RADARSOLO.COM–Pemprov Jateng menempatkan regenerasi petani dan inovasi teknologi sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional.
Melalui Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial yang digelar di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jumat (24/4/2026), pemerintah menegaskan komitmennya untuk mengubah wajah sektor pertanian menjadi lebih modern dan menarik bagi generasi muda.
Baca Juga: Pemprov Jateng Gelontorkan Rp33,2 Miliar untuk TMMD 2026, Sekda Sumarno: Pembangunan Mulai dari Desa
Langkah ini diambil guna menjawab tantangan demografi petani yang saat ini masih didominasi oleh kelompok usia senior.
Regenerasi dan Adaptasi Teknologi
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sumarno yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi 630 ribu petani milenial yang kini aktif di Jawa Tengah.
Kehadiran mereka dinilai sangat krusial karena memiliki adaptivitas tinggi terhadap teknologi yang mampu mendorong efisiensi produksi.
Sumarno menekankan bahwa regenerasi bukan sekadar pergantian tenaga kerja, melainkan perubahan paradigma pertanian menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di lapangan. Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong anak-anak muda untuk mau bertani,” ujar Sumarno saat memberikan arahan.
Ia menambahkan, dengan SDM baru, masa depan pangan Jawa Tengah akan lebih terjamin.
“Regenerasi ini menjadi kunci. Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif,” imbuhnya.
Perlindungan Lahan dan Target Swasembada
Baca Juga: Pemprov Jateng Gelar Lomba Artikel Mahasiswa Berhadiah Belasan Juta, Berikut Ketentuannya
Selain penguatan SDM, Pemprov Jateng juga sedang memperkuat aspek regulasi melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk melindungi lahan pertanian dari alih fungsi lahan.
Kebijakan ini akan memastikan kawasan pertanian yang sudah ditetapkan terlindungi secara ketat agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga.
“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi. Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga,” jelas Sumarno.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares memaparkan data optimisme swasembada pangan tahun 2026.
Baca Juga: Pemprov Jateng Gelontorkan Rp33,2 Miliar untuk TMMD 2026, Sekda Sumarno: Pembangunan Mulai dari Desa
Target luas tanam padi tahun ini ditetapkan mencapai 2,38 juta hektare, dengan realisasi harian penambahan tanam mencapai 7.000 hingga 8.000 hektare.
Hingga Mei 2026, produksi padi diproyeksikan menyentuh angka 4,69 juta ton gabah kering giling.
"Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare," ujar Defransisco. Strategi inovasi seperti pola "sepur" atau sistem percepatan tanam berkelanjutan juga mulai diterapkan untuk mengoptimalkan lahan. "Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah," pungkasnya.
Mengubah Stigma Pertanian
Ketua Umum Petani Milenial Rayndra Syahdan Mahmudin menyampaikan bahwa apel ini diikuti oleh 300 penyuluh serta 300 Duta Petani Milenial dari 17 kabupaten/kota.
Fokus utama mereka saat ini adalah menghapus citra negatif profesi petani di mata pemuda. Jaringan petani muda yang kini hampir mencapai 35 ribu orang sejak 2019 terus bergerak untuk membuktikan bahwa pertanian adalah profesi yang keren dan menjanjikan secara finansial.
"Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor, kucel, kumuh, tidak keren gitu ya. Lah itulah upaya kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu," ucap Rayndra.
Baca Juga: Jaga Budaya Jawa Tengah, Sekda Sumarno Dorong Peran Aktif Masyarakat dan Generasi Muda
Melalui kolaborasi kuat antara penyuluh dan petani muda, Jawa Tengah diharapkan terus menjadi lumbung pangan utama yang berkontribusi hingga 63,9 persen terhadap produksi bawang putih nasional serta komoditas strategis lainnya seperti cabai, bawang merah, dan daging sapi. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono