RADARSOLO.COM – Label Destinasi Wisata Super Prioritas yang disandang Labuan Bajo tercoreng aksi premanisme jalanan. Donatus Darso, seorang pengemudi ojek online (ojol), menjadi sasaran amuk massa saat mencoba menjemput wisatawan mancanegara di kawasan Bandara Internasional Komodo, Manggarai Barat.
Aksi pengeroyokan yang terjadi di depan mata turis asal Eropa ini memicu kekhawatiran besar akan keamanan pekerja transportasi digital di gerbang utama pariwisata NTT tersebut.
Baca Juga: Fakta Terbaru Dugaan Pelecehan Grup Chat Mahasiswa Teknik IPB, Bagaimana Hasil Investigasi Kampus?
Peristiwa bermula saat Donatus hendak menjemput penumpangnya. Menyadari adanya "zona merah" atau aturan tidak tertulis soal penjemputan di area bandara, Donatus telah meminta sang turis untuk berjalan menjauh dari pintu keluar.
Namun, kehati-hatian itu tidak cukup. Saat penumpang hendak naik, sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 7 hingga 9 orang tiba-tiba menyerbu. Tanpa ampun, mereka membentak sang turis dan mulai menghujani Donatus dengan pukulan.
“Saya dipukul dan ditendang sampai jatuh di tengah aspal. Untung saat itu tidak ada mobil lewat. Saya sempat berusaha bangun dan naik motor lagi, tapi mereka terus memukul,” ungkap Donatus dengan nada trauma, Kamis (16/4).
Akibat aksi brutal tersebut, Donatus mengalami luka-luka dan trauma psikologis berat. Ia mengaku takut kembali ke jalanan dan telah berhenti menarik penumpang selama dua hari terakhir.
Insiden ini menuai kecaman keras dari komunitas pengemudi online. Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menegaskan bahwa aksi "main hakim sendiri" ini sangat kontradiktif dengan upaya pemerintah membangun citra kondusif Labuan Bajo.
"Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi. Sebagai tempat wisata dunia, tindakan provokasi dan pengeroyokan seperti ini memalukan dan harus dihentikan," tegas Leonardus. Ia mendesak pihak berwajib untuk memberikan efek jera agar intimidasi di area publik tidak terus berulang.
Merespons laporan korban, Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Saat ini, tim penyidik tengah dikerahkan untuk menyisir identitas para pelaku pengeroyokan tersebut.
“Kami sudah menerima laporannya. Saat ini tim penyidik tengah melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi para pelaku,” tegas Christian.
Kasus ini kembali memicu perdebatan publik mengenai kebebasan bekerja bagi transportasi online di fasilitas publik seperti bandara, yang seringkali menjadi titik konflik dengan kelompok transportasi lokal. (*)
Editor : Kabun Triyatno