RADARSOLO.COM - Bencana banjir dan longsor di Sumatera, akhir 25 November dan awal Desember kemarin menyedot keprihatinan banyak pihak. Bahkan ada pula yang langsung terjun ke lokasi dalam rangka misi kemanusiaan. Seperti dilakukan anggota SAR MTA Solo.
Bermodal pengalaman dan keinginan untuk berkontribusi dalam misi kemanusiaan, belasan anggota SAR MTA Solo berangkat ke Sumatera Barat. Datang ke wilayah rawan bencana, mereka hanya bermodal armada Mitsubishi L300 dan peralatan seadanya seperti mesin gergaji kayu, mesin pemotong beton dan besi, hingga mesin diesel air irigasi.
Rombongan ini bertolak dari Kota Bengawan pada 29 Desember. Mereka harus menempuh perjalanan darat selama empat hari, dengan tujuan Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Setiba di sana, mereka bergabung dengan relawan SAR MTA lainnya dari berbagai daerah. Terutama yang lebih dulu beroperasi di wilayah Dharmasraya dan Jambi.
“Kami dari Solo sebelas orang, tambah satu orang rekan dari Jakarta,” kata Heri Niyama Satya, Koordinator Giat SAR MTA.
Dari Solo, Heri dkk sengaja tidak membawa bekal logistik. Karena dari pengamatan lokasi yang sudah dilakukan sebelumnya, kebutuhan di titik bencana difokuskan untuk evakuasi korban banjir dan longsor yang sudah berhari-hari tertimbun dan belum ditemukan.
Setelah tiba pada 2 Desember, fokus utama tim dari Solo yakni melakukan pencarian para korban yang tertimbun lumpur. Kedalaman lumpur antara 0,5-1 meter, bahkan lebih.
“Saat itu kondisinya cukup ekstrem. Masih ada hujan dan kejadian susulan untuk beberapa waktu. Jadi, memang harus hati-hati agar tidak ada korban tambahan saat evakuasi. Karena fokus kami untuk evakuasi korban yang tertimbun. Kondisinya tertutup lumpur,” jelasnya.
Jasad-jasad yang dicari, mayoritas korban peristiwa Galodo. Ini istilah penduduk lokal terhadap banjir bandang yang melanda akhir November kemarin. Meski kondisinya tidak seekstrem Sibolga (Sumatera Utara) dan Aceh Tamiang (Aceh), bisa dipastikan hampir seluruh wilayah kondisinya parah. Misalnya di Palembayan, Agam, Sumatera Barat. Rumah-rumah di empat desa itu hancur diterjang Galodo.
“Situasinya mirip-mirip dengan reportase di lapangan dari media-media yang turun ke lokasi. Bahkan ada beberapa titik yang parah dan tidak terkekspos, karena aksesnya terputus,” ujarnya.
“Misalnya di Palembayan, rumah-rumah rusak diterjang Galodo. Hanya menyisakan fondasinya saja. Banyak bangunan tertimbun lumpur yang pijakannya tidak stabil juga. Ini yang cukup menantang saat evakuasi dilakukan,” kenang Heri.
Selama belasan hari SAR MTA Solo berada di lokasi bencana, 2-13 Desember, mereka terjun ke lapangan hanya bermodal tongkat seadanya. Ditunjang dengan indra penciuman yang tajam, untuk menyisir timbunan lumpur yang tidak stabil.
Jangan dibayangkan tongkat yang dipakai untuk proses evakuasi. Sebab tongkat itu kadang berasal dari potongan barang yang ditemukan di lokasi bencana.
“Tongkatnya bisa apa saja. Kadang dari batang tanaman sawit. Intinya yang bisa dipakai untuk menusuk lumpur dengan dalam selama pencarian dilakukan,” beber Heri.
Sebagai gambaran, saat berada di area yang disisir untuk pencarian korban meninggal dunia, para relawan kemanusiaan ini akan menyebar di beberapa area sembari menusuk-nusukkan tongkat kecil yang mereka bawa. Setiap tongkat ditusukkan, diikuti gerakan mendekatkan ujung tongkat ke hidung.
Daya semacam ini untuk mengetahui, apakah ada objek yang diduga jasad manusia di dalam timbunan lumpur atau tidak. Hanya mengandalkan insting sebagai seorang relawan.
“Kami mengandalkan feeling dan tongkat. Kalau pas kena objek yang diduga jasad manusia, pasti akan ketahuan. Karena aromanya beda dengan hewan atau lainnya. Setelah dipastikan ada jasad manusia, baru dilakukan pengerukan dengan eskavator,” jelas Heri.
Jasad yang berhasil ditemukan, selanjutnya dimasukkan ke kantong jenazah untuk diidentifikasi kepolisian. Selama bertugas di Aceh, lebih dari 200 jasad ditemukan.
“Ada beberapa jasad tidak utuh. Di akhir-akhir pencarian sebelum balik ke Solo, kami temukan bagian kaki saja, tangan saja, atau panggul saja. Yang jelas situasinya ekstrem, apalagi lokasinya dekat dengan aliran sungai yang ada buaya dan hewan liar lainnya,” beber Heri.
Tepat pada 13 Desember, relawan SAR MTA dari Solo meninggalkan lokasi bencana. “SAR MTA terbentuk sejak 2010 dan sudah tersebar di beberapa kota. Sampai sekarang anggota kami lebih dari 1.200 orang,” imbuh Heri. (ves/fer)
Editor : Niko auglandy