RADARSOLO.COM – Nama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mendadak ramai diperbincangkan di media sosial usai tayangan program Xpose Uncensored dianggap melecehkan kalangan santri dengan sebutan “santri ngesot”.
Banyak netizen yang geram, sebab pesantren ini bukan tempat biasa—melainkan salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.
Pesantren Lirboyo berdiri pada tahun 1910, didirikan oleh KH Abdul Karim atau Mbah Manab, seorang murid ulama besar KH Kholil Kasingan Rembang, yang juga merupakan santri dari KH Kholil Bangkalan.
Dari sebuah pondok kecil di Dusun Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kediri, pesantren ini tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam besar yang tetap menjaga tradisi salaf hingga kini.
Setelah Mbah Manab wafat, kepemimpinan Lirboyo dilanjutkan oleh menantunya, KH Marzuki Dahlan, yang kemudian mendirikan Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (HM).
Madrasah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Lirboyo karena memperkenalkan sistem pembelajaran berjenjang berbasis kitab kuning — kitab klasik berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam tradisi pesantren.
Dua Sistem Pendidikan: Klasikal dan Tradisional
Hingga kini, Ponpes Lirboyo dikenal menerapkan dua sistem pendidikan sekaligus.
Pertama, sistem klasikal, yang dijalankan melalui madrasah formal seperti MTs, MA, hingga perguruan tinggi.
Sistem ini mengajarkan pelajaran umum dan agama secara terstruktur, agar santri tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Kedua, sistem tradisional, di mana santri belajar langsung dari para kiai melalui metode bandongan dan sorogan.
Dalam metode ini, kiai membacakan kitab kuning dan memberikan penjelasan, sementara para santri menyimak, mencatat, dan mendiskusikan maknanya.
Selain itu, Lirboyo juga aktif dalam bahtsul masail, forum ilmiah tempat para santri membahas persoalan keagamaan kontemporer menggunakan dasar-dasar hukum Islam.
Melahirkan Ribuan Ulama dan Tokoh Bangsa
Dari sistem pendidikan tersebut, Lirboyo telah melahirkan ribuan ulama, kiai, dan tokoh masyarakat di seluruh Indonesia.
Kini, Lirboyo memiliki sedikitnya 15 unit pondok dengan berbagai fokus keilmuan, seperti Tahfidzul Quran, Hidayatul Mubtadi’aat, Ar-Risalah, hingga HM Al-Mahrusiyah.
Jaringannya juga meluas ke berbagai daerah seperti Malang, Blitar, dan Majalengka, menjadikan Lirboyo bukan sekadar pesantren, tapi juga pusat peradaban Islam tradisional di Nusantara.
Pesantren yang Dijaga dengan Cinta Ilmu dan Hormat kepada Guru
Meski zaman terus berubah, Ponpes Lirboyo tetap memegang teguh nilai-nilai hormat kepada guru, keberkahan ilmu, dan cinta terhadap adab.
Prinsip inilah yang membuat masyarakat tersentuh ketika pesantren ini direndahkan lewat tayangan televisi.
Bagi kalangan santri, Lirboyo bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan rumah pembentukan karakter dan akhlak.
Tak mengherankan jika publik langsung bereaksi keras ketika program Xpose Uncensored Trans7 menampilkan narasi yang dianggap menyinggung kehidupan pesantren.
Dalam salah satu segmennya, suara narator menyebut santri “rela ngesot” hanya untuk memberi amplop kepada kiai.
Ungkapan tersebut dinilai tidak pantas karena merendahkan makna ta’dzim, yaitu sikap hormat dan pengabdian tulus santri kepada gurunya, nilai yang sangat dijunjung tinggi di lingkungan pesantren.
Bagi kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan para alumni Pondok Pesantren Lirboyo, ucapan itu bukan sekadar kesalahan teknis atau kelalaian produksi.
Melainkan mencerminkan ketidakpahaman terhadap tradisi luhur pesantren yang telah dijaga turun-temurun selama lebih dari seabad.
Tak butuh waktu lama, seruan #BoikotTrans7 pun menggema di media sosial.
Menanggapi gelombang protes yang meluas, Production Director Trans7, Andi Chairil, muncul dalam video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram resmi @trans7, Selasa (14/10/2025).
“Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai H. Anwar Manshur beserta keluarga besar, para pengasuh, santri, dan alumni. Kami sadar keteledoran kami menimbulkan ketersinggungan,” ujar Andi dalam video berdurasi dua menit itu. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria