RADARSOLO.COM - Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans mengejutkan publik dengan langkah beraninya membuka tabir masa kecilnya yang kelam.
Melalui memoar terbaru berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie membagikan kisah perjuangannya sebagai penyintas hubungan manipulatif yang ia alami sejak masih di bawah umur.
Berbeda dengan karya komersial lainnya, buku ini dibagikan secara gratis sebagai bentuk dedikasi Aurelie untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya toxic relationship dan grooming.
Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan secara mendalam pengalaman pahitnya saat terjerat hubungan tidak sehat dengan seorang pria dewasa yang ia samarkan dengan nama "Bobby".
Hubungan tersebut dimulai saat Aurelie baru menginjak usia 15 tahun—sebuah fase usia yang sangat rentan.
Perlu diketahui, kekerasan seksual terhadap anak sering kali tidak terjadi secara mendadak.
Ada proses manipulasi sistematis yang dikenal dengan istilah grooming.
Apa Itu Grooming?
Berdasarkan definisi dari National Office for Child Safety, grooming adalah perilaku disengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan anak, keluarga, hingga lingkungan pendukungnya dengan tujuan akhir melakukan pelecehan atau kekerasan seksual.
Penting untuk dipahami bahwa grooming tetap dianggap sebuah kejahatan meskipun pelecehan seksual fisik belum terjadi.
Mengapa Pelaku melakukan Grooming?
Tindakan ini dilakukan melalui proses yang sangat halus dan menipu. Beberapa tujuan utamanya antara lain:
Baca Juga: Apa Kaitannya Joshua Suherman dan Aurelie Moeremans? Dibahas Netizen Usai Rilis Buku Broken Strings
- Mendapatkan akses tanpa pengawasan kepada anak atau remaja.
- Memperoleh materi seksual (foto/video) korban.
- Membangun kepatuhan agar korban tetap diam dan merahasiakan pelecehan.
- Menghindari terdeteksinya aksi bejat pelaku oleh orang dewasa di sekitar korban.
Mengapa Grooming Sulit Dideteksi?
Pelaku grooming sering kali menampilkan citra sebagai orang yang menawan, jujur, dan sangat peduli.
Mereka meluangkan waktu berminggu-minggu hingga bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan.
Sering kali, perilaku mereka tampak seperti perhatian tulus, sehingga orang tua atau pengasuh sulit membedakannya dengan tindakan jahat.
5 Tahapan Umum Perilaku Grooming
Menurut organisasi perlindungan anak Bravehearts, terdapat beberapa tahapan yang biasa dilakukan pelaku (meskipun urutannya bisa bervariasi):
- Menentukan Sasaran: Pelaku biasanya mengincar anak yang rentan, seperti mereka yang terisolasi secara sosial, kurang percaya diri, atau berasal dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan.
- Membangun Kepercayaan: Pelaku memposisikan diri sebagai sosok murah hati dan bereputasi baik. Mereka kerap memberi perhatian khusus atau hadiah, tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada anggota keluarga lainnya.
- Isolasi Secara Bertahap: Setelah dipercaya, pelaku perlahan memisahkan korban dari sistem pendukungnya (teman dan keluarga). Mereka berusaha menjadi "satu-satunya" sosok yang memberikan dukungan emosional bagi korban.
- Seksualisasi: Pelaku mulai memperkenalkan konten atau diskusi seksual secara perlahan untuk menormalisasi hal tersebut. Ini adalah tahap transisi menuju pemaksaan aktivitas seksual atau pembuatan konten pornografi anak.
- Kontrol dan Ancaman: Pelaku menggunakan rasa malu, rasa bersalah, rahasia, hingga ancaman untuk memastikan korban tetap berada dalam kendalinya dan tidak melapor. (wa)