Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lestarikan Batik Sragen, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dorong UMKM Jadi Penopang Ekonomi Daerah

Syahaamah Fikria • Jumat, 31 Oktober 2025 | 02:22 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi resmikan UMKM Batik Windasari di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen, pada Rabu (30/10/2025).
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi resmikan UMKM Batik Windasari di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen, pada Rabu (30/10/2025).

RADARSOLO.COM – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) batik di Kabupaten Sragen untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal berbasis budaya.

Hal tersebut ia sampaikan saat meresmikan UMKM Batik Windasari di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen, pada Rabu (30/10/2025).

Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa industri batik bukan hanya sektor kreatif, tapi juga sumber penghidupan ribuan warga di Sragen dan sekitarnya.

“Kami sangat bangga, ini pertama kalinya saya meresmikan UMKM batik. Batik bukan sekadar pakaian, tapi warisan leluhur yang wajib kita lestarikan,” ujar Gubernur Jateng di hadapan para pengrajin.

Ia mengapresiasi langkah pemilik Batik Windasari, Wiwin, yang mengumpulkan para perajin batik dalam satu lokasi produksi.

Menurutnya, hal itu bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal.

Luthfi menilai, kehadiran Batik Windasari menunjukkan bahwa ekonomi rakyat berbasis budaya mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan global.

Ia berharap sektor batik terus diperkuat melalui dukungan permodalan, pelatihan, dan promosi yang berkelanjutan.

“Semoga dengan diresmikannya UMKM ini bisa memberikan khasanah bagi UMKM kita serta membawa kesejahteraan bagi perusahaan dan karyawan,” tuturnya.

Gubernur juga menekankan pentingnya strategi pemasaran dan promosi untuk menjaga eksistensi batik di tengah persaingan pasar.

Ia bahkan mendorong agar event-event khusus batik sering digelar demi memperluas akses pasar dan memperkuat posisi UMKM batik dalam rantai ekonomi kreatif Jawa Tengah.

“Saya minta sering-sering adakan event UMKM batik. Tidak usah dicampur dengan produk lain, supaya daya saing batik makin kuat,” pesan Luthfi.

Menurutnya, 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki karakteristik batik yang berbeda-beda dan menjadi potensi besar untuk dikembangkan.

Jika para pengrajin difasilitasi dengan baik, UMKM berbasis budaya bisa menjadi pengungkit ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.

Pemilik Batik Windasari, Wiwin, mengucapkan terima kasih atas dukungan Gubernur Jateng dan perhatian pemerintah terhadap pelestarian batik tulis Sragen.

Batik Windasari kini menjadi salah satu sentra batik tulis di Sragen yang menampung puluhan perajin dari berbagai desa sekitar, sebagian besar adalah perempuan.

Salah satu perajin, Waginem, 58, mengatakan, sudah membatik selama lebih dari 30 tahun. Ia mengaku penghasilannya bergantung pada banyaknya pesanan.

“Upah membatik tidak pasti, kadang banyak, kadang sedikit. Kalau harian sekitar Rp40 ribu. Semoga batiknya laris dan bisa diteruskan anak cucu,” ujarnya.

Sementara itu, pembatik asal Desa Gedongan, Siti Rohani, menjelaskan, sistem kerja di Batik Windasari cukup fleksibel karena ada pilihan upah borongan maupun harian.

“Kalau borongan sepotong batik bisa Rp300 ribu, tapi kalau harian Rp40 ribu. Gajiannya tiap Sabtu. Kalau borongan bisa nyambi di rumah, kalau harian kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Harapannya, batik makin maju dan karyawan dapat upah lebih baik,” katanya.

Dengan potensi besar yang dimiliki, Luthfi optimistis Jawa Tengah akan menjadi pusat ekonomi kreatif berbasis batik dan budaya di Indonesia.(ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#gubernur jateng #kliwonan #Ahmad Luthfi #Batik Sragen #ekonomi lokal #umkm #UMKM Batik #batik