RADARSOLO.COM - Kondisi cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional jadi perhatian publik setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan terkait ketahanan energi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik global.
Pernyataan Bahlil sebelumnya mengenai cadangan BBM yang mampu bertahan sekitar 20 hari pascapenutupan jalur distribusi energi di Selat Hormuz sempat viral dan memicu kekhawatiran masyarakat.
Jalur tersebut diketahui merupakan salah satu rute utama transportasi minyak dunia yang berada di kawasan konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Namun, pemerintah kemudian menegaskan bahwa angka cadangan 20–23 hari masih berada dalam standar keamanan nasional dan bukan kondisi darurat energi.
Cadangan BBM Nasional Masih Sesuai Standar
Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan BBM di Indonesia selama ini memang memiliki batas teknis.
Menurutnya, daya tampung fasilitas penyimpanan energi nasional maksimal berada pada kisaran 25 hari kebutuhan konsumsi.
Saat ini, cadangan BBM nasional berada pada rentang aman sekitar 20 hingga 23 hari.
“Secara struktur, kemampuan penyimpanan BBM kita memang maksimal 25 hari. Jadi cadangan nasional minimal berada pada kisaran 20 sampai 21 hari. Kondisi saat ini masih di atas standar minimal tersebut,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, keterbatasan kapasitas storage menjadi tantangan utama dalam meningkatkan ketahanan energi nasional.
Masalah utama bukan pada ketersediaan pasokan minyak, melainkan pada tempat penyimpanan yang masih terbatas.
“Kalau stok ingin lebih dari 25 hari, pertanyaannya adalah mau disimpan di mana? Kapasitas storage kita memang belum mencukupi,” jelasnya.
Instruksi Presiden untuk Perkuat Ketahanan Energi
Pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan keamanan energi nasional.
Salah satu kebijakan utama adalah pembangunan fasilitas penyimpanan BBM baru agar cadangan nasional dapat ditingkatkan hingga mencapai kebutuhan sekitar tiga bulan.
Menurut Bahlil, rencana pembangunan storage baru tersebut masih dalam tahap kajian lokasi.
Salah satu wilayah yang dipertimbangkan adalah kawasan Pulau Sumatera.
“Presiden menginstruksikan agar kita segera membangun storage energi supaya ketahanan energi nasional semakin kuat,” katanya.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Energi Global
Bahlil juga menyoroti potensi risiko pasokan energi dunia akibat konflik antara Iran dan koalisi militer Barat.
Penutupan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz oleh otoritas Iran menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi.
Sebab, kawasan tersebut merupakan jalur strategis perdagangan energi internasional.
Meski demikian, pemerintah memastikan konflik tersebut belum berdampak langsung terhadap subsidi energi domestik.
“Hingga saat ini subsidi BBM belum mengalami masalah berarti. Namun harga minyak dunia berpotensi mengalami penyesuaian jika situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas,” ujar Bahlil.
Ia memperkirakan kondisi pasokan energi Indonesia masih relatif aman untuk satu hingga dua bulan ke depan.
Diversifikasi Impor dan Strategi Mitigasi Energi
Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah berencana memperkuat diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Indonesia saat ini lebih banyak mengimpor bensin dari kawasan Asia Tenggara dibandingkan dari Timur Tengah.
“Kami tidak terlalu bergantung pada impor dari Timur Tengah. Untuk BBM jenis bensin, pembelian lebih banyak dilakukan dari negara di Asia Tenggara sehingga relatif aman,” jelas Bahlil.
Selain itu, pemerintah juga menegaskan bahwa ketersediaan LPG domestik masih dalam kondisi stabil.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi potensi gangguan rantai pasok energi global.
Terutama menjelang periode kebutuhan tinggi seperti bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2026. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria