RADARSOLO.COM — Sosok istri sah AKBP Basuki, belakangan ikut tuai tanda tanya publik, setelah kematian tragis dosen Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang Dwinanda Linchia Levi, 35, yang ikut menyeret nama sang suami.
Setelah Levi ditemukan tewas tanpa busana di sebuah kostel kawasan Gajahmungkur, Semarang, pertanyaan besar muncul, di mana istri sah AKBP Basuki dan apa perannya dalam penyelidikan?
Kematian dosen Fakultas Hukum Untag itu menggemparkan publik sejak jasadnya ditemukan pada Senin (17/11/2025) dini hari.
Levi berada di kamar kostel nomor 210. Di sanalah selama ini Levi tinggal bersama dengan AKBP Basuki, tanpa ikatan pernikahan sejak tahun 2022.
Dikabatkan istri sah AKBP Basuki telah dipanggil ke Polda Jateng untuk dimintai keterangan.
Namun, pihak kepolisian belum mengonfirmasi secara terbuka.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto tak membantah soal pemeriksaan terhadap istri sah AKBP Basuki.
Namun, dia memilih berhati-hati saat dimintai keterangan.
“Saya perlu memastikan ke penyidik apakah istri dari AKBP B sudah dipanggil atau belum. Informasi resmi akan disampaikan setelah kami menerima laporan lengkap,” kata Artanto, Senin (24/11/2025).
Artanto juga menyebut sejumlah saksi sudah dimintai keterangan.
Tiga saksi awal yang telah diperiksa adalah AKBP Basuki sendiri, penjaga kostel, serta kakak kandung Levi.
Selain saksi manusia, alat bukti elektronik juga tengah dianalisis.
“CCTV kostel, ponsel korban, dan ponsel AKBP B masih didalami tim. Semua rekaman dan data percakapan diperiksa detail,” jelas Artanto.
Nama Istri Sah dan Levi Jadi Satu dalam KK
Sebelumnya, pihak keluarga Levi menemukan kejanggalan terkait data kependudukan korban.
Di mana Levi ternyata masuk dalam satu Kartu Keluarga (KK) bersama AKBP Basuki, istri sah dan satu anaknya.
Hal itu ditemukan saat kakak Levi hendak mengurus surat kematian korban.
Kuasa hukum keluarga korban, Zainal Abidin Petir, mengatakan, dirinya ikut mendampingi kakak Levi mengurus surat kematian.
Saat itu, petugas meminta KK mendiang Levi.
Namun, ketika dilakukan pengecekan data, nama AKBP Basuki muncul sebagai kepala keluarga Levi.
“Saat dicek, nama AKBP Basuki muncul sebagai kepala keluarga. Inilah yang kemudian menghambat proses administrasi,” ujar Zainal.
Zainal menyebut, keluarga merasa syok dan juga sedih.
Namun, menurut keterangan AKBP Basuki, dia nekat memasukkan nama Levi bersama istri dan anaknya dalam satu KK dengan tujuan untuk memudahkan sang dosen membuat KTP Semarang.
Sebab, Levi masih beralamat di Purwokerto. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria