RADARSOLO.COM – Viral busa berwarna hitam pekat dan berbau menyengat yang beterbangan di langit Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, masih menjadi misteri.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) akhirnya buka suara atas viral fenomena aneh yang menimbulkan kepanikan warga tersebut.
Kejadian yang sempat viral di media sosial itu terekam dalam sejumlah video amatir warga.
Dalam rekaman berdurasi 30 detik, tampak gumpalan busa hitam keabu-abuan melayang di udara seperti awan sebelum perlahan turun ke permukiman dan persawahan warga.
Beberapa warga bahkan mengaku mencium aroma menyengat mirip limbah pabrik setelah busa tersebut jatuh ke tanah.
"Busa bau, awas beracun," ucap salah satu warga.
Menanggapi fenomena tersebut, KDM menegaskan pentingnya penelusuran ilmiah sebelum menyimpulkan penyebabnya.
Ia meminta seluruh pihak menunggu hasil pemeriksaan resmi dari tim lingkungan hidup.
"Saya sudah minta, kan itu tim ya, kan tidak boleh disimpulkan oleh gubernur. Nanti tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk segera melakukan pengecekan apa itu,” ujar Dedi di Gedung Sate, Bandung, Rabu (29/10/2025).
Lebih lanjut, KDM menilai fenomena seperti ini harus dijelaskan berdasarkan data dan pengujian laboratorium agar masyarakat tidak termakan spekulasi.
Sementara itu, Kepala DLH Jawa Barat Ai Saadiyah Dwidaningsih menuturkan, pihaknya telah menurunkan Tim Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup (PPLH) untuk mengambil sampel dan meneliti kandungan zat dari busa hitam misterius tersebut.
“Tim kami sudah di lokasi. Namun, sampai saat ini belum ada laporan hasil uji laboratorium yang bisa disampaikan,” kata Ai, Rabu (29/10/2025).
Menurut Ai, busa industri dalam jumlah besar memang bisa terbang ke udara bila tertiup angin cukup kuat karena massa jenisnya yang ringan.
Namun, ia menegaskan pihaknya belum dapat memastikan apakah busa hitam di Subang itu benar berasal dari limbah industri.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung juga telah menyatakan bahwa fenomena tersebut bukan disebabkan oleh faktor alam seperti awan atau proses cuaca.
BMKG menduga busa tersebut berasal dari aktivitas manusia di permukaan bumi, kemungkinan besar dari sisa reaksi kimia atau aktivitas industri. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria