Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Seperti Apa Lirik Lagu Erika ITB Sebenarnya? Pramono Anung Ungkap Mars HMT Dulu Simbol Perlawanan, Kini Viral Dinilai Pelecehan

Syahaamah Fikria • Minggu, 19 April 2026 | 16:51 WIB
Viral lirik lagu Erika milik HMT ITB dinilai bentuk pelecehan (kiri). Pernyataan sikap dan permintaan maaf HMT ITB (kanan).
Viral lirik lagu Erika milik HMT ITB dinilai bentuk pelecehan (kiri). Pernyataan sikap dan permintaan maaf HMT ITB (kanan).

 RADARSOLO.COM – Kontroversi lagu "Erika" yang dibawakan oleh mahasiswa Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB) terus bergulir. 

Setelah viral karena liriknya yang bermuatan pelecehan seksual, kini muncul fakta baru mengenai sejarah lagu tersebut.

Mantan Ketua HMT ITB yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, angkat bicara. 

Ia menegaskan bahwa lirik lagu "Erika" yang beredar saat ini telah mengalami distorsi makna dari tujuan aslinya di masa lalu.

Baca Juga: Viral Erika ITB Diciptakan Siapa? Fakta dan Sejarah di Balik Mars Mahasiswa Tambang yang Tuai Kecaman karena Lirik Pelecehan

Dari Kritik Orde Baru ke Konten Asusila

Dalam acara halal bihalal bersama Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB di Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026), Pramono menceritakan pengalamannya saat aktif di unit Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT ITB pada era 1980-an. 

Sebagai alumni Teknik Pertambangan, ia mengaku hafal luar kepala lagu tersebut, namun dengan syair yang berbeda.

"Saya pernah menyanyikan lagu Erika. Tapi, syair dan liriknya berbeda karena pada waktu itu lagu Erika ini terkenal, dan itu bagian bentuk perlawanan mahasiswa ITB kepada rezim," papar Pramono.

Baca Juga: Fakta Terbaru Dugaan Pelecehan Grup Chat Mahasiswa Teknik IPB, Bagaimana Hasil Investigasi Kampus?

Dia menjelaskan, pada masanya, penampilan lagu "Erika" biasanya disisipkan dengan materi kritik politik. 

Bahkan, kerap ada mahasiswa yang berpidato menirukan suara Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai bentuk sarkasme terhadap pemerintah. 

"Dulu lirinya tidak seperti itu. Bahkan, saya masih hafal," kata dia.

Dia pun merasa prihatin melihat lirik tersebut kini justru berubah menjadi kata-kata yang merendahkan martabat perempuan.

"Dulu pada waktu itu selalu kelebihannya mahasiswa tambang ITB nyanyi Erika, pidatonya pidato pak Harto, yang ditirukan oleh mahasiswa tambang ITB karena bagian dari perlawanan melawan rezim yang sangat otoriter," lanjut Pranomo.

Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan

Merespons gaduhnya polemik ini, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. 

Ia memastikan pihak kampus tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual verbal di lingkungan akademik.

Baca Juga: Cara Pantau Bansos April 2026 di cekbansos.kemensos.go.id, PKH-BPNT Tahap 2 Sudah Masuk Rekening atau Belum?

"Kami menyikapi permasalahan ini dengan sangat serius. Kami telah melakukan rapat maraton dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) serta bertemu dengan Keluarga Mahasiswa ITB untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali," tegas Tatacipta melalui unggahan resmi ITB.

Pihak rektorat juga berkomitmen meningkatkan awareness mengenai norma kesusilaan dan etika di ruang publik kepada seluruh mahasiswa agar lingkungan belajar tetap aman dan nyaman.

HMT ITB Akui Kelalaian dalam 'Tradisi'

Secara terpisah, Himpunan Mahasiswa Tambang ITB juga telah melayangkan surat permohonan maaf. 

Mereka mengakui bahwa lagu "Erika" memang dibuat pada tahun 1980-an, namun tetap menyanyikannya di era sekarang tanpa penyesuaian norma sosial adalah sebuah kesalahan fatal.

"Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," tulis Himpunan Mahasiswa Tambang ITB dalam pernyataan resminya.

Sebagai langkah konkret, HMT ITB telah melakukan tindakan 
take down konten dengan meminta semua pihak menurunkan video dan audio "Erika" dari berbagai platform digital.

Mereka juga akan melakukan evaluasi internal dengan meninjau kembali seluruh konten kegiatan organisasi agar selaras dengan etika kampus.

"HMT ITB dengan tegas menyatakan bahwa kami tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun," lanjut mereka.

Editor : Syahaamah Fikria
#HMT ITB #viral #lagu #eric #pramono anung