Oleh: Bondet Wrahatnala, Rektor ISI Surakarta
RADARSOLO.COM - Institut Seni Indonesia Surakarta berduka. Salah satu dosen dan begawan akademik, Prof. Dr. F.X. Mudji Sutrisno, SJ, atau akrab dipanggil Romo Mudji telah berpulang. Kepergian beliau meninggalkan jejak yang begitu mendalam dalam perjalanan intelektual di lingkungan akademik, terutama di Program Pascasarjana ISI Surakarta.
Pria kelahiran Solo 12 Agustus 1954, selain masih tercatat sebagai salah satu dosen aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ini juga dikenal luas sebagai filsuf, budayawan, dan juga rohaniwan. Bagi sivitas ISI Surakarta, beliau lebih dari sekadar pengajar atau narasumber keilmuan. Ia adalah penjaga etos berpikir kritis, perawat dialog lintas disiplin, dan penuntun kepekaan humanisme dalam dunia akademik khususnya di bidang seni dan budaya.
Di lingkungan ISI Surakarta, Romo Mudji hadir sebagai dosen yang memperkaya cakrawala berpikir mahasiswa. Filsafat, etika, dan refleksi kebudayaan yang diajarkan tidak pernah berhenti pada tataran konsep. Ia selalu mengaitkannya dengan praktik kesenian, realitas sosial, dan tanggung jawab intelektual seorang akademisi seni. Baginya, seni bukan hanya ekspresi estetis, melainkan ruang dimana nilai, makna, dan kemanusiaan saling berkelindan.
Di ruang kelas Romo Mudji tidak menjadikan ruang satu arah. Ia menjadikannya sebagai ruang diskusi dan bertukar wawasan keilmuan. Dengan gaya tutur yang tenang dan reflektif, Romo Mudji tidak memosisikan diri sebagai otoritas yang harus selalu benar, melainkan sebagai mitra berpikir. Dalam suasana itulah banyak mahasiswa menemukan keberanian intelektualnya: untuk bertanya, menjadi berbeda, dan mampu bertanggung jawab atas pemikirannya sendiri.
Sebagai bagian dari entitas akademik ISI Surakarta, Romo Mudji juga memainkan peran penting dalam mempertemukan filsafat dengan seni dan budaya. Ia selalu menggaungkan bahwa pengembangan ilmu seni tidak boleh tercerabut dari nilai-nilai etis dan kemanusiaan. Dalam berbagai diskusi, seminar, maupun forum akademik, beliau menegaskan bahwa seni memiliki tanggung jawab sosial dan menjadi suara bagi kemanusiaan, sekaligus ruang refleksi bagi peradaban.
Kepribadian Romo Mudji mencerminkan apa yang diajarkan. Kesederhanaan, kerendahan hati, dan sikap menghargai setiap orang menjadi laku hidup yang konsisten. Ia hadir sebagai rohaniwan yang tidak menghakimi, sebagai intelektual yang tidak menggurui, dan sebagai dosen yang sungguh-sungguh mendampingi proses tumbuh mahasiswa. Ini berimbas pada banyaknya kolega dan mahasiswa mengenangnya sebagai sosok yang mampu menenangkan, sekaligus menajamkan kesadaran.
Kepergian Romo Mudji Sutrisno adalah kehilangan bagi ISI Surakarta. Namun nilai-nilai yang beliau tanamkan, tentang integritas berpikir, keberpihakan pada martabat manusia, dan pentingnya dialog lintas disiplin akan terus hidup dalam tradisi akademik yang selalu dirawat.
Sebagai pimpinan yang mewakili sivitas akademika Institut Seni Indonesia Surakarta, saya menyampaikan duka cita yang mendalam. Terima kasih atas pengabdian, pemikiran, dan keteladanan yang telah Romo Mudji Sutrisno berikan. Jejak intelektual dan kemanusiaannya akan selalu menjadi ada dan menjadi bagian penting dari perjalanan ISI Surakarta dalam merawat seni, ilmu, dan kemanusiaan.
Selamat jalan, Romo. Warisan pikiran dan keteladananmu akan terus kami jaga dan hidupkan. (*)
Editor : Kabun Triyatno