Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Biodata Eyang Meti Hoegeng: dari Radio hingga 100 Tahun Hidup, Setia Dampingi Kapolri Hoegeng

Syahaamah Fikria • Selasa, 3 Februari 2026 | 16:53 WIB
Eyang Meri Hoegeng saat rayakan ulang tahun ke-100 pada Juni 2025 lalu.
Eyang Meri Hoegeng saat rayakan ulang tahun ke-100 pada Juni 2025 lalu.

RADARSOLO.COM – Kabar duka datang dari keluarga besar Polri. Meriyati Roeslani Hoegeng, istri Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada usia 100 tahun, Selasa, 3 Februari 2026.

Perempuan yang akrab disapa Eyang Meri Hoegeng itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sebelum wafat, Eyang Meri Hoegeng sempat menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatannya yang menurun.

Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang pendamping setia figur polisi paling dikenal karena integritas dan kesederhanaannya.

Profil dan Biodata Meriyati Hoegeng

Meriyati Roeslani Hoegeng, yang juga dikenal dengan nama Merry Roeslani atau Meri Hoegeng, lahir pada 23 Juni 1925.

Ia wafat tepat di usia satu abad, meninggalkan jejak keteladanan sebagai istri pejabat negara yang menjalani hidup bersahaja.

Ia merupakan istri dari Hoegeng Iman Santoso, Kapolri ke-5, yang menjabat pada periode 1968–1971.

Latar Keluarga dan Asal-usul

Meriyati berasal dari keluarga terpelajar.

Ia merupakan keturunan Indo, putri dari dr Mas Soemakno Martokoesoemo, seorang dokter yang pernah menjabat sebagai Inspektur Kesehatan wilayah Jawa Tengah dengan kedudukan di Yogyakarta.

Ibunya adalah Jeanne Reyneke van Stuwe.

Selain itu, Meriyati juga tercatat sebagai keponakan Besar Martokoesomo, advokat pribumi pertama di Indonesia, tokoh penting dalam sejarah hukum nasional.

Awal Pertemuan dengan Hoegeng

Kisah hidup Meriyati dan Hoegeng bermula dari dunia seni suara.

Keduanya pertama kali bertemu saat menjadi pemeran sandiwara radio “Saija dan Adinda”, yang disiarkan melalui Radio Angkatan Laut, Darat, dan Oedara (ALDO) Yogyakarta serta RRI Yogyakarta.

Pada masa itu, Hoegeng masih bertugas sebagai Mayor Angkatan Laut (AL) RI.

Hubungan profesional tersebut berlanjut menjadi hubungan pribadi, hingga keduanya resmi menikah pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta.

Tak lama setelah pernikahan, Hoegeng memutuskan meninggalkan dinas angkatan laut dan kembali mengabdi sebagai perwira kepolisian.

Setia Mendampingi di Berbagai Penugasan

Sejak menikah, Meriyati dikenal selalu mendampingi Hoegeng dalam setiap fase penugasan.

Termasuk saat mereka harus mengungsi akibat Agresi Militer Belanda I.

Ia juga ikut berpindah tempat tinggal ketika Hoegeng ditugaskan ke berbagai daerah.

Termasuk saat Hoegeng menjabat Kepala Bagian Reserse Kriminal di Medan pada 1956.

Kesetiaan Meriyati dalam mendampingi suaminya membuatnya dikenal luas sebagai sosok pendukung di balik perjalanan karier Hoegeng.

Toko Bunga yang Ditutup

Ketika Hoegeng belum memiliki jabatan tetap setelah ditempatkan di Jakarta, Meriyati mengambil peran penting sebagai penopang ekonomi keluarga.

Ia membuka usaha toko bunga di Pasar Cikini.

Namun, usaha tersebut ditutup ketika Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi.

Penutupan dilakukan atas kesepakatan bersama, demi menghindari konflik kepentingan dan kekhawatiran penyalahgunaan relasi jabatan.

Dikhawatirkan toko bunga lainnya akan sepi karena relasi-relasi akan lebih memilih membeli bunga di tokonya.

Keputusan ini kerap dikenang sebagai cerminan nilai kejujuran dan etika yang dijunjung tinggi oleh keluarga Hoegeng.

Masa Pensiun dan Dunia Seni

Setelah Hoegeng dipensiunkan dini dari kepolisian, pasangan ini menjalani kehidupan sederhana.

Meriyati dan Hoegeng menekuni hobi melukis dan menyanyi sebagai cara memenuhi kebutuhan hidup mereka dan ketiga anaknya.

Keduanya sempat aktif sebagai pengisi acara di radio dan televisi.

Mereka dikenal publik lewat program “The Hawaiian Seniors” di TVRI, di mana keduanya sering tampil berduet membawakan lagu-lagu bernuansa Hawaii.

Aktivitas tersebut terhenti ketika Hoegeng dicekal akibat keterlibatannya dalam Petisi 50, sebuah peristiwa politik penting pada masa Orde Baru.

Setelah Hoegeng wafat pada tahun 2004, Meriyati melanjutkan hidupnya di Depok.

Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi istri pejabat kepolisian, memilih menjalani kehidupan yang tenang dan jauh dari sorotan.

Buku Biografi di Usia Senja

Menjelang ulang tahunnya yang ke-100, Meriyati sempat meluncurkan buku biografi berjudul “Meriyati Hoegeng: 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian”.

Buku tersebut disusun oleh cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng, dan merekam perjalanan hidup seorang perempuan yang setia, sederhana, dan berprinsip.

Wafat di RS Bhayangkara

Meriyati Roeslani Hoegeng meninggal dunia pada 3 Februari 2026 di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, karena sakit.

Kepergiannya menjadi duka mendalam, sekaligus penutup kisah panjang seorang perempuan yang hidup mendampingi legenda integritas kepolisian Indonesia. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Meriyati Hoegeng #istri kapolri #hoegeng #meri hoegeng #profil #Meriyati Roeslani #meninggal #Eyang Meriyati Roeslani Hoegeng meninggal