‎RASOHISTORI, 9 April 1946: Hari Penentu yang Mengubah Sejarah Penerbangan Indonesia ‎

Niko auglandy • Dipublikasikan Kamis, 9 April 2026 | 19:23 WIB
Pesawat tempur dan para penerbang TNI AU bersiap untuk tampil dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer pada Minggu (10/8) mendatang. (TNI AU)
Pesawat tempur dan para penerbang TNI AU bersiap untuk tampil dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer pada Minggu (10/8) mendatang. (TNI AU)


RADARSOLO.COM - ‎Peringatan Hari Penerbangan Nasional setiap 27 Oktober tak bisa dilepaskan dari momen bersejarah penerbangan pertama pesawat berbendera Merah Putih oleh Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945 di Yogyakarta. Peristiwa itu menjadi simbol awal kemandirian dirgantara Indonesia.

Namun, jauh sebelum peringatan tersebut ditetapkan, ada satu momen penting lain yang tak kalah bersejarah. Tepat pada 9 April 1946, pemerintah Indonesia mengambil langkah krusial dalam membangun kekuatan udara nasional.

Dilansir dari buku "Sejarah revolusi Indonesia 1945-1950, perjuangan bersejarah &diplomasi untuk mempertahankan Kemerdekaan" karya Garda Maeswara, berdasarkan Surat Ketetapan Pemerintah Nomor 6/SD Tahun 1946, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan secara resmi disahkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI-AU). Kebijakan ini menandai lahirnya institusi angkatan udara Indonesia secara formal.

Baca Juga: ‎Lamine Yamal Murka! Chant Islamofobia dari Suporter Spanyol ke Pemain Mesir Picu Kecaman Keras

Dalam keputusan tersebut, Suryadi Suryadarma yang berpangkat Komodor Udara ditunjuk sebagai Kepala Staf. Sementara itu, posisi Wakil Kepala Staf dipercayakan kepada R. Sukarmen Martokusumo.

Meski demikian, pembentukan TRI-AU sejatinya lebih bersifat peresmian. Sebab, embrio kekuatan udara Indonesia sudah ada sejak berdirinya TKR pada 5 Oktober 1945 melalui Jawatan Penerbangan.

Ketika TKR kemudian bertransformasi menjadi TRI pada 25 Januari 1946, Jawatan Penerbangan ikut menyesuaikan struktur organisasi. Hingga akhirnya, melalui SK pada 9 April 1946 tersebut, eksistensinya dipertegas sebagai angkatan udara resmi.

Momentum ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan kekuatan dirgantara Indonesia di masa awal kemerdekaan. Dari sinilah langkah besar Angkatan Udara Republik Indonesia dimulai, termasuk berbagai kegiatan latihan militer seperti penerjunan pasukan payung di Lapangan Maguwoharjo yang kala itu menarik perhatian masyarakat luas.

Baca Juga: Jadwal Perjalanan Ibadah Haji 2026 Lengkap: Cek Tanggal Mulai Pemberangkatan hingga Pemulangan Jemaah Sampai Tanah Air

Peristiwa 9 April 1946 menjadi salah satu tonggak sejarah yang memperkuat perjalanan panjang dunia penerbangan Indonesia—menuju kedaulatan di udara.

‎Berdasarkan catatan yang dihimpun oleh Universitas Tarumanegara, sejarah TNI AU berawal dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945. Saat itu, BKR dibentuk sebagai langkah awal memperkuat pertahanan, termasuk di sektor udara yang masih minim pesawat dan fasilitas.

Perkembangan organisasi terus berlangsung. Pada 5 Oktober 1945, BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan. Lembaga ini berada di bawah kepemimpinan Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma, sosok penting dalam sejarah kedirgantaraan Indonesia.

‎Tak berhenti di situ, pada 23 Januari 1946, TKR Jawatan Penerbangan kembali berubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) Jawatan Penerbangan. Transformasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur militer nasional di masa awal kemerdekaan.

Puncaknya, pada 9 April 1946, TRI Jawatan Penerbangan resmi ditingkatkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Sejak saat itu, kekuatan udara Indonesia berdiri sejajar dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut sebagai pilar pertahanan negara.

Seiring perjalanan waktu, TNI AU terus berkembang menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia. Tak hanya berperan dalam pertahanan, TNI AU juga aktif dalam misi kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga mendukung pembangunan nasional.

Baca Juga: Eks Timnas Sempat Absen Lawan PSS Sleman, Kini Siap Dimainkan Kendal Tornado FC vs Persiku Kudus ‎ ‎

Dengan latihan yang intensif, penguasaan teknologi, serta dedikasi tinggi prajuritnya, TNI AU terus beradaptasi menghadapi tantangan zaman.

 Semangat Bhinneka Tunggal Ika pun menjadi kekuatan utama, menyatukan prajurit dari berbagai latar belakang untuk satu tujuan: menjaga langit Indonesia tetap aman.

‎Peringatan HUT TNI AU setiap 9 April pun menjadi momentum refleksi—menghargai jasa para pendahulu sekaligus memperkuat komitmen menjaga kedaulatan negara di masa depan. (nik) 


Editor : Niko auglandy
solohistori penerbangan tni au angkatan udara