RADARSOLO.COM - Khutbah Jumat pada 27 Maret 2026 di Bulan Syawal ini mengangkat tema tentang hikmah Puasa Sunah enam hari yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menjalankan ibadah Ramadan.
Materi ini dapat menjadi referensi bagi para khatib dalam menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan dan penuh makna.
Bulan Syawal sendiri merupakan bulan ke-10 dalam kalender Hijriah.
Secara bahasa, kata “Syawal” berasal dari akar kata “syala (شَالَ)” yang memiliki arti “irtafaa (اِرْتَفَعَ)”, yakni meningkat atau terangkat.
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Ramadhan Terakhir 20 Maret 2026: Menyambut Hari Raya Idul Fitri Penuh Makna
Makna tersebut mencerminkan harapan agar keimanan dan ketakwaan seorang Muslim terus meningkat setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Salah satu amalan yang dianjurkan di Bulan Syawal adalah Puasa Sunah selama enam hari.
Pelaksanaan puasa ini bisa dilakukan secara berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri maupun secara terpisah selama masih berada di bulan yang sama.
Keutamaan Puasa Sunah ini dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan bagi umat Islam yang melaksanakan Puasa Sunah di Bulan Syawal.
Ibadah ini menjadi penyempurna dari puasa Ramadan sekaligus bukti konsistensi dalam menjaga ketaatan kepada Allah SWT.
Dengan memahami keutamaan ini, diharapkan kaum Muslimin dapat memanfaatkan Bulan Syawal sebagai momentum untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah, tidak hanya berhenti setelah Ramadan berakhir.
Teks Khutbah Jumat ini diharapkan mampu menjadi panduan dalam menyampaikan pesan spiritual yang relevan, khususnya pada 27 Maret 2026, dengan mengangkat nilai-nilai keistiqamahan dalam beribadah melalui Puasa Sunah di Bulan Syawal.
Teks Khutbah Jumat Bulan Syawal 27 Maret 2026: Hikmah dan Keutamaan Puasa Sunah 6 Hari
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.
Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.
Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.
Jamaah shalat jumat yang dimuliakan Allah…
Pada hari ini, kita telah memasuki bulan Syawal. Bulan yang berharga bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah setelah berpuasa satu bulan penuh. Di bulan Syawal ini, umat Islam kembali mendapat hadiah bagi yang menjalankan amal ibadah tertentu, salah satunya puasa sunah 6 hari.
Umat Islam yang telah menjalankan puasa Ramadhan, afdalnya juga menjalankan puasa syawal. Pasalnya, puasa enam hari ini pahalanya bak puasa setahun. Ditambah dengan pahala puasa Ramadhan sebelumnya, seseorang bisa memperoleh pahala yang cukup banyak sebagai bekal di akhirat kelak.
Hal ini termaktuh dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh," (HR Muslim).
Hadiri yang dirahmati Allah....
Banyak dari kit mempertanyakan bagimana tata cara puasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Apakah dilakukab berurutan atau dapat dilakukan secara terpisah? Menurut pendapat Sayyid Abdullah al-Hadrami, puasa sunah 6 hari di bulan Syawal dapat dilakukan secara acak, artinya tidak berurutan.
"Sesungguhnya tidak disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus, dan cukup bagimu untuk puasa enam hari dari bulan Syawal sekalipun terpisah-pisah, sepanjang semua puasa tersebut dilakukan di dalam bulan ini (Syawal).” (Sayyid Abdullah al-Hadrami, al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan).
Pendapat Sayyid Abdullah al-Hadrami juga senada dengan Imam an-Nawawi yang termuat dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. An-Nawawi beranggapan berpuasa syawal dengan cara berloncat-loncat tetap dianggap mengamalkan inti sunnah Nabi. Sebab, berdasarkan hadits yang umum, tidak ada penjelasan spesifik bahwa puasa Syawal harus dilakukan 6 hari berturut-turut maupun harus dikerjakan di awal atau akhir bulan.
Jika dikerjakan di awal bulan, maka puasa Syawal dapat dikerjakan pada tanggal 2-7 Syawal. Perlu diketahui, puasa dimulai pada tanggal 2 karena tepat pada 1 Syawal umat Islam tidak diperbolehkan puasa.
Puasa Syawal juga dapat diniatkan untuk mengqada puasa Ramadhan bagi yang meninggalkannya. Dengan mengqada di bulan Syawal, maka akan memperoleh pahala puasa sunah bulan Syawal.
Dalam sebuah hadis disebutkan puasa bulan Ramadan dihitung sepuluh kali lipat. Adapun puasa enam hari setelahnya mendapatkan hitungan dua bulan. Dengan demikian, pahala puasa Ramadan yang dilanjutkan puasa Syawal sama layaknya puasa setahun penuh.
Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهِ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ
"Puasa bulan Ramadan itu dihitung sepuluh kali lipat dan puasa enam hari setelahnya dihitung dua bulan, maka itu sama dengan puasa setahun penuh," (HR Ibnu Majah).
Hadirin yang berbahagia......
Puasa sunah 6 hari bulan Syawal tak lain adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan keimanan kita. Dengan berbekal ibadah bulan Ramadhan, maka umat Islam dapat meneruskannya di bulan Syawal.
Selain puasa sunah 6 hari, umat Islam juga dapat mengerjakan berbagai ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. di antaranya bersedekah, saling memaafkan, mengqada puasa Ramadhan yang ditinggalkan, dan menjauhi perbuatan yang dilarang syariat.
Dalam Al-Qur’an telah dijanjikan bahwa seseorang yang bertakwa kepada Allah, akan mendapatkan cahaya rahmat. Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hadid Ayat 28:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ ٢٨
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa âminû birasûlihî yu'tikum kiflaini mir raḫmatihî wa yaj‘al lakum nûran tamsyûna bihî wa yaghfir lakum, wallâhu ghafûrur raḫîm
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Semoga dengan meningkatkan amalan di bulan Syawal, umat Muslim semakin kuat iman dan takwa kepada Allah Swt. hingga menjadi salah satu dari golongan yang terselamatkan hingga yaumul qiyamah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ،
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Editor : Nur Pramudito