Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Mooncake dan Sejarah Panjangnya, Hidangan Klasik yang Tak Pernah Absen Saat Imlek 2026

Nur Pramudito • Jumat, 6 Februari 2026 | 11:05 WIB

Mooncake dan Sejarah Panjangnya, Hidangan Klasik yang Tak Pernah Absen Saat Imlek 2026
Mooncake dan Sejarah Panjangnya, Hidangan Klasik yang Tak Pernah Absen Saat Imlek 2026


RADARSOLO.COM - Saat perayaan Imlek 2026 tiba, satu hidangan klasik yang nyaris tak pernah absen adalah mooncake atau kue bulan.

Kudapan tradisional ini tidak hanya dinikmati karena rasanya, tetapi juga karena nilai sejarah dan simbol budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Tionghoa.

Mooncake telah dikenal sejak ribuan tahun lalu sebagai bagian dari tradisi Tiongkok kuno.

Meski awalnya identik dengan Festival Pertengahan Musim Gugur, keberadaannya kini juga lekat dengan perayaan Tahun Baru Imlek.

Pada Imlek 2026, kue bulan kembali menjadi simbol kehangatan, persatuan keluarga, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Dari sisi sejarah, bentuk, hingga ragam isian, mooncake menyimpan perjalanan panjang yang mencerminkan kekayaan budaya Tionghoa dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Tradisi Baju Baru di Imlek 2026: Simbol Keberuntungan Sambut Tahun Baru China

Mengenal Mooncake, Kue Bulan Khas Tiongkok

Mooncake merupakan kue tradisional Tiongkok yang umumnya berbentuk bulat atau persegi, melambangkan keutuhan dan keseimbangan.

Ukurannya relatif besar dengan diameter sekitar 10 sentimeter dan ketebalan 4 hingga 5 sentimeter.

Kulit mooncake tergolong tipis, biasanya hanya 2–3 milimeter, dengan permukaan dihiasi ukiran huruf Mandarin atau simbol tertentu.

Isinya sangat beragam, mulai dari pasta biji lotus, kacang merah, kacang hijau, hingga jujube paste.

Tak jarang, mooncake juga dilengkapi kuning telur asin yang merepresentasikan bulan purnama serta kemakmuran.

Di bagian atas kue, kerap tercetak tulisan seperti “longevity”, “harmony”, atau motif bulan dan kelinci.

Cita rasa mooncake umumnya manis, kaya, dan sedikit berminyak, sehingga dinikmati dalam potongan kecil.

Dalam perayaan Imlek 2026, mooncake tetap dimaknai sebagai simbol keberuntungan, kesejahteraan, dan kebersamaan keluarga.

Sejarah Mooncake: Dari Strategi Perlawanan hingga Tradisi

Dalam catatan sejarah, mooncake memiliki peran penting pada masa Dinasti Yuan (1271–1368).

Saat itu, rakyat Han berada di bawah kekuasaan Mongol dan merencanakan pemberontakan secara rahasia.

Seorang penasihat militer bernama Liu Bowen mencetuskan ide cerdik dengan memanfaatkan kue bulan.

Ia menyebarkan kabar palsu tentang wabah penyakit yang konon hanya bisa disembuhkan dengan memakan mooncake.

Di dalam kue tersebut disisipkan pesan tersembunyi bertuliskan, “Bangkit pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur.” Cara ini membuat pesan perlawanan tersebar luas tanpa dicurigai.

Ketika festival tiba, pemberontakan pun terjadi dan berujung runtuhnya kekuasaan Mongol.

Sejak itulah, mooncake tidak hanya dikenal sebagai makanan, tetapi juga simbol perjuangan dan persatuan, yang terus dikenang hingga Imlek 2026.

Baca Juga: Petasan Imlek 2026 di Kota Solo Ditiadakan, Ini Alasan dan Asal-usul Petasan dalam Perayaan Tahun Baru Cina

Tradisi Kue Bulan dalam Budaya Tionghoa

Tradisi menyantap mooncake berakar dari Festival Pertengahan Musim Gugur yang dirayakan pada bulan kedelapan kalender China.

Bulan purnama pada momen ini dimaknai sebagai lambang keutuhan keluarga dan rasa syukur.

Pada masa lampau, masyarakat mempersembahkan buah-buahan dan dupa kepada Dewi Bulan.

Sejak periode 1045–770 SM, ritual tersebut berkembang menjadi ungkapan terima kasih atas hasil panen yang melimpah.

Seiring berjalannya waktu, mooncake menggantikan persembahan sederhana itu dan menjadi pusat perayaan.

Hingga kini, tradisi tersebut tetap bertahan dan bahkan ikut mewarnai perayaan Imlek 2026, termasuk di berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Ragam Isian dan Kulit Mooncake

Secara umum isian mooncake terbagi dalam empat kategori utama. Pasta biji lotus atau lian rong dikenal sebagai varian paling premium.

Kemudian ada sweet bean paste dari kacang azuki, kacang hijau, atau kacang hitam yang banyak digemari.

Jujube paste menawarkan rasa manis sedikit asam dengan warna merah gelap, meski jarang dijumpai di Indonesia.

Sementara five kernel berisi campuran kacang dan biji-bijian yang disatukan dengan sirup maltosa.

Jenis kulit mooncake juga bervariasi, mulai dari chewy yang paling umum, flaky khas Suzhou, hingga tender yang populer di wilayah tertentu China dan Taiwan.

Dari segi gaya, dikenal Cantonese-style yang mendunia, Suzhou-style yang berlapis dan kaya lemak, Beijing-style yang renyah, Chaoshan atau Tiociu-style yang lebih tipis, Ningbo-style bercita rasa asin, serta Yunnan-style yang cenderung manis.

Inovasi modern menghadirkan mooncake berbahan agar, ketan, keju, hingga es krim yang semakin diminati menjelang Imlek 2026.

Mooncake dan Akulturasi di Indonesia

Di Indonesia, mooncake telah hadir sejak gelombang awal imigrasi Tionghoa. Kota seperti Semarang dikenal dengan produksi mooncake bergaya Cantonese dan Suzhou dari toko-toko legendaris.

Seiring waktu, mooncake bertransformasi menjadi pia, yang berasal dari istilah Hokkian “bing”. Produk seperti Bakpia Pathok Yogyakarta, Pia Cap Bayi, hingga Pia Malang merupakan hasil adaptasi dari Suzhou dan Tiociu-style mooncake.

Kulitnya lebih berlapis dan renyah. Jika dulu menggunakan lemak babi, kini bahan tersebut diganti agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas.

Dalam perayaan Tiong Ciu maupun Imlek 2026, mooncake dan pia menjadi simbol nyata akulturasi budaya kuliner di Indonesia.

Dalam konteks Imlek 2026, mooncake bukan sekadar hidangan klasik, melainkan sarana berbagi dan mempererat hubungan keluarga.

Kue bulan kerap dijadikan hantaran sebagai doa untuk rezeki, kebahagiaan, dan kemakmuran.

Meski zaman telah berubah, nilai syukur dan kebersamaan tetap hidup. Mooncake membuktikan bahwa tradisi, sejarah, dan makna budaya mampu bertahan lintas generasi.

Pada Imlek 2026, kue bulan kembali hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan selalu menjadi inti dari setiap perayaan.(np)

Editor : Nur Pramudito
#Imlek 2026 #imlek #tahun baru imlek #Mooncake #tradisi #sejarah