Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Adakah Kaitan Luhut Binsar Pandjaitan, Joseph Oetomo, PT Toba Pulp Lestari dan Banjir Sumatera? Ini Duduk Persoalannya

Syahaamah Fikria • Kamis, 4 Desember 2025 | 01:05 WIB
Pemilik PT Toba Pulp Lestari Terungkap: Ini Sosok yang Sebenarnya dan Fakta Kepemilikannya, Benarkah Perusahaan Ini Penyebab Banjir Sumatra?
Pemilik PT Toba Pulp Lestari Terungkap: Ini Sosok yang Sebenarnya dan Fakta Kepemilikannya, Benarkah Perusahaan Ini Penyebab Banjir Sumatra?

RADARSOLO.COM – Isu soal keterkaitan elit dan korporasi kembali mencuat setelah bencana banjir dan longsor besar melanda Sumatera Utara.

Di tengah kemarahan publik, nama PT Toba Pulp Lestari (TPL), Joseph Oetomo, hingga Luhut Binsar Pandjaitan ikut terseret dalam perbincangan netizen.

Operasional TPL yang bergerak di industri bubur kayu (pulp) dituding turut memperparah rusaknya ekosistem di kawasan hulu.

Tuduhan ini semakin kuat setelah banjir bandang menelan ratusan korban jiwa dalam peristiwa yang dipicu cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.

Namun, benarkah ada keterkaitan antara perusahaan, pemiliknya, dan tokoh politik tersebut?

Pemilik PT Toba Pulp Lestari Disorot Usai Bencana Banjir Sumatera

PT Toba Pulp Lestari, Tbk menjadi sorotan karena aktivitas hutan tanaman industri (HTI) yang mereka kelola disebut-sebut berpengaruh pada kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru.

Berdasarkan dokumen keterbukaan Bursa Efek Indonesia, mayoritas saham TPL kini dimiliki Allied Hill Limited, perusahaan yang berbasis di Hong Kong.

Perusahaan ini terhubung dengan Joseph Oetomo, warga negara Singapura yang menjadi pengendali baru saham TPL melalui perusahaan investasi miliknya, Everpro Investments Limited.

Allied Hill mengambil alih saham TPL dari pemilik sebelumnya, Sukanto Tanoto, dan kini menguasai sekitar 92,42 persen saham perseroan.

Lalu Apa Hubungannya dengan Luhut Binsar Pandjaitan?

Nama Luhut ikut terseret karena publik mengaitkan dirinya dengan PT Toba Sejahtera, perusahaan yang beberapa kali dikaitkan dengan aktivitas bisnis di Sumatera Utara.

Namun catatan resmi menunjukkan bahwa PT Toba Pulp Lestari dan PT Toba Sejahtera adalah entitas berbeda.

Tidak ada data kepemilikan langsung Luhut terhadap Toba Pulp Lestati.

Struktur kepemilikan TPL saat ini berada di bawah kendali aset asing melalui Joseph Oetomo.

Dengan demikian, keterlibatan Luhut dalam operasional TPL tidak memiliki dasar data.

TPL Kelola 167.912 Hektare Hutan Tanaman Industri

Menurut laporan resmi TPL, perusahaan memegang lisensi pengelolaan hutan tanaman industri seluas 167.912 hektare yang tersebar di sejumlah titik di Sumatera Utara.

Di antaranya yakni di Aek Nauli, Habinsaran, Tapanuli Selatan, Aek Raja dan Tele.

Dari luas tersebut, perusahaan mengklaim bahwa hanya ±46 ribu hektare yang ditanami eucalyptus untuk produksi

Sisanya digunakan sebagai area lindung dan konservasi.

WALHI Sumut Sebut Aktivitas TPL Pengaruhi Ekosistem Batang Toru

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menyebut TPL berpengaruh pada kerentanan ekosistem Batang Toru, yang meliputi Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Kota Sibolga.

WALHI menilai kerusakan lingkungan di area tersebut memperparah dampak banjir bandang saat cuaca ekstrem menghantam wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.

"Bencana tersebut paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru," ujar Direktur Eksekutif WALHI Sumut Rianda Purba

TPL Bantah Tuduhan

Menanggapi tudingan itu, PT Toba Pulp Lestari melalui Corporate Secretary Anwar Lawden, membantah keras bahwa operasional perusahaan menjadi penyebab bencana ekologis tersebut.

Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan HTI telah melewati penilaian High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) oleh pihak ketiga.

Anwar juga mengklaim bahwa perusahaan mengikuti standar Pengelolaan Hutan Lestari.

Termasuk selalu membuka ruang dialog dengan masyarakat, pemerintah, dan kelompok sipil.

“Informasi yang disampaikan publik seharusnya berbasis data akurat dan dapat diverifikasi,” ujarnya. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#joseph oetomo #walhi #banjir sumatera #PT Toba Pulp Lestari #Luhut Binsar Padjaitan #kerusakan lingkungan