RADARSOLO.COM - Tanggal 4 April 1949 menjadi salah satu penanda penting dalam fase akhir revolusi kemerdekaan Indonesia. Di tengah tekanan militer dan derasnya arus diplomasi internasional, jalan menuju kembalinya kedaulatan mulai menemukan titik terang.
Pasca Agresi Militer Belanda II, situasi di Yogyakarta—yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia—berada di bawah kendali Belanda. Namun, tekanan dunia internasional perlahan memaksa perubahan arah.
Dewan Keamanan PBB kemudian membentuk United Nations Commission for Indonesia pada 28 Januari 1949. Komisi ini bertugas menjadi penengah konflik Indonesia–Belanda sekaligus mengawal proses menuju penyelesaian damai.
Dalam catatan sejarah, termasuk yang ditulis Garda Maeswara dalam bukunya Sejarah Revolusi Indonesia 1945–1950: Perjuangan Bersenjata & Diplomasi untuk Mempertahankan Kemerdekaan, disebutkan bahwa dinamika penting mulai menguat pada awal April 1949. Saat itu, proses penarikan pasukan Belanda dari Yogyakarta mulai dipersiapkan di bawah pengawasan UNCI.
Proses tersebut akhirnya terealisasi pada akhir Juni 1949. Penarikan tentara Belanda berlangsung bertahap sejak 24 hingga 29 Juni. Pada tanggal yang sama, Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali memasuki Yogyakarta.
Momen itu menjadi simbol kembalinya kontrol Republik atas ibu kota, sekaligus titik balik penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Murah Spek Kencang Layak Beli 2026, Harga Terjangkau Performa Maksimal
Di balik proses tersebut, peran tokoh lokal dan internasional tak bisa dilepaskan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX tampil sebagai figur kunci yang menjembatani komunikasi dengan pihak internasional, termasuk para perwakilan UNCI.
Sejumlah momen penting turut mewarnai peristiwa tersebut. Salah satunya adalah pertemuan antara Soeharto yang saat itu berpangkat letnan, bersama Kolonel Djati Kusumo dan Sri Paku Alam, setelah kembali dari medan pertempuran. Di sisi lain, suasana haru juga terlihat ketika pasukan TNI memasuki Yogyakarta dengan bersepeda—sebuah gambaran sederhana namun sarat makna perjuangan.
Baca Juga: Dukung Asta Cita, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp31,42 Triliun pada Akhir Februari 2026
UNCI sendiri beranggotakan tiga negara: Amerika Serikat yang diwakili Merle Cochran, Australia oleh Tom Critchley, serta Belgia melalui Paul van Zeeland Herremans.
Tak hanya mengawasi penarikan pasukan, UNCI juga memainkan peran vital dalam mendorong lahirnya Perjanjian Roem-Royen pada April–Mei 1949, hingga memfasilitasi Konferensi Meja Bundar di Den Haag.
Rangkaian proses inilah yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia menuju pengakuan kedaulatan secara penuh.
Peristiwa masuknya kembali TNI ke Yogyakarta bukan sekadar pergerakan militer. Ia adalah simbol kemenangan diplomasi, keteguhan perjuangan, sekaligus pengakuan dunia terhadap eksistensi Republik Indonesia. (nik)