RADARSOLO.COM – Dunia pendidikan Indonesia tengah diguncang oleh petisi daring berjudul "Batalkan Pelaksanaan TKA 2025" yang mendadak viral di platform Change.org.
Petisi ini diklaim dibuat oleh seorang pengguna bernama Siswa Agit dan hingga Selasa (28/10/2025) sudah ditandatangani lebih dari 134 ribu orang.
Fenomena tersebut menjadi sorotan nasional karena berhadapan langsung dengan kebijakan baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek) tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang akan mulai diberlakukan pada November 2025 untuk jenjang SMA/SMK.
Apa Itu TKA 2025?
Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan asesmen nasional yang diperkenalkan Kemdikbud-Ristek untuk mengukur capaian akademik siswa secara lebih modern dan terstandar.
Beberapa poin penting mengenai TKA antara lain:
-
Bersifat sukarela, bukan penentu kelulusan.
-
Tidak menggantikan rapor atau ujian sekolah.
-
Tujuannya adalah memperoleh data capaian akademik nasional agar hasil dari jalur formal, nonformal, dan informal bisa disetarakan.
Untuk jenjang SMA/SMK kelas 12, TKA dijadwalkan berlangsung 1–9 November 2025 dengan mata ujian wajib Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, serta dua mata pelajaran pilihan sesuai jurusan.
Misteri Sosok Siswa Agit
Nama Siswa Agit diduga hanya akun anonim di Change.org, bukan nama asli seseorang.
Dalam deskripsi petisinya, ia mengaku sebagai siswa kelas 12 yang akan menghadapi TKA, namun klaim tersebut belum bisa diverifikasi secara publik.
Meski misterius, keberadaan akun ini telah menjadi simbol keresahan banyak pelajar yang merasa tidak siap menghadapi TKA.
Dalam waktu kurang dari tiga hari, petisi “Siswa Agit” langsung viral dan mengundang dukungan besar dari siswa, guru, hingga orang tua murid.
Isi Petisi: Alasan Penolakan TKA 2025
Dalam petisinya, Siswa Agit menyampaikan beberapa alasan mengapa TKA dinilai memberatkan:
-
Tekanan tambahan dan waktu yang mepet
TKA dianggap muncul mendadak tanpa sosialisasi cukup, padahal siswa kelas 12 sudah fokus pada ujian akhir dan persiapan masuk perguruan tinggi."Dari 14 Juli hingga 3 November hanya 112 hari, sekitar 3,5 bulan untuk mempersiapkan TKA," tulisnya.
-
Materi terlalu luas dan kurang terarah
Dengan tambahan dua mapel pilihan di luar tiga mapel wajib, banyak siswa merasa kesulitan fokus dalam belajar. -
Kurangnya dukungan dari sekolah
Banyak sekolah disebut belum menyiapkan bimbingan, fasilitas, maupun simulasi ujian. -
Tidak selaras dengan Kurikulum Merdeka
Menurut Siswa Agit, penerapan TKA justru berlawanan dengan semangat fleksibilitas yang ditawarkan Kurikulum Merdeka.
Resonansi Publik dan Respons Pendidikan
Petisi “Batalkan TKA 2025” memicu perdebatan luas di dunia pendidikan. Dukungan puluhan ribu tanda tangan menunjukkan keresahan nyata di kalangan siswa dan orang tua.
Beberapa catatan penting dari fenomena ini:
-
Implementasi kebijakan baru seperti TKA perlu transisi dan sosialisasi matang agar tidak menimbulkan kebingungan.
-
Aspek psikologis siswa kelas 12 harus diperhatikan, mengingat mereka sudah menghadapi tekanan akademik tinggi.
-
Tujuan TKA yang baik—menstandarkan hasil belajar nasional—berisiko gagal bila persiapan siswa dan sekolah belum merata.
Bagaimana Siswa, Guru, dan Orang Tua Menyikapi?
Untuk Siswa:
-
Pahami aturan dan jadwal TKA dengan baik.
-
Fokus pada materi wajib lebih dulu, baru mapel pilihan.
-
Gunakan simulasi dan try out untuk adaptasi format ujian.
-
Jaga kesehatan mental, jangan jadikan TKA beban tambahan.
Untuk Guru & Sekolah:
-
Sosialisasikan tujuan dan mekanisme TKA secara terbuka.
-
Beri fasilitas simulasi dan pendampingan belajar.
-
Gunakan hasil simulasi sebagai dasar bimbingan tambahan.
-
Perhatikan kondisi psikologis siswa, terutama kelas akhir.
Untuk Orang Tua:
-
Dampingi anak secara emosional dan akademik.
-
Hindari tekanan berlebihan, bantu ciptakan lingkungan belajar nyaman.
-
Ingatkan bahwa TKA bukan satu-satunya jalan menuju sukses.
TKA: Momok atau Peluang?
Petisi “Siswa Agit” sesungguhnya menjadi wake-up call bagi semua pihak di dunia pendidikan.
Ia menyoroti pentingnya komunikasi, kesiapan, dan empati dalam menerapkan kebijakan baru.
Terlepas dari kontroversinya, TKA sebenarnya bisa menjadi peluang positif jika dijalankan dengan persiapan matang, dukungan sekolah yang kuat, serta kebijakan yang berpihak pada siswa.
“Perubahan besar dalam pendidikan tak boleh hanya turun dari atas, tapi juga tumbuh bersama siswa,” tulis salah satu komentar dalam petisi itu.
Identitas asli Siswa Agit mungkin masih misterius, tetapi suaranya telah menggema ke seluruh negeri.
Petisi “Batalkan TKA 2025” bukan sekadar penolakan, melainkan seruan agar kebijakan pendidikan dijalankan dengan kesiapan dan keadilan.
TKA bisa menjadi langkah maju—asal dijalankan dengan komunikasi jelas dan dukungan nyata dari seluruh pihak.
Editor : Nur Pramudito