RADARSOLO.COM – Sejumlah negara tetangga Indonesia mulai mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM).
Krisis ini dipicu oleh eskalasi besar di Timur Tengah yang melibatkan perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang meletus sejak akhir Februari 2026.
Konflik ini berujung blokade di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.
Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
Berikut situasi di beberapa negara tetangga:
· Filipina: Telah mendeklarasikan Darurat Energi Nasional pada 24 Maret 2026. Pemerintah di sana mulai membatasi jam kerja dan sekolah untuk menghemat bahan bakar.
· Thailand: Harga BBM melonjak hingga 18-22% dalam sepekan terakhir. Antrean panjang terjadi di berbagai SPBU karena warga panik sebelum kenaikan harga berlaku.
· Malaysia: Mulai memangkas kuota subsidi BBM (RON95) untuk warganya guna menjaga ketahanan stok domestik.
· Laos & Vietnam: Mulai mengurangi frekuensi penerbangan domestik dan jam tatap muka di sekolah demi menghemat konsumsi BBM.
Pertanyannya, apakah Indonesia pernah merasakan krisis energi?
Baca Juga: Kemarau Panjang Mengintai Di 2026, Ancang-Ancang Revitalisasi Dam Cendono Sukoharjo
Bagi leluhur kita, hidup tanpa energi modern (BBM dan listrik) adalah realitas kehidupan sehari-hari.
Secara historis, "titik nol" di mana teknologi ini belum ada secara massal adalah sebelum akhir abad ke-19 (sebelum tahun 1870-an - 1880-an).
Diketahui, minyak bumi (BBM) masuk ke Indonesia pada 1885 dengan ditemukannya sumur minyak pertama di Telaga Tunggal (Langkat, Sumut) oleh A.J. Zijlker.
Adapun sambungan listrik masuk pada 1897 dengan berdirinya perusahaan listrik pertama (NIGM) di Batavia, menyusul pembangunan PLTA pertama.
Untuk kendaraan bermotor (mobil), kali pertama datang pada 1894 yang dimiliki oleh Raja Keraton Solo Pakubuwono X.
Berikut adalah gambaran detail kehidupan di Nusantara pada masa itu:
Transportasi: Kekuatan Otot dan Angin
Tanpa BBM, mobilitas para leluhur sangat terbatas dan memakan waktu lama.
- Darat: Kendaraan utama adalah kereta kuda (dokar/andong) untuk kalangan menengah ke atas, serta gerobak sapi atau kerbau untuk logistik barang. Sebagian besar rakyat biasa bepergian dengan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer.
- Laut/Sungai: Karena Indonesia adalah kepulauan, transportasi air sangat vital. Tanpa mesin diesel, kapal-kapal menggunakan layar (tenaga angin) atau dayung (tenaga manusia). Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya lewat laut bisa memakan waktu berhari-hari, tergantung cuaca.
Penerangan: Kehidupan Mengikuti Matahari
Tanpa listrik, ritme hidup manusia sangat bergantung pada siklus alami.
- Malam Hari: Penerangan menggunakan pelita (lampu minyak kelapa) atau obor dari bambu dan getah pohon (damar). Cahayanya temaram, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial praktis berhenti setelah matahari terbenam.
- Suasana Kota: Kota-kota besar seperti Batavia atau Semarang pada malam hari sangat gelap dan sepi. Hanya ada lampu-lampu minyak di beberapa sudut jalan utama yang dinyalakan manual oleh petugas kota.
Baca Juga: Siapa Robert Leonard Marbun? Resmi Dilantik Jadi Sekjen Kemenkeu oleh Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
Komunikasi dan Informasi
Tanpa listrik berarti tidak ada internet, radio, televisi, atau telepon.
- Berita: Informasi menyebar melalui mulut ke mulut di pasar atau tempat ibadah. Berita dari satu pulau ke pulau lain dibawa oleh pelaut dan bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk sampai.
- Surat: Pengiriman pesan menggunakan jasa kurir berkuda (seperti sistem pos awal) yang sangat lambat dibandingkan standar sekarang.
Ekonomi dan Produksi
- Pertanian: Sawah dibajak menggunakan tenaga kerbau atau sapi, bukan traktor. Panen dilakukan manual dengan gotong royong.
- Industri: Pabrik-pabrik menggunakan tenaga air (kincir) atau tenaga hewan. Belum ada mesin uap skala besar sebelum industri gula berkembang pesat di Jawa. (wa)