RADARSOLO.COM — Bukit Mongkrang di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, mendadak menjadi sorotan publik.
Bukit yang selama ini dikenal ramah bagi pendaki pemula itu kini menyimpan cerita pilu, menyusul hilangnya Yasid Ahmad Firdaus, 26, pendaki asal Gawanan, Colomadu, Karanganyar.
Hingga hari ke-13 sejak dilaporkan hilang, upaya pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan belum membuahkan hasil.
Operasi resmi akhirnya dihentikan, meninggalkan tanda tanya besar terkait nasib Yasid yang menghilang di kawasan Bukit Mongkrang.
Pencarian Intensif Hingga Jurang 200 Meter
Kasubsie Operasi Basarnas Surakarta Basuki menyampaikan, tim SAR bersama relawan telah menyisir seluruh jalur pendakian yang ada di Bukit Mongkrang.
Area pencarian meliputi jalur utama dari basecamp hingga puncak.
Termasuk jalur Taman Nogo dan lintasan yang kerap digunakan dalam event lari Siksorogo 2025.
Tak hanya itu, tim juga menelusuri area ekstrem berupa jurang sedalam sekitar 200 meter di sekitar Pos 3.
Metode vertical rescue diterapkan, bahkan tim menjalankan flying camp di kawasan Candi 1 selama tiga hari berturut-turut.
“Kami menyisir sisi barat hingga ke sumber air di sungai. Sampai sore hari, hasilnya masih nihil,” ungkap Basuki.
Lantas, seperti apa sebenarnya pendakian Bukit Mongkrang?
Jalur Favorit Pendaki Pemula
Di balik tragedi tersebut, Bukit Mongkrang sejatinya dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian favorit di kaki Gunung Lawu.
Secara administratif, bukit ini berada di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bukit Mongkrang memiliki ketinggian sekitar 2.194 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Medannya relatif bersahabat dengan jarak pendakian sekitar 3 kilometer dari basecamp, sehingga kerap dipilih sebagai jalur adaptasi sebelum mendaki Gunung Lawu.
Waktu tempuh pendakian rata-rata hanya 2–4 jam, tergantung kondisi fisik pendaki.
Karena itulah, banyak pendaki memilih sistem tektok atau naik-turun dalam satu hari tanpa bermalam.
Tiga Puncak dan Panorama Gunung Lawu
Bukit Mongkrang memiliki beberapa titik puncak yang kerap disalahartikan sebagai puncak utama.
Secara umum, pendaki akan melewati Candi 1, Candi 2, dan puncak Mongkrang sesungguhnya di ketinggian 2.194 mdpl.
Sebagian besar pendaki memilih berhenti di Candi 1 karena area ini cukup luas dan datar, sangat ideal untuk berkemah.
Dari titik ini, hamparan savana ilalang menjadi daya tarik utama, terutama saat musim kemarau.
Pendaki yang melanjutkan hingga puncak tertinggi akan disuguhi pemandangan kawah Candradimuka Gunung Lawu, di mana asap belerang kerap terlihat keluar dari celah kawah.
Di sisi barat, panorama Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing tampak berjajar di balik lautan awan.
Spot Favorit di Bukit Mongkrang
Beberapa lokasi yang paling sering dikunjungi pendaki antara lain:
1. Candi 1 dan Candi 2
Sekitar 60–70 menit dari titik awal, pendaki akan tiba di Candi 1 dan Candi 2.
Meski namanya “candi”, kawasan ini berupa lapangan terbuka yang luas dan datar, cocok untuk mendirikan tenda.
2. Savana Mongkrang
Setelah Candi 2, jalur akan membawa pendaki ke savana terbuka.
Padang rumput luas ini menjadi spot foto favorit dengan latar Gunung Lawu yang megah.
3. Puncak Bukit Mongkrang
Dari puncak, pengunjung dapat menikmati panorama alam yang dramatis, terutama saat matahari terbit dan terbenam.
Tiket Masuk dan Lokasi
Untuk menikmati keindahan Bukit Mongkrang, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp15.000 pada hari biasa dan Rp20.000 saat akhir pekan atau hari libur.
Biaya tersebut dinilai sebanding dengan panorama dan pengalaman pendakian yang ditawarkan.
Bukit Mongkrang selama ini dikenal sebagai jalur pendakian edukatif yang sejuk dan menenangkan.
Namun, peristiwa hilangnya Yasid Ahmad Firdaus menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas pendakian, meski tergolong ringan, tetap menyimpan risiko.
Bukit Mongkrang kini tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tapi juga saksi bisu sebuah misteri yang masih belum terjawab. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria