Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kondisi 2 Pelari Siksorogo Lawu Ultra 2025 Sebelum Meninggal Terungkap, Ada Informasi Kesehatan yang Tak Dilaporkan?

Syahaamah Fikria • Rabu, 10 Desember 2025 | 05:10 WIB
Ribuan peserta saat mengikuti kegiatan Siksorogo Lawu Ultra 2025.
Ribuan peserta saat mengikuti kegiatan Siksorogo Lawu Ultra 2025.

RADARSOLO.COM — Fakta baru terungkap di balik meninggalnya dua peserta event marathon trail Siksorogo Lawu Ultra 2025.

Kedua pelari ternyata memiliki riwayat penyakit bawaan yang tidak diungkapkan saat mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum start.

Kondisi itu membuat keduanya tidak mampu bertahan ketika menghadapi cuaca dingin dan tekanan fisik ekstrem di jalur Gunung Lawu.

Dua peserta yang meninggal tersebut yakni Sigit Joko Purnomo, 45, Kepala Biro Hukum Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Serta Pujo Buntoro, 55, staf Kemenag Solo yang juga suami Kabag Perekonomian Setda Karanganyar, Asih Srihandayani.

Punya Komorbid Tidak Dilaporkan ke Panitia

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah, Muhamad Masrofi mengatakan, Siksorogo Lawu Ultra sejatinya telah terselenggara selama enam tahun.

Dalam setiap penyelenggaraan, event ini selalu menerapkan standar keamanan yang ketat sesuai SOP untuk para peserta.

Mulai dari pengecekan kesehatan, pengecekan riwayat penyakit hingga dukungan medis di titik-titik rawan, dan lain sebagainya.

Namun demikian, insiden meninggalnya dua pelari saat event, disebut karena korban tidak menyampaikan riwayat penyakit yang mereka miliki.

“Korban dari Kemenpar punya riwayat jantung, tapi tidak dilaporkan dalam pemeriksaan kesehatan. Sementara yang satu memiliki gangguan paru dan saat berlari dalam kondisi udara dingin, asmanya kambuh,” ujar Masrofi, Selasa (9/12/2025).

Ia menjelaskan, serangan jantung mendadak yang dialami Sigit terjadi ketika menjalani rute menanjak.

Sementara Pujo mengalami sesak napas hebat karena kondisi suhu pegunungan yang lembap dan dingin.

Didampingi Ajudan dan Sempat Ditolong Dokter Spesialis Jantung di Lokasi

Saat ikut lomba, Pujo Buntoro berlari bersama ajudan.

Sementara Joko mengikuti event ini sambil mendampingi sang istri yang juga menjadi peserta.

Ketika keduanya mengalami kondisi kritis, penanganan cepat telah dilakukan.

“Korban sempat ditolong peserta lain yang ternyata dokter spesialis jantung. Namun kondisi korban memang sudah berat,” ungkap Masrofi.

Panitia juga menyiagakan ambulans, tim medis, dan ratusan relawan sebagai bagian mitigasi risiko, termasuk jalur evakuasi cepat bagi peserta yang tumbang.

Panitia Sudah Sesuai SOP dan Temui Keluarga Korban

Dinas dan panitia event mengaku telah menjalankan prosedur sesuai standar.

Bahkan, setelah insiden tersebut, pihak penyelenggara langsung menyambangi dua rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa.

“Kami turut berduka cita. Keluarga menerima dengan lapang dada,” ungkapnya.

Masrofi menekankan bahwa seluruh peserta seharusnya jujur mengenai kondisi kesehatan masing-masing agar panitia dapat melakukan pengawasan khusus.

Merespons kasus ini, Disporapar Jateng mengimbau masyarakat yang memiliki penyakit jantung, hipertensi, atau gangguan paru agar mempertimbangkan secara matang sebelum mengikuti lomba ekstrem seperti ultra trail.

Masing-masing peserta juga wajib menandatangani surat pernyataan kesehatan secara jujur sebelum lomba.

“Asuransi hanya meng-cover kecelakaan dan cedera. Untuk penyakit bawaan, tentu berbeda penanganannya bila peserta tidak mengungkapkan,” jelas Masrofi. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#jantung #gunung lawu #Sigit Joko Purnomo #penyakit bawaan #siksorogo #siksorogo lawu ultra 2025 #pujo buntoro #meninggal #asma #pelari