RADARSOLO.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat merespons ancaman kelangkaan dan lonjakan harga plastik yang kian mencekik pelaku usaha. Di bawah komando Gubernur Ahmad Luthfi, Pemprov Jateng tidak hanya memperketat pengawasan lapangan untuk menyikat oknum penimbun, tetapi juga mulai memaksa transisi besar-besaran ke bioplastik yang lebih ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah July Emmylia mengungkapkan, badai harga ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Konflik tersebut mengganggu pasokan naphta dunia, yang merupakan bahan baku utama plastik.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Plastik Meroket, Belum Ada Gelombang PHK Buruh Pabrik Di Sukoharjo
“Harga naphta melonjak drastis dari 600 dolar AS menjadi 900 dolar AS per ton. Kenaikan di hulu ini otomatis memicu efek domino di daerah, terutama bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) sektor makanan dan minuman yang bergantung penuh pada kemasan plastik,” ujar Emmy saat ditemui di kantornya, Jumat (10/4).
Menanggapi situasi darurat ini, Pemprov Jateng telah menyiapkan dua langkah strategis. Untuk jangka pendek, Disperindag bakal menggandeng kepolisian guna memonitor rantai distribusi. Tujuannya satu: memastikan tidak ada spekulan yang bermain dengan menimbun stok plastik.
“Kami akan turun ke lapangan bersama kepolisian untuk mencegah penimbunan. Selain itu, gerakan pengurangan plastik sekali pakai, seperti penggunaan tumbler dan tas belanja reusable, akan kami masifkan kembali sebagai solusi instan menekan permintaan,” tegas Emmy.
Bukan sekadar memadamkan api, Pemprov Jateng juga menyiapkan peta jalan jangka menengah dengan mendorong penggunaan bioplastik berbahan pati singkong. Meski secara harga lebih mahal dibanding plastik petrokimia, substitusi bertahap sebesar 20 hingga 30 persen dinilai menjadi langkah krusial untuk lepas dari ketergantungan impor bahan baku.
Baca Juga: Kedai Kopi Di Solo Terdampak Kenaikan Harga Plastik, Sarankan Pembeli Bawa Tumbler
Guna menyeimbangkan biaya produksi yang membengkak akibat bahan ramah lingkungan, Pemprov mendorong transformasi menuju Green Industry (industri hijau). Salah satunya adalah adopsi energi terbarukan seperti panel surya.
“Penggunaan panel surya mampu menekan biaya operasional hingga 20 persen. Penghematan energi ini menjadi kunci untuk menutup kenaikan biaya bahan baku. Kesulitan saat ini justru harus menjadi momentum emas bagi IKM maupun industri besar untuk bertransformasi,” lanjutnya.
Emmy mengimbau masyarakat dan pelaku UMKM untuk mulai beradaptasi. Menurutnya, ketergantungan pada plastik konvensional kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman ekonomi nyata yang harus dijawab dengan inovasi bahan ramah lingkungan. (*)
Editor : Kabun Triyatno