RADARSOLO.COM – Dunia kepolisian dan keluarga besar Jenderal Hoegeng berduka. Meriyati Roeslani Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026) di usia 100 tahun.
Istri Kapolri ke-5 periode 1968–1971 ini menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, akibat penyakit yang dideritanya.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi.
Made mengatakan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka Perumahan Pesona Khayangan Estate, Mekarjaya, Depok, sebelum dimakamkan Rabu (4/2/2026) di Taman Makam Giri Tama, Tonjong, Bogor, usai salat Dzuhur.
Eyang Meri dikenal bukan hanya sebagai pendamping Jenderal Hoegeng, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki cerita hidup penuh prinsip.
Salah satunya adalah kisah toko bunga yang sempat ia buka di garasi rumah mereka.
“Waktu Mas Hoegeng masih menjabat Kepala Jawatan Imigrasi, beliau langsung meminta saya menutup toko bunga itu,” kenang Meri dalam wawancara di YouTube Mata Najwa pada 2021.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Hoegeng khawatir banyak relasi dari instansi yang dipimpinnya akan membeli bunga di toko Meri.
Kekhawatiran ini muncul karena ia ingin mencegah potensi suap dan menjaga integritas keluarga.
Meri pun menurut, menutup toko bunga yang menjadi sumber tambahan penghasilan mereka kala itu.
“Sudah 60 tahun saya bersama Mas Hoegeng, saya tahu sifatnya, mau ke mana arahnya,” tambah Meri.
Selain itu, Meri juga berbagi pengalaman ketika sang suami menegakkan prinsip kejujuran dari keluarganya sendiri.
Ketika Hoegeng berhenti menjabat Kapolri pada 1971, ia langsung mengunjungi ibunya dan bersikap sungkem, mengaku tak lagi memiliki pekerjaan.
Ibunya pun memberikan nasihat kepada sang suami.
“Kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.”
Prinsip itulah yang membentuk karakter Hoegeng dalam menegakkan kejujuran sepanjang kariernya.
Kisah lain yang menarik adalah ketika Meri menerima hadiah berupa emas seberat 10 gram dari seorang wanita bernama Ruslan.
Ruslan kehilangan mobilnya dan dibantu Hoegeng menemukannya dalam waktu singkat.
Meski hadiah itu merupakan bentuk terima kasih, Hoegeng melarang Meri menerimanya.
Sang Kapolri legendaris berpesan, tugas polisi adalah menolong masyarakat tanpa menerima imbalan apa pun.
Selain larangan toko bunga dan penolakan hadiah, Hoegeng juga menerapkan prinsip yang sama pada organisasi Bhayangkari.
Ia menolak Meri menjabat Ketua Umum Bhayangkari.
Dan meminta agar posisi itu dipilih secara demokratis melalui pemilihan, bukan otomatis karena status sebagai istri Kapolri.
Dengan wafatnya Eyang Meri Hoegeng, Indonesia kehilangan sosok wanita yang setia mendampingi perjuangan Jenderal Hoegeng, serta menjadi saksi prinsip integritas dan kejujuran yang diwariskan sang suami.
Kenangan tentang toko bunga yang ditutup demi etika dan kisah hadiah emas yang ditolak tetap melekat sebagai bagian dari sejarah kehidupan keluarga Hoegeng. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria