RADARSOLO.COM - Sanggar Tari Darma Giri Budaya di Jalan Cempaka, Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri, tampak luas. Cukup untuk menari sekitar 50 orang. Di salah satu sudutnya ada ruangan yang dibatasi dengan kaca. Di dalamnya terdapat aneka kostum untuk menari.
“Itu (kostum menari) disewakan. Hasilnya untuk membantu operasional sanggar,” ujar Loediro.
Sanggar Tari Darma Giri Budaya yang didirikan pada November 2004 itu merupakan hasil keringat Loediro. Menyisihkan sedikit demi sedikit dari honor melatih tari.
Loediro membuktikan bahwa konsistensi dan kolaborasi adalah kunci agar seni tradisi mampu bertahan. Bahkan menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Dunia seni mengalir dalam darah Loediro sejak lahir. Ayahnya adalah seorang pengendang dan salah satu pendiri Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), cikal bakal ISI Surakarta.
Dari tujuh bersaudara yang semuanya seniman, Loediro adalah satu-satunya yang memilih fokus di tari.
"Bapak itu pengendang, ibu menyinden. Anak tujuh itu semuanya seniman. Memang saya dididik sama orang tua, sejak kecil dari TK sudah untuk berkesenian," tuturnya
Di masa remaja, seni menjadi jalan bagi Loediro untuk meringankan beban keluarga. Menyekolahkan tujuh anak, ayah Loediro tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Bapak saya enggak mampu. Saya kelas dua SMKI (setara SMA) sudah mencari uang, mengajar tari," kenangnya.
Dengan upah hanya sekitar Rp15 ribu, Loediro mengajar di beberapa SMP dan SMA di Solo. Jalur pendidikan formal ia tempuh hingga masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (sekarang ISI Surakarta).
Keterbatasan biaya membuat Loediro harus menunda kelulusan dan baru bisa menyelesaikan kuliah pada 1999 setelah mendapat beasiswa. Konsentrasinya di bidang tari semakin menggebu. Loediro mulai membuka sanggar tari di Solo. Termasuk menginisiasi berdirinya Sanggar Saratomo di Taman Budaya Jawa Tengah.
Dari bakatnya itu, Loediro sempat direkrut menjadi tenaga kerja kontrak instansi pemerintahan di Wonogiri. Titik balik datang pada 2007-2008 ketika Loediro mendapat kesempatan langka mengajar di luar negeri.
"Saya putus semua (pekerjaan), fokus ke Kamboja dua tahun kontrak. Itu yang diajar kolaborasi, ada orang Indonesia, Asia, Jepang, Amerika, banyak," jelas Loediro.
Awalnya Loediro berniat tinggal lebih lama di Kamboja. Keluarga besarnya hendak diboyong ke luar negeri. Namun sang ibu dengan halus menolak keinginan Loediro. Akhirnya dia pun pulang ke tanah air.
Tapi tidak ada yang sia-sia. Pengalaman internasional ini memperkuat visinya. Sekembalinya ke Wonogiri, Loediro kembali bekerja sebagai tenaga kontrak di instasi pemerintahan di Wonogiri.
Namun, pada 2021, ia membuat keputusan krusial yang menentukan jalan hidupnya. Mengundurkan diri dari status pegawai. Itu semata-mata karena Loediro ingin lebih bebas berkarya.
Saat ini, Loediro fokus mengembangkan Sanggar Darma Giri Budaya. Sanggar ini menjadi tempat berlatih menari para pelajar dari tari sekitar tujuh sekolah di Wonogiri. Membina lebih dari 150 siswa dari jenjang TK hingga SMA.
Loediro menyadari, melawan serbuan budaya asing hanya bisa dilakukan dengan membuat tradisi relevan. Kiatnya adalah kolaborasi lintas batas.
"Memang sanggar kami tidak hanya melatih (tari klasik).Tapi tidak meninggalkan pakem,” ungkapnya.
“Saya kolaborasi dengan orkestra, saya kolaborasi dengan DJ. Cara seperti ini untuk menarik generasi muda mau berlatih tari,” imbuh Loediro.
Loediro meyakini prinsip hidup Ojo mung golek jenang, ananging goleko jeneng. Yang artinya, jangan hanya mencari gaji besar, mengejar harta atau kekayaan saja, tetapi berusahalah menjadi orang yang terhormat dan terkenal.
Dengan falsafah itu, pencipta Tari Kerincing Nogiren tersebut yakin rezeki terus mengalir dan tidak perlu khawatir kekurangan. Mengenai eksistensi sanggarnya di tengah banyaknya sanggar yang "mati suri," Ludiro menekankan, dirinya menolak praktik mencari untung secara instan.
"Sing marai (yang menyebabkan) mati suri itu pengelolaan sanggar yang tidak tepat. Mereka melihatnya sebagai kesempatan cari untung)," katanya.
Sebab itu, Loediro banyak memberikan keringanan bagi orang tua yang memasukkan buah hatinya ke Sanggar Tari Darma Giri Budaya. Cara ini membuat orang tua merasa ringan dan antusiasme para murid terjaga.
Pria kelahiran Solo 23 November 1971 ini juga selalu memosisikan Sanggar Tari Darma Giri Budaya sebagai mitra kolaborasi, bukan kompetitor bagi sanggar lain.
Loediro berpesan agar seniman, pemerintah, dan komunitas terus berkolaborasi tanpa didominasi ego.
"Apapun, memang seniman egonya kan tinggi. Tetap kita harus kolaborasi, dengan siapapun. Kita kembangkan apa yang kita miliki," tuturnya. (wa/bun)
Editor : Kabun Triyatno