RADARSOLO.COM - Nama Napan Group kini jadi perhatian publik nasional setelah kabar duka meninggalnya Rylan Henry Pribadi, cucu pendiri grup tersebut, dalam kecelakaan ski di Jepang.
Tragedi ini memicu rasa penasaran masyarakat terhadap sosok keluarga Pribadi serta jejak bisnis besar yang telah dibangun selama lebih dari lima dekade.
Napan Group dikenal sebagai salah satu konglomerasi besar Indonesia era 1980–1990-an, dengan portofolio usaha yang tersebar di sektor petrokimia, properti, industri, hingga perdagangan.
Grup ini dirintis oleh Henry Setiawan Pribadi, pengusaha asal Kudus, Jawa Tengah, yang lahir pada 1948 dan dikenal juga dengan nama Liem Oen Hauw.
Awal Berdiri: Dari Usaha Keluarga hingga Korporasi Besar
Napan Group bermula dari perusahaan bernama PT Nawa Panduta, yang kemudian berganti nama menjadi PT Napan Persada.
Perusahaan ini dirintis pada Maret 1972 oleh Henry Pribadi bersama dua saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi.
Cikal bakal bisnis Napan sejatinya berasal dari usaha dagang milik orang tua mereka.
Pada 1965, Henry Pribadi yang kala itu berencana melanjutkan studi ke Jerman diminta keluarga untuk terjun langsung membantu mengembangkan bisnis.
Sebagai anak tertua, Henry memutuskan membatalkan rencana kuliahnya dan fokus membesarkan usaha keluarga yang saat itu masih berskala kecil.
Jejak Awal Bersama Grup Salim dan Indocement
Dalam fase awal pengembangan bisnis, Henry Pribadi sempat mendapat dukungan dari Grup Salim (dulu PT Waringin Kentjana).
Hubungan ini terjalin karena kedekatan keluarga dengan Djuhar Sutanto, rekan Sudono Salim.
Sejak 1966, Henry bekerja sebagai staf administratif di PT Waringin Kentjana, sekaligus memperluas pengalaman bisnisnya.
Ia juga sempat bekerja di Indocement, sebelum akhirnya memilih berdiri mandiri dan membangun Napan Group sebagai entitas bisnis independen.
Seiring waktu, Henry berhasil keluar dari bayang-bayang konglomerat besar dan menapaki jalannya sendiri.
Ekspansi dan Puncak Kejayaan Napan Group
Diversifikasi bisnis Napan Group mulai agresif dilakukan sejak pertengahan 1980-an.
Grup ini memiliki saham di berbagai perusahaan, baik secara langsung maupun melalui kepemilikan keluarga Pribadi.
Pada era 1990-an, Napan Group masuk jajaran konglomerasi terpandang Indonesia.
Pada 1991, Napan tercatat berada di peringkat ke-39 konglomerasi terbesar nasional.
Sementara pada 1996, pendapatan grup ini mencapai sekitar Rp 1,165 triliun, dengan total 36 anak perusahaan menjelang akhir dekade tersebut.
Daftar Portofolio Bisnis Strategis Napan Group
Dalam perjalanannya, Napan Group tercatat memiliki dan terlibat dalam berbagai perusahaan besar, antara lain:
- PT Polypet Karyapersada, produsen PET resin.
Perusahaan ini sempat terjerat utang Rp 213 miliar pada 1999, sebelum asetnya diakuisisi Indorama Ventures Pcl pada 2012.
- PT Tri Polyta Indonesia, yang sahamnya dimiliki bersama Bimantara Citra, Prajogo Pangestu, Napan, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono.
Saham Napan dilepas pada 1999, dan kini perusahaan sepenuhnya dimiliki oleh Prajogo Pangestu.
- Keterlibatan dalam distribusi terigu Bogasari.
- Kepemilikan 3,3 persen saham Astra International, yang dilepas pada September 1997.
- Amcol Holdings (Singapura), dilepas pada 1997.
- Perusahaan patungan di Bangkok, Thailand.
- PT Bali Perkasa Sukses, yang sejak 2012 sahamnya dipegang Agung Podomoro Land.
- PT Kuningan Persada, pengembang kawasan bisnis Kuningan, Jakarta.
- Menara Imperium, melalui PT Pacific Metrorealty.
- Proyek apartemen bersama PT Sarilembah Tirtahijau, PT Dewata Persada, dan PT Kuningan Persada.
- Kawasan industri melalui PT Panca Puripermata Indah, PT Multi Dwimakmur, dan PT Dwi Marunda Makmur.
- PT Astenia, agen perdagangan kimia Nalco.
- PT Megarimba Karyatama dan PT Adhikara Nirmala, serta sejumlah entitas lain.
Di sektor petrokimia, sejumlah aset Napan sempat beralih kepemilikan menjadi milik Bank Mandiri, sebelum akhirnya diambil alih Indorama Ventures dan berganti nama menjadi PT Indorama Petrochemicals pada 2012.
Krisis Moneter dan Restrukturisasi Besar-besaran
Krisis ekonomi Asia 1997–1998 menjadi titik balik besar bagi Napan Group.
Perusahaan ini tercatat sebagai obligor besar BPPN, dengan total kewajiban mencapai Rp 2,98 triliun, menjadikannya obligor ke-9 terbesar saat itu.
Pendapatan grup pun anjlok hingga sekitar Rp 570 miliar.
Untuk bertahan, Napan Group melakukan restrukturisasi besar dengan melepas kepemilikan di berbagai sektor, termasuk petrokimia, perkebunan sawit, dan penyiaran.
Henry Pribadi juga melakukan negosiasi intensif dengan BPPN hingga tercapai kesepakatan penyelesaian utang.
Hasil restrukturisasi membuat skala bisnis Napan mengecil, namun kondisi keuangan perusahaan dinilai lebih sehat dan stabil.
Kekayaan Henry Pribadi
Meski tidak lagi sebesar masa keemasannya, Henry Pribadi tetap tercatat sebagai pengusaha papan atas.
Pada 2019, ia masuk daftar orang terkaya Indonesia peringkat ke-72, dengan estimasi kekayaan mencapai US$ 515 juta.
Kini, nama Napan Group kembali ramai diperbincangkan publik, bukan karena ekspansi bisnis, melainkan akibat kabar duka wafatnya cucu sang pendiri dalam kecelakaan ski di Jepang. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria