Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Wagub Gus Yasin Dorong Pembentukan Satgas Anti-Kekerasan di Seluruh Pesantren Jawa Tengah, Demi Perlindungan Santri

Syahaamah Fikria • Minggu, 10 Mei 2026 | 20:43 WIB
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen saat hadiri forum Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah di Banjarnegara. 
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen saat hadiri forum Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah di Banjarnegara. 

RADARSOLO.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) secara masif memperkuat sistem proteksi bagi ratusan ribu santri di wilayahnya. 

Langkah konkret yang diambil adalah mendorong terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) anti-bullying serta anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh lingkungan pondok pesantren.

​Komitmen tersebut ditegaskan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam forum Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah. 

Acara bertajuk “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah” ini digelar di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, Minggu (10/5/2026).

Baca Juga: Kirab Budaya Pokdarwis se-Jateng: Wali Kota Solo Desak Kementerian Hidupkan Kembali Anugerah Desa Wisata

​Taj Yasin menjelaskan bahwa penguatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Jateng dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah.

​“Intinya adalah edukasi ke pesantren-pesantren tentang pentingnya perlindungan santri, kemudian pembentukan satgas anti-bullying dan anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak,” kata Wagub yang biasa disapa Gus Yasin tersebut.

Integrasi Layanan Kesehatan dan Psikologis

​Wagub juga menekankan, perlindungan santri tidak boleh hanya berhenti pada penanganan kasus setelah terjadi. 

Menurutnya, dibutuhkan sistem terpadu yang mencakup penguatan aspek kesehatan, pendidikan, hingga pendampingan psikis.

​Dalam praktiknya, Pemprov Jateng akan mengolaborasikan program Dokter Spesialis Keliling (Spelling) dengan agenda anjangsana pesantren milik RMI NU Jateng. 

Melalui sinergi ini, tenaga medis akan terjun langsung ke pesantren untuk memberikan pemeriksaan fisik sekaligus pendampingan dari psikolog dan psikiater.

​“Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu, kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa diakses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis,” ujarnya.

​Gus Yasin berharap pesantren dapat bertransformasi menjadi ruang aman yang memberikan perlindungan emosional serta psikologis, bukan sekadar pusat keilmuan.

Baca Juga: Tuan Rumah Forum Pokdarwis Jateng 2026, Pemkot Solo Siapkan Solo Night Experience dan Kirab Budaya

​“Kalau korban tidak berani bicara langsung, setidaknya mereka punya ruang aman untuk menyampaikan. Ini yang sedang kami siapkan,” katanya.

Beasiswa Pendidikan dan SDM Pesantren

​Selain isu keamanan, Pemprov Jateng juga fokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). 

Saat ini, tersedia program beasiswa dalam dan luar negeri yang telah menjaring lebih dari 600 pendaftar dari kalangan kiai, ustaz, hingga santri. 

Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos 2026 Terbaru: Apakah Masuk Daftar 470 Ribu KPM Baru yang Bakal Terima PKH-BPNT Tahap 2 Mei?

Program ini menggandeng 41 perguruan tinggi nasional serta akses studi ke Mesir dan Yaman.

​“Harapannya setelah selesai studi, mereka kembali khidmah ke pesantren. Ini investasi sumber daya manusia untuk masa depan pesantren Jawa Tengah,” kata Taj Yasin.

Dukungan Nasional dan Penguatan Pengasuhan

​Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, yang hadir dalam kesempatan tersebut, menyebut pesantren memiliki posisi strategis sebagai ekosistem pendidikan 24 jam. 

Ia menyatakan kesiapan Kementerian PPPA untuk mewujudkan pesantren yang ramah perempuan dan anak di Jawa Tengah.

​Ketua RMI NU Jawa Tengah, Ahmad Fadlullah Turmudzi, menambahkan bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah penguatan kapasitas musyrif dan musyrifah (pembimbing).

Mengingat ada 5.451 pondok pesantren dengan total 555 ribu santri di Jawa Tengah, beban pengasuhan memerlukan perhatian serius.

​“Pesantren membutuhkan penguatan sumber daya manusia, terutama para pendamping santri. Karena itu tahun ini kami fokus pada pelatihan musyrif-musyrifah (pembimbing) di seluruh kabupaten/kota,” katanya.

​Sebagai penutup agenda halaqah, para pengasuh pesantren mengeluarkan rekomendasi utama.

Yakni kewajiban pembentukan Satgas Perlindungan Santri (SPS) di setiap pondok pesantren guna memastikan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berlandaskan kasih sayang.

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#anti-bullying #Anti Kekerasan #Pondok Pesantrean #wagub jateng #Taj Yasin Maimoen