Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Tolak Sekolah Enam Hari, PGRI Jateng Tegas: Guru dan Anak Tak Punya Waktu Berkembang

Syahaamah Fikria • Senin, 1 Desember 2025 | 01:11 WIB
Ketua PGRI Jawa Tengah Muhdi.
Ketua PGRI Jawa Tengah Muhdi.

RADARSOLO.COM — PGRI Jawa Tengah tetap tegas menyatakan sikap tidak setuju atas wacana mengembalikan sistem sekolah enam hari bagi jenjang SMA/SMK.

Kebijakan tersebut dinilai menghambat perkembangan anak dan guru, sekaligus mengabaikan keseimbangan kehidupan keluarga.

Ketua PGRI Jateng Muhdi mengatakan, kebijakan sekolah lima hari yang berjalan saat ini sudah dirancang berdasarkan kebutuhan anak, keluarga, dan tenaga pendidik.

“Sejak awal lima hari sekolah diputuskan agar anak memiliki dua hari penuh untuk keluarga. Orang tua adalah pendidik utama, sekolah hanya membantu. Anak pun memerlukan waktu bermasyarakat,” ujarnya.

Sabtu Seharusnya Jadi Hari Pengembangan Diri Guru

Muhdi menjelaskan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya telah menegaskan bahwa dalam sepekan harus ada satu hari khusus yang dialokasikan untuk pengembangan diri.

Dengan demikian, hari Sabtu idealnya digunakan guru untuk meningkatkan kompetensi profesional sekaligus waktu berkumpul bersama keluarga.

“Kebutuhan pengembangan diri guru tidak bisa diabaikan. Itulah mengapa Sabtu jangan diisi kegiatan belajar-mengajar rutin,” jelas Muhdi.

Menurut PGRI Jateng, kebijakan lima hari sekolah telah mengakomodasi berbagai sudut pandang. Mulai dari psikologi anak, peran orang tua, kebutuhan guru hingga efisiensi ekonomi.

Bagi anak, libur dua hari memberi ruang untuk interaksi sosial, istirahat cukup, serta pembentukan karakter di luar sekolah.

Bagi guru, Sabtu dapat digunakan untuk pelatihan atau pengembangan karier.

Bagi orang tua, ritme ini sesuai karena mayoritas pekerja juga libur akhir pekan.

Dari sisi ekonomi, banyak siswa SMA/SMK di Jateng menempuh perjalanan jauh ke sekolah, sehingga lima hari lebih efisien dari sisi transportasi.

"Anak-anak SMA/SMK itu rata-rata jarak rumah ke sekolah jauh sehingga membutuhkan transportasi. Dengan lima hari sekolah, lebih efisien," ucap Muhdi.

Pengawasan Anak Bukan Alasan Kembali ke Enam Hari Sekolah

Menanggapi alasan bahwa sekolah enam hari dibutuhkan untuk memperkuat pengawasan anak, Muhdi menegaskan bahwa hal itu tidak tepat.

Pengawasan, menurutnya, merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua dan sekolah.

Muhdi menambahkan, anak usia SMA/SMK juga membutuhkan waktu luang untuk menekuni minat dan bakat yang tidak semuanya tersedia di sekolah, seperti latihan sepak bola, bulu tangkis, atau pengembangan soft skills lain.

“Kalau Sabtu ikut sekolah lagi, kapan anak punya waktu mengembangkan potensi yang justru bisa menentukan masa depan mereka?” pungkasnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, PGRI Jateng secara tegas menolak penerapan kembali sistem sekolah enam hari dan meminta kebijakan pendidikan tidak berubah berdasarkan pertimbangan sesaat. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#sekolah enam hari #sma/smk #PGRI Jateng #pgri #guru #sekolah lima hari