Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Siapa Pemilik Bus ALS? Profil PO Legendaris yang Terbakar Usai Tabrak Truk BBM di Muratara Sumsel, Tewaskan 16 Orang

Syahaamah Fikria • Rabu, 6 Mei 2026 | 21:41 WIB
Salah satu armada bus PO ALS. (Instagram @pt.antarlintassumateraofficial)
Salah satu armada bus PO ALS. (Instagram @pt.antarlintassumateraofficial)

RADARSOLO.COM – Insiden kecelakaan tragis yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan sebuah truk tangki bermuatan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, pada Rabu (6/5/2026), meninggalkan duka mendalam.

Peristiwa nahas yang merenggut 16 nyawa tersebut tidak hanya menyoroti sisi keselamatan jalan raya, tapi juga menarik perhatian publik terhadap rekam jejak PO (Perusahaan Otobus) ALS.

Sebagai salah satu armada legendaris yang membelah jalanan Sumatera hingga Jawa, nama ALS sudah tidak asing lagi bagi para perantau. 

Lantas, siapa sebenarnya pemilik di balik kebesaran nama bus ALS dan bagaimana sejarah berdirinya?

Baca Juga: Kronologi Bus ALS Tabrak Truk BBM dan Terbakar di Muratara Sumsel yang Tewaskan 16 Orang, Bagaimana Awal Mulanya?

Sejarah Pendirian dan Siapa Pemilik Bus ALS?

PO Antar Lintas Sumatera (ALS) merupakan operator transportasi umum raksasa yang berbasis di Medan, Sumatera Utara. 

Perusahaan ini resmi didirikan pada 29 September 1966 oleh Haji Sati Lubis.

Menariknya, sebelum merajai jalanan dengan armada bus penumpang, Haji Sati Lubis awalnya adalah seorang pedagang hasil bumi. 

Ia merintis usaha transportasi ini bermodalkan truk angkutan barang untuk mendistribusikan hasil pertanian. 

Seiring berjalannya waktu dan melihat tingginya lonjakan kebutuhan mobilitas masyarakat, dia kemudian mengganti armada ke bus.

Pada masa awalnya, rute yang ditawarkan masih sangat terbatas, dengan melayani trayek pulang-pergi (PP) Medan–Kotanopan dan Medan–Bukittinggi. 

Saat itu, armada yang digunakan adalah bus legendaris Chevrolet C50, yang menjadi andalan dalam menaklukkan medan berat pegunungan Sumatera.

Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat, pada tahun 1972, ALS melakukan ekspansi besar-besaran.

Yakni dengan membuka trayek ke berbagai ibu kota provinsi di Sumatera, mulai dari Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Bandar Lampung.

Baca Juga: Misteri Sosok Tasya Gym Dikaitkan Link Video Viral 15 Menit Bandar Batang, Sekadar Hoaks? Ini Penelusurannya

Ekspansi Lintas Jawa hingga Bali

Memasuki era 1980-an, sejarah baru tercipta ketika kendaraan mulai bisa menyeberang dari Sumatera ke Pulau Jawa menggunakan kapal ferry roro. 

Kesempatan ini dimanfaatkan ALS untuk membuka trayek langsung dari Medan menuju kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, hingga Surabaya.

Tak berhenti di situ, rute ALS terus memanjang hingga ke Malang dan Jember. Bahkan, PO ini akhirnya menjejakkan rodanya hingga ke Pulau Bali. 

Baca Juga: Skandal Kredit Macet Rp 1,35 Triliun: Dua Bos Sritex Dihukum 14 Tahun dan 12 Tahun Penjara

Pencapaian ini mengukuhkan ALS sebagai salah satu PO dengan rute terjauh dan terpanjang di Indonesia.

Perjalanan luar biasa tersebut membutuhkan waktu tempuh rata-rata 3 hingga 4 hari perjalanan darat, menjadikan bus ALS sebagai "rumah kedua" bagi para penumpangnya.

Meskipun terus memperbarui armada busnya dengan mesin-mesin modern seperti Mercedes-Benz dan Scania, bus kebanggaan warga Sumatera ini tetap setia mempertahankan jati dirinya. 

Hingga kini, ALS dikenal dengan livery berwarna hijau yang ikonik, identitas visual yang tetap dipertahankan melintasi generasi.

Sistem Manajemen dan Kepemilikan Unik

Saat ini, PO ALS dikelola oleh generasi kedua keluarga pendiri di bawah kepemimpinan Chandra Lubis. 

Namun, sistem operasional ALS tergolong unik dibandingkan PO lainnya.

Baca Juga: Dukung Kader PDIP Hapus Larangan Politik Linmas, Mantan Wali Kota Solo Rudy: Mereka Rakyat, Bukan ASN

Perusahaan ini menerapkan sistem kemitraan, di mana unit bus tidak sepenuhnya dimiliki oleh kantor pusat. 

Banyak armada yang beroperasi di bawah bendera ALS merupakan milik mitra atau individu yang bekerja sama. 

Kepemilikan ini biasanya dapat dikenali melalui nomor lambung tertentu yang tertera pada bodi bus.

Tragedi Maut di Muratara

Eksistensi panjang ALS kini tengah diuji dengan musibah kecelakaan di Kecamatan Karang Jaya, Muratara, yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. 

Kecelakaan ini berawal saat bus ALS yang melaju dari arah Lubuklinggau diduga berusaha menghindari jalan berlubang.

Nahas, manuver ke lajur kanan tersebut membuat bus bertabrakan dengan truk tangki BBM yang dikemudikan oleh Yanto dari arah Jambi.

"Kecelakaan tersebut memicu ledakan dan kebakaran hebat karena truk tangki membawa muatan BBM. Api dengan cepat melahap kedua kendaraan," jelas Kanit Gakkum Satlantas Polres Muratara, Aiptu Iin Shodikin. 

Kondisi diperparah karena bus ALS tersebut juga mengangkut satu unit sepeda motor di dalam bagasinya, yang membuat kobaran api semakin sulit dikendalikan.

Baca Juga: Cek Nominal BLT Dana Desa 2026, Besar Mana dengan BLT Kesra 2025 Rp900 Ribu? Ini Rinciannya

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara, tragedi ini memakan 16 korban jiwa.

Korban meninggal terdiri dari 13 penumpang bus, 1 sopir bus, serta 2 orang dari truk tangki (sopir dan penumpang/kenek). 

Selain itu, terdapat empat korban luka-luka yang berhasil selamat dan kini tengah menjalani perawatan intensif.

"Tiga orang mengalami luka bakar serius dan saat ini sedang dalam perawatan intensif, sementara satu orang lainnya mengalami luka ringan," jelas Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono.

Pihak Polda Sumatera Selatan bersama tim Traffic Accident Analysis (TAA) dan Laboratorium Forensik saat ini masih terus melakukan olah TKP guna mendalami penyebab pasti kecelakaan mengerikan tersebut.

 

Editor : Syahaamah Fikria
#bus ALS terbakar #kecelakaan #truk tangki BBM #sumatera selatan #bus als