RADARSOLO.COM – Insiden maut yang melibatkan rangkaian KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) menyisakan duka mendalam.
Kecelakaan berantai yang diduga dipicu oleh satu unit taksi listrik yang terjebak di perlintasan Bulak Kapal ini membuat nama Green SM menjadi sorotan tajam publik.
Banyak masyarakat yang kemudian mempertanyakan, dari mana asal perusahaan taksi berwarna hijau toska ini dan siapa sosok di baliknya?
Gurita Bisnis Miliarder Pertama Vietnam
Green SM (sebelumnya bernama Xanh SM di negara asalnya) merupakan bagian dari imperium bisnis Vingroup, konglomerat terbesar di Vietnam.
Pemilik sekaligus pendiri perusahaan ini adalah Pham Nhat Vuong, seorang taipan properti yang tercatat sebagai miliarder pertama Vietnam dalam denominasi dolar AS.
Berdasarkan data Forbes per April 2026, kekayaan bersih Vuong diperkirakan menyentuh angka USD24 hingga 27 miliar.
Kiprah bisnisnya sangat legendaris, dimulai dari berjualan mi instan di Ukraina pada era 1990-an sebelum akhirnya kembali ke Vietnam untuk membangun raksasa properti dan teknologi.
Di bawah bendera GSM (Green and Smart Mobility) yang diluncurkan pada Maret 2023, Vuong membawa ambisi besar untuk mendominasi pasar transportasi ramah lingkungan secara global, termasuk Indonesia.
Ekspansi Agresif Green SM di Indonesia
Green SM resmi menginjakkan kaki di pasar Indonesia pada Desember 2024.
Perusahaan ini mengandalkan armada mobil listrik murni buatan VinFast, yang juga merupakan perusahaan otomotif milik Pham Nhat Vuong.
Wilayah Operasi: Saat ini telah menjangkau wilayah Jabodetabek, termasuk layanan khusus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Visi Perusahaan: Menghadirkan layanan transportasi cerdas, bebas kebisingan mesin, dan tanpa emisi gas buang untuk mendukung kelestarian lingkungan.
Skala Investasi: Secara global, GSM menginvestasikan puluhan ribu unit kendaraan listrik untuk menantang dominasi pemain transportasi konvensional.
Respons Green SM Disorot Publik
Menanggapi keterlibatan armadanya dalam tragedi di perlintasan Bekasi Timur, pihak Green SM Indonesia melalui akun resmi Instagram-nya (@id.greensm) telah menyampaikan pernyataan resmi sebanyak dua kali.
Namun, respons manajemen Green SM Indonesia terkait kecelakaan maut di perlintasan kereta api Bekasi itu justru sempat jadi sorotan publik.
Sebab, alih-alih meredam suasana, pernyataan tertulis perusahaan yang dirilis via media sosial pada Selasa (28/4/2026) dianggap terlalu administratif dan kehilangan aspek kemanusiaan di tengah jatuhnya belasan korban jiwa.
Kekecewaan publik memuncak lantaran dalam rilis awal tersebut, pihak operator taksi listrik ini sama sekali tidak menyisipkan permohonan maaf ataupun kalimat belasungkawa.
Masyarakat mengkritik sikap perusahaan yang dinilai lebih mementingkan pembelaan prosedural ketimbang menunjukkan rasa empati kepada para keluarga yang tengah berduka.
Alih-alih menyentuh sisi moral, Green SM hanya menekankan bahwa mereka telah berkoordinasi dengan kepolisian dan tetap berpegang pada standar operasional prosedur (SOP).
Narasi "menaruh perhatian" dan "mendukung investigasi" yang digunakan perusahaan dianggap sangat hambar dan tidak sebanding dengan skala tragedi yang terjadi.
“Keselamatan katanya prioritas, tapi mobil mereka mogok di rel sampai 14 orang meninggal. Di mana kata maafnya?” komen salah seorang netizen.
Editor : Syahaamah Fikria