RADARSOLO.COM-Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berkolaborasi dengan Markaz Aitam Ar Rasyid dan Rumah Yatim Mandiri menyelenggarakan program Pesantren Jalan Cahaya.
Kegiatan ini menyasar komunitas marjinal dan anak-anak yatim duafa di wilayah perbatasan Wonogiri, Gunungkidul, dan Sukoharjo, tepatnya di Kecamatan Manyaran.
Pembinaan intensif selama dua hari satu malam tersebut dilangsungkan pada Sabtu hingga Minggu (7-8/3/2026).
Sasar Wilayah Blank Spot Pembinaan
Program ini merupakan bagian dari rangkaian semarak Ramadan 1447 Hijriah yang dilaksanakan secara serentak di 20 titik di seluruh Indonesia.
Di Wonogiri, sebanyak 130 peserta dari berbagai pelosok perbatasan antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Mereka didominasi oleh anak yatim dan duafa yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pembinaan keagamaan formal akibat kendala geografis, seperti medan perbukitan karst dan akses jalan perbatasan yang terjal.
Melalui pendekatan yang persuasif dan humanis, Pesantren Jalan Cahaya dihadirkan sebagai ruang aman untuk memperkuat keimanan serta kemandirian mental anak-anak.
Selama masa pembinaan, para peserta mengikuti beragam rangkaian kegiatan.
Mulai dari ibadah bersama (qiyamul lail dan tadarus), kajian keteladanan ulama besar seperti Imam Syafi'i dan Imam Bukhari, sesi motivasi mental pejuang, hingga pembagian Al-Qur'an dan santunan gratis dari para donatur.
Lebih jauh, program ini juga dirancang sebagai pintu masuk pembinaan berkelanjutan melalui skema Zakat Community Development, sehingga dampak spiritual yang dibangun dapat diperkuat dengan pemberdayaan ekonomi di masa mendatang.
Jemput Bola ke Pelosok Perbatasan
Ketua Pelaksana Program Markaz Aitam Ar Rasyid, Muhamad Didik Khoirul Huda menuturkan, inisiatif ini sengaja menjemput bola ke wilayah terpencil.
"Banyak anak yatim dan duafa di perbatasan yang memiliki semangat besar, tetapi terkendala akses. Pesantren ini kami hadirkan untuk menjemput mereka sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan akses bukanlah penghalang untuk mendalami ilmu agama," jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, PIC Program Pesantren Marjinal BAZNAS RI M. Reno Fathur Rahman menyebut program ini sebagai wujud nyata penyaluran amanah dana zakat masyarakat.
Pihaknya berharap kegiatan ini mampu memotivasi para peserta agar kelak mampu bertransformasi dari mustahik (penerima zakat) menjadi seorang muzaki (pemberi zakat).
Apresiasi tinggi juga disuarakan oleh Kepala Rumah Yatim Mandiri Xatarina Yesy Dahlia.
Ia berharap program komprehensif semacam ini dapat berjalan istikamah untuk mencetak generasi muslim yang tangguh secara keilmuan maupun fisik (basthotan fil 'ilmi wal jismi).
Manfaat nyata dari program ini langsung dirasakan oleh para peserta. Anugrah, 11, salah seorang peserta anak, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Saya senang sekali bisa ikut pesantren ini. Saya dapat ilmu baru tentang Imam Syafi'i yang ternyata juga seorang yatim tapi bisa menjadi ulama besar. Saya jadi makin semangat untuk terus belajar," ungkapnya dengan polos. (din)
Editor : Tri wahyu Cahyono