Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Viral Petisi Tolak Sekolah Enam Hari di Jateng Hampir Tembus 25 Ribu Tanda Tangan: Siswa Butuh Kesejahteraan Mental dan Fisik

Syahaamah Fikria • Sabtu, 22 November 2025 | 02:14 WIB
Ilustrasi siswa SMA.
Ilustrasi siswa SMA.

RADARSOLO.COM – Penolakan publik terhadap rencana penerapan sekolah enam hari di Jawa Tengah (Jateng) terus menguat.

Sebuah etisi daring yang menolak kebijakan tersebut kini viral dan masih terus mengumpulkan tanda tangan.

Petisi berjudul “Menolak Usulan Kebijakan 6 Hari Sekolah SMA/SMK di Jawa Tengah yang Dimulai Januari 2026”, dibuat oleh Alfariz Hadi pada 12 November 2025.

Dalam pantauan terbaru pada Jumat (21/11/2025) pukul 19.00 WIB, dukungan yang masuk hampir mencapai 25 ribu tanda tangan. Tepatnya sudah terkumpul 23.805 tanda tangan dan terus bertambah.

Isi Petisi Tolak Sekolah Enam Hari di Jateng

Dalam penjelasannya, pembuat petisi menilai sistem sekolah lima hari yang telah berlaku selama ini membawa banyak manfaat bagi siswa, terutama dalam hal kesehatan mental, fisik, dan kualitas waktu bersama keluarga.

Dua hari libur dinilai memberi ruang bagi pelajar untuk beristirahat, melakukan aktivitas kreatif, hingga memulihkan stamina.

Kekhawatiran muncul karena perubahan menjadi enam hari sekolah dianggap akan memperberat tekanan akademik dan mengurangi waktu pemulihan siswa.

"Banyak siswa di sekolah SMA/SMK seluruh provinsi sudah merasa sangat tertekan dengan beban belajar saat ini. Menambah hari menjadi 6 hari sekolah akan lebih mengurangi waktu yang siswa butuhkan untuk rehat istirahat di akhir pekan yang biasanya libur 2 hari," tulis pembuat petisi.

"Tidak ada jaminan bahwa siswa tidak akan merasa semakin lelah dan kurang termotivasi di ruang kelas," imbuh dia.

Lebih lanjut, survei sejumlah lembaga pendidikan yang dikutip dalam petisi menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan kesehatan mental setelah penerapan lima hari sekolah.

Banyak pihak menyebutkan bahwa menambah hari sekolah justru berpotensi membuat siswa lebih lelah, stres, dan tidak fokus di kelas.

"Kita harus mendukung kesejahteraan siswa kita dan memastikan mereka mendapatkan pengembangan yang seimbang dalam pendidikan dan kehidupan pribadi," kata pembuat petisi.

Dia pun meminta Pemprov Jateng untuk mempertimbangkan kembali kebijakan penerapan sekolah enam hari, yang disebut-sebut akan mulai diberlakukan pada semester depan.

Alasan Pemprov Jateng

Sementara itu, Pemprov Jateng melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kini tengah menyusun kajian menyeluruh terkait pengembalian jadwal sekolah menjadi enam hari.

Rencana tersebut awalnya ditujukan untuk jenjang SMA/SMK/sederajat.

Namun tidak menutup kemungkinan diterapkan pada jenjang SD dan SMP, sesuai kebijakan dan kebutuhan pemerintah daerah setempat.

Kajian ini melibatkan akademisi, pakar pendidikan, organisasi profesi, hingga perwakilan masyarakat.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, penerapan lima hari sekolah sebelumnya dilakukan agar siswa memiliki waktu berkumpul bersama keluarga.

Namun, kajian terbaru menunjukkan kontradiksi.

Banyak orang tua di Jawa Tengah masih bekerja enam hingga tujuh hari seminggu, sehingga satu hari libur siswa tidak terawasi secara optimal.

“Dengan kebijakan lima hari sekolah, ada dua hari libur anak, maka ada satu hari yang tanpa pengawasan,” ujar Taj Yasin.

Karena itu, Pemprov Jateng mempertimbangkan kembali sistem enam hari sekolah untuk mengurangi waktu siswa tanpa pendampingan orang tua. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#sekolah enam hari #viral #penolakan sekolah #pemprov jateng #jateng #sekolah lima hari #petisi