasi dua menit itu.
Andi menegaskan, pihaknya telah menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Gus Adib, putra KH Anwar Manshur, dan telah mengirimkan surat resmi kepada pihak pesantren sebagai bentuk tanggung jawab.
Pihak Trans7 juga berkomitmen memperketat proses review konten agar kesalahan serupa tidak terulang di masa mendatang. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria