RADARSOLO.COM — Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia medis pada masanya, nama Sulianti Saroso hadir sebagai pengecualian. Ia bukan hanya dokter, tetapi juga pelopor kesehatan masyarakat yang berdiri di garis depan dalam menghadapi berbagai wabah penyakit di Indonesia.
Lahir pada 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali, Sulianti tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai pendidikan dan pengabdian. Ia kemudian menempuh pendidikan kedokteran dan memilih jalur yang tidak biasa, yaitu fokus pada kesehatan masyarakat dan penyakit menular—bidang yang kala itu penuh tantangan dan risiko.
Memilih Jalan Sunyi Kesehatan Masyarakat
Berbeda dengan banyak dokter yang menekuni praktik klinis, Sulianti Saroso justru menaruh perhatian besar pada pencegahan penyakit. Ia percaya, kesehatan masyarakat tidak cukup hanya dengan mengobati, tetapi harus dimulai dari sistem yang kuat, edukasi, dan penanganan wabah secara terorganisir.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 3): Moewardi, Dokter Pejuang yang Gugur di Tengah Revolusi
Dalam perjalanan kariernya, ia terlibat dalam berbagai upaya penanggulangan penyakit menular, mulai dari wabah hingga program kesehatan nasional. Perannya menjadi penting dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan adalah urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab individu.
Perempuan di Garda Terdepan
Di masa ketika peran perempuan masih terbatas, Sulianti tampil sebagai sosok yang melampaui zamannya. Ia aktif dalam organisasi kesehatan, terlibat dalam kebijakan publik, dan menjadi bagian dari pengambil keputusan di bidang kesehatan.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 2): Sardjito, Dokter Pendidik yang Membangun Fondasi Kesehatan Bangsa
Dedikasinya menjadikannya salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah kesehatan Indonesia. Ia tidak hanya membuka jalan bagi generasi dokter perempuan berikutnya, tetapi juga membuktikan bahwa kompetensi dan integritas melampaui batas gender.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Mengobati
Kontribusi terbesar Sulianti Saroso terletak pada upayanya membangun sistem kesehatan masyarakat. Ia terlibat dalam pengembangan program pencegahan penyakit, penguatan surveilans, serta edukasi masyarakat dalam menghadapi ancaman wabah.
Pendekatan ini terbukti relevan hingga kini, ketika dunia kembali dihadapkan pada berbagai tantangan kesehatan global. Pemikirannya tentang pentingnya kesiapsiagaan dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi yang terus digunakan.
Warisan yang Terus Hidup
Sulianti Saroso wafat pada 1991. Namun jejak pengabdiannya tetap terasa hingga hari ini.
Namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso—rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi.
Di tempat ini, semangat yang ia tanamkan terus hidup: menghadapi penyakit bukan hanya dengan pengobatan, tetapi juga dengan ilmu, sistem, dan kepedulian terhadap masyarakat luas.
Lebih dari Sekadar Dokter
Kisah Sulianti Saroso adalah tentang keberanian memilih jalan yang tidak mudah. Ia berdiri di garis depan, menghadapi wabah, sekaligus membangun fondasi kesehatan masyarakat Indonesia.
Di tengah dunia yang terus berubah, sosoknya menjadi pengingat bahwa pencegahan, edukasi, dan keberanian mengambil peran adalah kunci menjaga kesehatan bangsa. (*)
Editor : Kabun Triyatno