Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bagaimana Hukum Puasa Nisfu Syaban 2026? Penjelasan Lengkap Berdasarkan Hadis dan Pendapat Ulama

Syahaamah Fikria • Senin, 2 Februari 2026 | 21:58 WIB
Membaca niat puasa sunnah Senin Kamis.
Membaca niat puasa sunnah Senin Kamis.

RADARSOLO.COM - Umat Islam kembali menyambut datangnya malam Nisfu Syaban 2026, sebuah momen penting yang kerap dimaknai sebagai waktu penuh keberkahan dan ampunan menjelang Ramadan.

Di balik keutamaannya, muncul pertanyaan yang sering diperdebatkan setiap tahun.

Bagaimana sebenarnya hukum puasa pada siang hari Nisfu Syaban menurut ajaran Islam?

Untuk menjawabnya, perlu merujuk pada dalil hadis serta penjelasan para ulama lintas mazhab agar umat Islam tidak keliru dalam menjalankan ibadah.

Keistimewaan Malam Nisfu Syaban dalam Islam

Nisfu Syaban adalah malam pertengahan bulan Syaban, yang dalam banyak riwayat disebut sebagai salah satu malam istimewa.

Melansir NU Online, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi, dijelaskan bahwa pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai ketentuan penting bagi manusia, mulai dari rezeki, ajal, hingga catatan amal perbuatan selama satu tahun ke depan.

Makna hadis ini dipahami para ulama sebagai penegasan bahwa Nisfu Syaban adalah momentum muhasabah dan peningkatan ibadah sebelum memasuki Ramadan.

Anjuran Menghidupkan Malam dan Puasa di Siang Hari

Sejumlah ulama menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan amalan-amalan seperti shalat sunnah, membaca Alquran, zikir, memperbanyak shalawat, dan berdoa.

Anjuran tersebut juga diikuti dengan puasa sunnah pada siang harinya.

Dasar anjuran ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Di mana Rasulullah SAW bersabda agar umat Islam menghidupkan malam Nisfu Syaban dan berpuasa pada siangnya.

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْر

Artinya:

“Jika tiba malam nishfu Syaban, maka hidupkanlah malamnya dengan ibadah dan berpuasalah di siang harinya. Karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu, sejak matahari terbenam ke langit dunia. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang memohon rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberinya rezeki. Adakah orang yang sedang diuji? Maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah begini, adakah begini?’ Hingga terbit fajar,” (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini menjadi rujukan penting dalam pembahasan puasa Nisfu Syaban.

Teladan Rasulullah Berpuasa di Bulan Syaban

Riwayat sahih dari Aisyah RA dalam hadis Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang paling banyak berpuasa di bulan Syaban.

Bahkan melebihi bulan-bulan lain selain Ramadan.

Hal ini menunjukkan bahwa memperbanyak puasa di bulan Syaban, termasuk bertepatan dengan Nisfu Syaban, merupakan amalan yang sejalan dengan sunnah Nabi.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ مَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ مَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya:

“Dari Aisyah, ia berkata: ‘Rasulullah sering berpuasa hingga kami berkata, beliau tidak pernah tidak berpuasa. Dan beliau sering tidak berpuasa hingga kami berkata, beliau tidak pernah berpuasa. Dan aku tidak pernah melihatnya berpuasa lebih banyak dalam satu bulan daripada yang beliau lakukan di bulan Syaban,” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis Larangan Puasa Setelah Pertengahan Syaban, Bagaimana Penjelasannya?

Di sisi lain, terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Al-Baihaqi yang menyebutkan larangan berpuasa setelah memasuki pertengahan bulan Syaban.

Hadis ini kerap memunculkan kebingungan di tengah masyarakat.

Namun, para ulama memberikan penjelasan yang lebih rinci.

Mayoritas ulama mazhab Syafi’i, sebagaimana dijelaskan Syekh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, menegaskan bahwa larangan tersebut baru berlaku mulai tanggal 16 Syaban, bukan pada hari Nisfu Syaban (tanggal 15).

Dengan demikian, puasa pada siang hari Nisfu Syaban tidak termasuk dalam larangan tersebut.

Pandangan Ulama tentang Puasa Setelah Nisfu Syaban

Para ulama memiliki beberapa pandangan terkait puasa setelah Nisfu Syaban:

Mazhab Syafi’i membolehkan puasa sunnah setelah Nisfu Syaban bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa, seperti puasa Senin-Kamis.

Imam Nawawi dan Ibnu Hajar menilai larangan puasa bersifat makruh, bukan haram.

Puasa qadha Ramadan tetap diperbolehkan kapan pun di bulan Syaban.

Larangan tegas hanya berlaku untuk puasa sehari atau dua hari tepat sebelum Ramadan, kecuali bagi yang memiliki kebiasaan puasa rutin. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Nisfu Syaban #Nisfu Syaban 2026 #Puasa sunnah Nisfu Syaban #Nisfu Syaban 1447 H #puasa sunnah #Hukum puasa Nisfu Syaban