Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

424 Warga Korban Longsor Banjarnegara Segera Direlokasi ke Hunian Sementara, Jateng Percepat Penanganan Pasca Bencana

Syahaamah Fikria • Rabu, 19 November 2025 | 03:54 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (18/11/2025).
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (18/11/2025).

RADARSOLO.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan ratusan warga terdampak longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, tidak akan terlalu lama berada di pengungsian.

Sebanyak 424 jiwa yang kini bertahan di pos darurat akan segera direlokasi ke hunian sementara.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengungkapkan, lahan seluas 2 hektare telah disiapkan di Banjarnegara untuk pembangunan hunian sementara bagi para penyintas bencana.

“Lahan 2 hektare sudah disiapkan. Ini sedang kita koordinasikan dengan Bupati Banjarnegara,” tutur Luthfi usai menghadiri Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (18/11/2025).

Relokasi Harus Cepat, Hunian Tetap Menyusul

Luthfi menegaskan, pemindahan warga harus dilakukan secepat mungkin demi menghindari risiko warga tinggal terlalu lama di tenda pengungsian.

“Hunian sementara ini harus segera terbangun. Jangan sampai masyarakat berada di pengungsian terlalu lama. Untuk hunian tetap akan kita bahas setelahnya,” imbuhnya.

Tak hanya di Banjarnegara, proses relokasi juga akan dilakukan bagi warga terdampak longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Wilayah tersebut turut terdampak bencana dan memerlukan hunian sementara maupun hunian permanen.

Menurut Luthfi, percepatan relokasi adalah bagian dari strategi penanganan pascabencana yang dilakukan secara terpadu mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah daerah hingga BNPB.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati memberikan apresiasi atas langkah cepat Pemprov Jateng dalam upaya penanggulangan bencana.

Ia menilai Jateng menjadi contoh daerah yang responsif dan proaktif.

“Kami mengapresiasi Bapak Gubernur. Kita tidak bisa menunggu bencana terjadi baru bereaksi. Jateng sudah bergerak sejak awal,” kata Raditya.

Daerah Wajib Punya Peta Risiko Bencana

Raditya menekankan pentingnya setiap daerah memiliki peta risiko yang terintegrasi dengan prediksi cuaca dari BMKG.

Hal ini penting untuk mengidentifikasi wilayah dengan potensi hujan ekstrem, banjir, maupun longsor.

“Setiap kabupaten/kota wajib memiliki peta risiko dan meng-overlay-nya dengan perkiraan BMKG. Dari sana bisa terlihat daerah dengan potensi ancaman tinggi,” jelasnya.

Operasi Modifikasi Cuaca Masih Berjalan

BNPB juga memastikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan untuk menekan potensi hujan ekstrem yang dapat menghambat evakuasi maupun proses penanganan di lapangan.

“OMC difokuskan pada daerah yang punya potensi curah hujan di atas 300 mm per hari, terutama di wilayah terdampak agar proses evakuasi dapat berjalan lancar,” terang Raditya.

Pemprov Jateng bersama BNPB menargetkan relokasi dapat dimulai dalam waktu dekat.

Sehingga 424 warga Banjarnegara dan para penyintas di Cilacap bisa segera menempati tempat tinggal yang lebih aman dan layak. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#gubernur jateng #bencana #Ahmad Luthfi #pemprov jateng #Longsor Cilacap #bnpb #longsor #relokasi #Longsor Banjarnegara