RADARSOLO.COM - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengimbau warga terdampak fenomena tanah bergerak di Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, agar untuk sementara tidak kembali ke rumah masing-masing.
Imbauan tersebut disampaikan saat keduanya meninjau langsung lokasi terdampak pada Sabtu (14/2/206).
Dalam kunjungan itu, Gibran dan Luthfi berdialog dengan warga sekaligus memastikan kondisi di lapangan.
Pemerintah meminta masyarakat memprioritaskan keselamatan, mengingat pergerakan tanah masih berpotensi terjadi dan membahayakan permukiman.
Ahmad Luthfi menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan Wali Kota Semarang, camat, dan lurah setempat terkait rencana relokasi sebagian warga, khususnya yang rumahnya berada di titik terdampak.
Lokasi relokasi sementara masih dalam pembahasan bersama Pemerintah Kota Semarang.
Ia menegaskan seluruh kebutuhan dasar warga akan dipenuhi selama masa pengungsian.
"Sementara ini mboten usah tinggal wonten omah sing lemahe gerak (sementara ini tidak usah tinggal dirumah yang tanahnya gerak). Lebih baik menyelamatkan diri kita dan keluarga kita, sambil nanti dikasih tempat yang sudah ditunjuk oleh camat dan lurah," kata Gubernur Jateng.
Warga diminta tidak menempati rumah yang berada di area tanah bergerak dan tetap tinggal di tempat aman yang telah disiapkan pemerintah.
Menurut Luthfi, pembiayaan relokasi akan ditanggung Pemprov Jateng bersama Pemkot Semarang.
"Sedaya ngopeni njenengan (semua melayani anda sekalian). Hari ini Wapres turun tangan jenguk bapak-ibu sekalian untuk memastikan mboten enten napa-napa (tidak terjadi apa-apa)," ujarnya.
Selain itu, Wapres Gibran telah menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum untuk turun tangan memberikan dukungan teknis dan bantuan yang dibutuhkan di lapangan.
Gibran menekankan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah.
Ia meminta masyarakat tidak bolak-balik ke rumah lama karena belum ada kepastian sejauh mana pergerakan tanah akan meluas.
Wapres juga mengingatkan agar perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, sehingga tidak sampai terjadi korban.
"Minggu lalu saya ke Tegal, situasinya juga cukup parah seperti ini. Kami kondisikan untuk mengungsi. Kalau kondisi seperti ini sangat berbahaya sekali. Penting di sini tidak ada korban," ucap Gibran.
Salah satu warga, Subiyanti, 44, berharap kehadiran Wapres dan Gubernur Jateng dapat mempercepat solusi bagi warga yang terdampak.
Ia menyebut sebagian besar warga telah tinggal di Kampung Sekip selama puluhan tahun.
Saat ini, warga diminta tetap berada di pengungsian karena kondisi lingkungan dinilai belum aman untuk dihuni kembali.
Lurah Jangli, Maria Tresia Takandare menjelaskan, sebanyak 66 jiwa saat ini menempati enam tenda pengungsian yang berjarak sekitar 100 hingga 200 meter dari lokasi terdampak.
Fasilitas logistik dan kamar mandi telah disediakan di lokasi tersebut.
Pemerintah kelurahan tengah mengupayakan lahan relokasi sementara dengan meminjam tanah milik warga selama kurang lebih dua bulan, sembari menunggu penetapan hunian tetap bagi para korban terdampak tanah bergerak di Semarang.
"Saya meminjam warga yang punya tanah untuk relokasi sementara selama kurang lebih 2 bulan. Sambil nanti dicarikan tempat hunian tetap," tandas Maria. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria