RADARSOLO.COM — Nama Hasan Sadikin hari ini dikenal luas sebagai identitas rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat. Namun di balik nama itu, tersimpan kisah seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk pelayanan kesehatan sekaligus pendidikan generasi tenaga medis Indonesia.
Lahir pada 7 Juli 1910 di Sumedang, Jawa Barat, Hasan Sadikin tumbuh di masa ketika dunia kedokteran masih berkembang dalam bayang-bayang sistem kolonial. Ia menempuh pendidikan kedokteran dan kemudian meniti karier tidak hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai akademisi.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 3): Moewardi, Dokter Pejuang yang Gugur di Tengah Revolusi
Sejak awal, Hasan Sadikin dikenal sebagai sosok yang tekun dan berdedikasi tinggi. Baginya, menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk melayani masyarakat sekaligus membangun sistem kesehatan yang lebih baik.
Membangun Pendidikan Kedokteran di Jawa Barat
Perjalanan Hasan Sadikin mencapai puncaknya ketika ia dipercaya menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 2): Sardjito, Dokter Pendidik yang Membangun Fondasi Kesehatan Bangsa
Di posisi ini, ia berperan besar dalam mengembangkan pendidikan kedokteran di Jawa Barat. Ia mendorong lahirnya tenaga medis yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan dinamika pembangunan pascakemerdekaan, Hasan Sadikin tetap berupaya memperkuat sistem pendidikan medis. Ia percaya bahwa kualitas layanan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dokter.
Pemimpin Rumah Sakit dan Pelayan Masyarakat
Selain sebagai akademisi, Hasan Sadikin juga dipercaya memimpin rumah sakit. Di sinilah ia menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang kuat—mengelola layanan kesehatan sekaligus memastikan pasien mendapatkan pelayanan terbaik.
Ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan lingkungan kerja, sederhana, dan mengutamakan kepentingan pasien. Dalam kesehariannya, ia tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga tetap menjalankan tugas sebagai dokter.
Akhir Pengabdian yang Mengharukan
Pengabdian Hasan Sadikin berakhir dalam cara yang tak banyak dialami orang. Ia wafat pada 1967, saat masih aktif menjabat dan menjalankan tugasnya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia medis di Jawa Barat, tetapi juga bagi para mahasiswa dan kolega yang mengenalnya sebagai sosok pendidik sekaligus teladan.
Warisan yang Terus Hidup
Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, yang kini menjadi salah satu rumah sakit terbesar dan terpenting di Indonesia.
Rumah sakit ini berkembang sebagai pusat rujukan nasional, rumah sakit pendidikan dan pusat layanan kesehatan modern
Warisan Hasan Sadikin tidak hanya berupa nama, tetapi juga sistem dan nilai yang terus dijalankan hingga kini.
Lebih dari Sekadar Nama
Kisah Hasan Sadikin adalah gambaran tentang dedikasi yang utuh—menggabungkan praktik medis, pendidikan, dan kepemimpinan dalam satu jalan pengabdian.
Di tengah perkembangan dunia kesehatan yang semakin kompleks, sosoknya menjadi pengingat bahwa inti dari profesi dokter tetaplah sama: melayani, mendidik, dan mengabdi.
Editor : Kabun Triyatno