‎RASOHISTORI, 24 April 1946: Baru Merdeka, Indonesia Sudah Urus Tawanan Perang Dunia II, Ini Kisahnya!

Niko auglandy • Dipublikasikan Jumat, 24 April 2026 | 19:23 WIB
Para tawanan APWI yang akan diberangkatkan lewat jalur kereta api.  (DOK. KEMENDIKDASMEN)
‎
Para tawanan APWI yang akan diberangkatkan lewat jalur kereta api.  (DOK. KEMENDIKDASMEN) ‎

RADARSOLO.COM - Catatan menarik terekam dalam buku "Sejarah Revolusi Indonesia 1945–1950, Perjuangan Bersenjata & Diplomasi untuk Mempertahankan Kemerdekaan" karya Garda Maeswara mengulas dinamika awal kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 24 April 1946, hanya beberapa bulan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

‎Pada tanggal 24 April 1946, berlangsung pengangkutan pertama bekas tawanan perang dan interniran Sekutu yang dikenal sebagai APWI (Allied Prisoners of War and Internees). Mereka sebelumnya ditahan oleh Jepang selama masa Perang Dunia II.

‎Para tawanan APWI dipindahkan dari wilayah Republik menuju Jakarta melalui jalur kereta api. Proses pemindahan ini bukan tanpa pengawalan. Saat itu, pengamanan dilakukan oleh Tentara Republik Indonesia (TRI), cikal bakal TNI.

‎Pengangkutan ini menjadi bagian dari proses transisi pascaperang, sekaligus menunjukkan peran aktif pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas dan hubungan internasional di masa awal kemerdekaan.

Baca Juga: ‎Lamine Yamal Murka! Chant Islamofobia dari Suporter Spanyol ke Pemain Mesir Picu Kecaman Keras

‎Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa, di tengah situasi yang masih belum stabil, Republik Indonesia mulai menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola urusan kemanusiaan dan diplomasi di panggung global.

‎Sementara itu, sebuah diorama di Museum Benteng Vredeburg merekam salah satu momen penting di awal masa kemerdekaan Indonesia.

‎Dlansir dari penjelasan di website resmi Benteng Vredeburg, dijelaskan bahwa diorama tersebut menggambarkan proses pengangkutan eks tawanan perang Belanda dan Jepang dari Yogyakarta menuju Jakarta pada 28 April 1946.

‎Peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian sejarah pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga menjelang pecahnya Agresi Militer Belanda I.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Drama Korea Terbaru April 2026: Ada IU, Byeon Woo Seok, Kim Go Eun hingga Ahn Hyo Seop

‎Saat itu, situasi Indonesia masih belum stabil. Pasukan Sekutu melalui Allied Forces Netherlands East Indies yang dipimpin Letjen Philip Christison mulai mendarat di Jakarta pada 29 September 1945. Mereka bertugas melucuti tentara Jepang, mengevakuasi tawanan perang (APWI), serta mengambil alih wilayah yang sebelumnya diduduki Jepang.

‎Namun, kehadiran Sekutu yang hanya mengakui kedaulatan Belanda memicu berbagai konflik bersenjata dengan pejuang Republik Indonesia di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.

‎Setelah serangkaian pertempuran, dilakukan perundingan pada 1–2 April 1946 yang menghasilkan kesepakatan penting bernama The Yogya Agreement. Dalam perjanjian ini, disepakati bahwa proses pelucutan dan pemulangan tentara Jepang di wilayah Republik akan dilakukan oleh Tentara Republik Indonesia (TRI), sementara di wilayah pendudukan Sekutu ditangani oleh pihak Sekutu.

Baca Juga: Hilang Kontak saat Hendak Servis Mobil, Remaja Asal Pamekasan Ditemukan Meninggal di Ceper Klaten

‎Sebagai tindak lanjut, pemerintah RI membentuk panitia khusus bernama POPDA (Panitia Oentoek Pengembalian bangsa Djepang dan Asing) di bawah pimpinan Mayjen Sudibyo dan Mayjen Abdul Kadir.

‎Pengangkutan pertama tawanan dilakukan pada 24 April 1946. Puncaknya, pada 28 April 1946, sekitar 550 tawanan Belanda dan Jepang diberangkatkan menggunakan kereta api dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Manggarai.

‎Pengawalan dilakukan oleh Kompi Widodo dari TRI. Proses ini berlangsung lancar tanpa insiden, sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam menjalankan kewajiban internasional di tengah situasi yang masih genting.

‎Tak hanya melalui jalur darat, pengangkutan juga dilakukan lewat udara menggunakan pesawat Dakota milik Sekutu dari Lapangan Panasan di Solo.

(DOK. KEMENDIKDASMEN)
‎
(DOK. KEMENDIKDASMEN) ‎

‎Peristiwa ini menjadi simbol bahwa di tengah konflik dan tekanan internasional, Indonesia tetap menunjukkan sikap kooperatif dan bertanggung jawab di mata dunia. (nik)

Editor : Niko auglandy
rasohistori kemerdekaan jepang indonesia