RADARSOLO.COM – Langit malam Indonesia bersiap menyambut salah satu pertunjukan kosmik tertua dalam sejarah peradaban manusia, hujan meteor Lyrids.
Puncak hujan meteor Lyrids ini dijadwalkan mencapai intensitas tertingginya pada dini hari nanti, Kamis, 23 April 2026.
Fenomena ini menjadi momen yang paling dinantikan bagi para pengamat langit karena menawarkan pemandangan meteor yang dikenal cerah dan berkecepatan tinggi.
Berasal dari puing-puing komet C/1861 G1 Thatcher, hujan meteor ini telah didokumentasikan oleh para astronom Tiongkok sejak tahun 687 Sebelum Masehi.
Dengan sejarah pengamatan selama 2.700 tahun, Lyrids bukan sekadar fenomena tahunan, melainkan warisan astronomi yang terus memukau dunia.
Waktu Keemasan Pengamatan di Indonesia
Meski Lyrids sudah aktif sejak pertengahan April, periode dini hari nanti adalah waktu paling ideal karena Bumi tengah melintasi bagian terpadat dari jalur debu komet Thatcher.
Berikut adalah jadwal waktu terbaik menyaksikan hujan meteor Lyrids:
Pukul 22.10 WIB: Titik radian (titik asal meteor) mulai muncul di ufuk timur.
Pukul 02.00 – 04.00 WIB (Golden Time): Ini adalah waktu terbaik. Posisi titik radian berada di titik tertinggi, memungkinkan meteor terlihat lebih jelas dan banyak.
Pukul 05.29 WIB: Fenomena berakhir seiring munculnya cahaya fajar yang membiaskan pijar meteor.
Kondisi tahun ini diprediksi sangat mendukung karena Bulan berada pada fase kuartal pertama.
Minimnya cahaya Bulan akan membuat langit tetap gelap, sehingga kilatan meteor redup pun tetap berpeluang terlihat oleh mata telanjang.
Cara Menyaksikan Hujan Meteor Lyrids Secara Maksimal
Untuk mendapatkan pengalaman visual terbaik, NASA dan para ahli astronomi menyarankan beberapa langkah praktis berikut ini:
1. Cari Lokasi Langit Gelap
Polusi cahaya adalah musuh utama pengamatan meteor.
Hindari pusat kota dan carilah area terbuka seperti pinggiran kota, pantai, atau dataran tinggi yang minim lampu jalan dan gedung.
2. Sabar Menunggu Adaptasi Mata
Jangan langsung menyerah jika belum melihat kilatan dalam menit pertama.
Mata manusia memerlukan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk beradaptasi sepenuhnya dengan kegelapan.
Hindari melihat layar ponsel selama proses ini agar kemampuan sensorik mata tetap tajam.
3. Posisi Berbaring Telentang
Alih-alih menatap satu titik, posisi terbaik adalah berbaring telentang dengan kaki menghadap ke arah Timur.
Cara ini memberikan sudut pandang langit yang paling luas.
Meteor Lyrids melesat dengan kecepatan sekitar 47 kilometer per detik, sehingga pandangan luas sangat diperlukan untuk menangkap kilatannya.
4. Waspadai Bola Api (Fireballs)
Meskipun secara rata-rata Lyrids menghasilkan 10 hingga 20 meteor per jam, fenomena ini kadang mengejutkan dengan kemunculan fireballs.
Ini adalah kilatan cahaya yang sangat terang dan besar yang tercipta dari serpihan komet yang lebih masif.
Tak Membutuhkan Alat Bantu
Satu hal yang menarik dari hujan meteor Lyrids adalah kemudahannya untuk dinikmati.
Anda tidak memerlukan teleskop atau teropong mahal. Peralatan tersebut justru akan membatasi bidang pandang.
Cukup siapkan selimut atau kursi lipat, jaket tebal untuk menghalau dinginnya dini hari, dan kesabaran untuk menanti keajaiban di langit malam.
Editor : Syahaamah Fikria