RADARSOLO.COM – Fenomena astronomi memukau, hujan meteor Lyrids akan menghiasi langit Indonesia pada malam ini hingga esok hari.
Hujan meteor yang dikenal sebagai salah satu peristiwa langit tertua dalam sejarah manusia, akan mencapai puncaknya pada periode 22-23 April 2026.
Bagi para pecinta langit dan pemburu bintang, momen ini menjadi peluang langka untuk menyaksikan kilatan cahaya dari puing-puing komet kuno.
Meteor Lyrids memiliki sejarah panjang yang luar biasa.
Berdasarkan catatan NASA, fenomena ini pertama kali diamati oleh para astronom di China pada tahun 687 SM.
Artinya, manusia telah mengagumi tarian cahaya ini selama lebih dari 2.700 tahun.
Pada puncaknya tahun ini, pengamat di Indonesia berpotensi melihat 10 hingga 20 meteor per jam yang melesat cepat dan terang di angkasa.
Jadwal dan Waktu Puncak di Wilayah Indonesia
Bagi Anda yang berada di wilayah Indonesia, hujan meteor ini sebenarnya sudah aktif sejak 16 April dan akan berakhir pada 25 April mendatang.
Namun, malam ini hingga dini hari esok adalah fase paling ideal karena aktivitas meteor berada di titik tertinggi.
Berikut adalah rincian waktu pengamatan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (WIB):
Awal Pengamatan: Mulai pukul 22.10 WIB, saat titik radian (titik asal meteor) mulai terbit di ufuk timur.
Waktu Keemasan (Golden Time): Pukul 02.00 WIB hingga 04.00 WIB. Pada jam ini, titik radian berada di posisi tertinggi di langit, sehingga peluang melihat meteor melintas jauh lebih besar.
Akhir Fenomena: Menjelang fajar, sekitar pukul 05.29 WIB, saat cahaya matahari mulai memudarkan pijar meteor.
Kabar baiknya, kondisi langit tahun ini tergolong mendukung.
Fase Bulan yang berada pada kuartal pertama diprediksi tidak akan memancarkan cahaya yang terlalu terang, sehingga langit tetap cukup gelap untuk memperjelas penampakan meteor.
Cara Terbaik Menyaksikan Hujan Meteor Lyrids
Untuk mendapatkan pengalaman visual maksimal, para ahli menyarankan beberapa teknik pengamatan sederhana namun efektif:
1. Cari Lokasi Minim Polusi Cahaya
Pergilah ke area terbuka yang jauh dari lampu perkotaan, seperti pantai, dataran tinggi, atau pedesaan.
2. Adaptasi Mata
Berikan waktu sekitar 20 hingga 30 menit agar mata Anda terbiasa dengan kegelapan. Hindari melihat layar ponsel selama proses ini agar pupil mata tetap melebar.
3. Posisi Berbaring
Gunakan tikar atau kursi santai untuk berbaring. Pandangan luas ke langit akan memudahkan untuk menangkap kilatan meteor yang muncul secara tiba-tiba.
4. Arah Pandangan
Jangan menatap langsung ke arah rasi bintang Lyra (titik asal meteor).
Sebaiknya arahkan mata sekitar 30 hingga 40 derajat dari titik tersebut agar meteor yang melesat dengan ekor panjang lebih mudah tertangkap mata.
Mengenal Asal-Usul Lyrids
Kilatan cahaya yang kita lihat sebenarnya adalah partikel debu luar angkasa yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan ekstrem.
Gesekan hebat dengan lapisan atmosfer menciptakan panas luar biasa hingga partikel tersebut terbakar dan menghasilkan pijar cahaya.
Dalam fenomena Lyrids, Bumi sedang melintasi jejak debu yang ditinggalkan oleh komet C/1861 G1 Thatcher.
Meski tampak sangat dekat, jejak komet ini sebenarnya berada di orbitnya sendiri dan Bumi hanya "numpang lewat" di sisa-sisa materialnya setiap tahun pada bulan April.
Malam ini adalah waktu yang tepat untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kota dan menengadah ke langit.
Jika cuaca cerah, fenomena Lyrids 2026 akan menjadi pertunjukan alam yang tak terlupakan.
Editor : Syahaamah Fikria